Dr H Masrip Sarumpaet MKes

Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan

DSC_0027Biodata

Nama                                   : Dr H Masrip Sarumpaet MKes
Tempat Tanggal lahir    : Sumatra Utara 31 Maret 1965
Alamat                                : Jalan Kapuas VI No 37 Padang Harapan Bengkulu
Agama                                 : Islam
Istri                                      : Hj Nur Arifah,SKM
Anak                                     : May I Yasya

Pendidikan

1. SDN No 152994 Poriaha
2. SMP Sw. TAPANULI
3. SMAN I SIBOLGA
4. Fak Kedokteran USU
5. S2 Administrasi & Kebijakan Kesehatan PPS USU

Karier

1. Kepala Puskesmas Batang Asai Kab Sarolangun Bangko – Prov. Jambi.
2. Kepala Puskesmas Pulau Pandan Kab Sarko – Prov. Jambi.
3. Kepala Puskesmas Limbur Tembesi Kab Sarko – Prov. Jambi.
4. Staf Upaya Rujukan & RS Bidang Desenban Kanwil Depkes Jambi
5. Staf Seksi Karantina Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Medan di Wilker Sibolga
6. Kepala Seksi Karantina & SE KKP Kelas I Medan
7. Kepala KKP Provinsi Bengkulu

Asah dan Optimalkan Kemampuan

DSC_0023Pria Kelahiran Medan, 49 tahun lalu ini mengawali karier sebagai Kepala Puskesmas Batang Asai, Sarolangun Bangko, Provinsi Jambi, dan pada saat itu masih menjadi Pegawai Tidak Tetap (PTT).
Kemudian 9 September 1999 yang sebagian besar dianggap orang sebagai hari yang menimbulkan bencana namun bebeda dengan yang dialami bapak satu orang anak ini. Ia justru di mendapat berkah dengan diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

“Pada tanggal tersebut saya menanyakan kepada istri saya, Dia menginginkan apa. Istri saya cuman ingin saya lulus PNS, dan Alhamdulillah saya lulus dihari yang sebagian orang menganggapnya sakral,” terang Masrip.

Setelah menjadi PNS, tugas pertama yang ia terima adalah sebagai staf Upaya Rujukan & RS Bidang Desenban Kanwil Depkes Jambi. Beberapa tahun kemudian ia kemudian pindah ke Kantor Kesehatan Pelabuhan Medan. Saat di Medan ia sempat melanjutkan pendidikan strata 2 di Universitas Sumatra Utara.

Selama di Medan, Masrip Sarumpaet beberapa kali pindah tugas dari wilyah satu ke wilayah lainnya yang masih di bawah KKP Medan. Saat di KKP Medan itu juga kariernya mulai meningkat, mulai dari staf hingga menjadi kepala bidang. Dan hingga saat ini dipercaya sebagai Kepala KKP III Bengkulu.

Menurut Masrip, pencapaian yang ia dapati selama 13 tahun menjadi PNS bukan merupakan hal yang instan namun perlu kerja keras dan semangat dalam bekerja. Serta ia selalu mengasah dan mengoptimalkan kemampuannya sehingga akan mendapatkan hasil yang optimal dari pekerjaan yang dilakukannya.

Ia juga selalu ikhlas dalam bekerja karena menurutnya dengan ikhlas bekerja kita akan selalu mendapat imbalan yang setimpal dan pasti akan dilihat pimpinan atas kinerja yang kita lakukan. “Karena kita langsung dibawah Kementrian Kesehatan sehingga objektifitas dalam penilaian karier masih tinggi jika dibandingkan dengan pemerintahan daerah,” terang Masrip.

Menurut Masrip, kerja keras memang sudah biasa ia lakukan sejak menunut ilmu di perguruan tinggi. Karena keadaan keluarga yang sederhana dan saudaranya banyak, sehingga harus membiayai keperluan sehari-harinya. Sedangkan untuk biaya kuliah masih dari orang tuanya. Sambil kuliah berbagai pekerjaan ia tekuni mulai dari pegawai foto copy hingga menjadi tukang jahit. “Yang penting kita mempunyai semangat hidup, dan pasti banyak jalan yang akan diberikan kepada kita,” tambahnya.

 

Menaikkan Kelas KKP Bengkulu
Meskipun baru beberapa hari berada di Bengkulu, namun Masrip sudah bercita-cita untuk menaikan kelas KKP Bengkulu, dari kelas III ke kelas II beberapa tahu ini. Sesuai dengan International Health Regulations (IHR).

Diakuinya, hal tersebut tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Karena ada beberapa yang menjadi kendala yang akan harud dihadapi, terutama tentang sumber daya manusia dan sarana dan prasarana yang ada di KKP Bengkulu. “Meskipun fungsinya sama, yang membedakan kelas itu adalah standarisasi yang dipakai serta luas daerah yang dilingkupi suatu KKP,” jelas Masrip.

Selain itu semua itu tidak akan berjalan tanpa adanya kerjasama dengan pemerintah daerah, karena KKP akan sulit untuk maju jika aktivitas kapal di pelabuhan sangat minim. Kurang kapal yang masuk ke Bengkulu tidak lebih karena kurangnya investor yang menanamkan modal di Bengkulu.(Ari)