DPM Unihaz Gelar Dialog Anti Terorisme

1
Endang/Bengkulu Ekspress
Memperingati hari kelahiran Pancasila pada 1 Juni, Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Prof Dr Hazairian SH (Unihaz)Kegaiatan dialog interaktif bertema ”Meningkatkan Semangat Kebangsaan Melalui Penguatan Nilai Pancasila Dalam Menghadapi Bahaya Terorisme di Kota Bengkulu.”

BENGKULU,Bengkulu Ekspress– Memperingati hari kelahiran Pancasila pada 1 Juni. Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Prof Dr Hazairian SH (Unihaz) menggelar dialog interaktif bertema ”Meningkatkan Semangat Kebangsaan Melalui Penguatan Nilai Pancasila Dalam Menghadapi Bahaya Terorisme di Kota Bengkulu.”

Pada kegiatan ini sekaligus dilakukan deklarasi bersatu melawan terorisme dan radikalisme. Kegiatannya berlangsung di aula rektorat Unihaz. Kegiatan yang diiikuti puluahan mahasiswa, pelajar, guru dan dosen ini dibuka Rektor Unihaz Dr Ir Yulfiperius MSi ini. Dengan menghadirkan narasumber yang kompeten, yaitu Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bengkulu Zul Effendi SAg MPdi, Ketua Bidang Media Massa FKPT Bengkulu Zaky Antoni dan Sekretaris Diskominfo Provinsi Bengkulu Ferry Ernez Parera.

Rektor Unihaz, Dr. Yulfiperius dalam sambutanya sangat mengapresiasi dan mengsuport atas terselenggaranya seminar dan dialog interaktif atas isu-isu terbaru dan hangat diperbincangkan akhir-akhir ini pasca bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur.

“Kami sebenarnya sudah punya program Juri (Jumat Religi) untuk menanamkan pendidikan agama pada mahasiswa dan pelajar, tanpa pendidikan agama yang baik dan benar maka mahasiswa pun rentan terkontaminasi dengan ajaran terorisme. Kegiatan ini harus dilakukan secara kontinyu, karena bahayanya dapat mengancam setiap saat bisa dari keluarga, lingkungan,” katanya.

Ia berpesan pada mahasiswa dapat mengikuti dan memperbanyak wawasan kebangsaan sehingga dapat bergerak maju demi menjaga kemerdekaaan negara dan bangsa. Disisi lain, Ketua DPM Unihaz Jumratul Aini menuturkan, seminar dan dialog digelar untuk menambah wawasan para guru dan pelajar atas bahaya terorisme untuk memecah belahkan negara Kesatuan republik Indonesia. Dengan kegiatan ini maka kita ingin menyamakan persepsi dengan ideologi pancasila maka nilai-nilai pancasila harus ditegakkan.

“Seminar dan dialog inidapat membuka wawasan dan menyimpan pancasila didalam hatinya. Terorisme musuh bersama yang harus diberantas di negeri ini,” cetusnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Media Massa FKPT, Zaky Antoni dalam pemaparanya menuturkan, ancaman terorisme semakin menggelinding atas eksistensi bangsa, sehingga BNPT ini dibentuk hingga ke daerah. Untuk mengemban tugas melakukan langkah-langkah pencegahan terorisme salah satunya seminar seperti ini. Ancaman terorisme ini hampir mengenai disegala lini usia, paling rentan pada usia 12-17 tahun dengan ditumbuhkan paham intoleran.

Pemahaman nilai-nilai pancasila sebagai benteng untuk menangkal radikalisme, nilai yang mampu menangkal radikalisme, yaitu nilai ketuhanan yang maha Esa, nilai toleransi, nilai hargai keberagaman dan kemanusiaan, nilai kebebasan memeluk agama yang diyakini, nilai nasionalisme, nilai menghargai sejarah bangsa dan persatuan nasional serta nilai demokrasi, keadilan dan kebenaran. “Perkuat pendidikan agama menjadi awal menangkal terorisme dan perkokoh pendidikan dalam keluarga, karena keluarga broken home sangat rentan dimasuki terorisme,” imbuhnya.

Disisi lain, Ketua Majelis Ulama Indonesia Zul Efendi SAg MPdi menuturkan, terorisme tidak ada kaitanya dengan agama, semua agama mengajarkan kebaikan. Sementara terorisme mengajarkan kejahatan yang luar biasa dan sasarannya tidak jelas sehingga hal ini sangat bertolak belakang dengan agama yang mengajarkan tentang kebaikan. “Haram menghilangkan nyawa orang lain, haram menakut-nakuti dan mengacungkan senjata tajam,” cetusnya.

Tokoh agama, katanya, diharapkan memberikan penjelasan tentang ajaran agama yang benar dan meluruskan kembali ajaran yang diselewengkan, terorisme tidak sesuai dengan agama, dan agama Islam yang selalu dikaitkan agama yang universal dan rahmatan lil alamin. (247/krn)