Dosen IPB Menang di Paris, Temukan Formulasi Pelambatan Pematangan Pisang

Dosen Fakultas Biologi ITB Fenny Martha Dwivany menemukan metode melambatkan pematangan pisang. Temuannya itu mendapat penghargaan Science Fellowship for Women dari UNESCO bekerja sama dengan perusahaan kosmetik L”Oreal Paris.

 TRI MUJOKO BAYUAJI, Bandung

SEBAGAI peneliti, sosok Fenny jauh dari kesan serius. Perempuan kelahiran Bandung, 40 tahun silam itu, justru terlihat gaul dan modis. Gaya bicaranya ceplas-ceplos, sesekali disertai tawa.

“Ya, beginilah saya. Terserah orang lain menilai,” ujar Fenny saat ditemui Jawa Pos di kawasan Bumi Sangkuriang, Bandung, Minggu lalu (18/11).

Salah satu bukti “ke-gaul-an” Fenny adalah dalam penyebutan mahasiswa didiknya yang ia anggap sebagai teman. Dengan cara begitu, kedekatan dirinya dengan mahasiswa bisa lebih intensif.

“Saya diuntungkan mempunyai teman-teman yang mendukung proyek penelitian saya tentang pisang ini,” ujar dosen Fakultas Biologi ITB yang juga mengepalai Laboratorium Keahlian Genetika dan Analisis Molekuler Sekolah Ilmu dan Teknologi ITB itu.

Penelitian Fenny termasuk lama. Dia memulai penelitian pada 2004. Ketika itu, dia baru saja menyelesaikan program doktor di bidang rekayasa genetika di University of  Melbourne, Australia. Dia mengaku bingung untuk kembali ke tanah air.

“Saya gamang untuk pulang. Sebab, bila pulang, saya harus membuat penelitian. Itu syarat sebagai dosen di ITB,” tuturnya.

Kegamangan Fenny itu, selain tidak mempunyai ide, karena tidak memiliki dana cukup untuk penelitian. Tapi, apa pun dia harus pulang ke tanah air dan melakukan kewajibannya sebagai peneliti.

Dalam kebingungan itulah, tanpa disengaja dia menemukan ide sederhana untuk objek penelitiannya. Fenny tertarik meneliti buah pisang yang sering dibeli keluarganya dari pedagang keliling di kompleks perumahannya. “Entah dari mana ide itu, tahu-tahu saat melihat pisang yang dijajakan si pedagang muncul ide untuk meneliti pisang,” ujarnya.

Menurut Fenny, karakter pisang yang unik menjadi dasar penelitiannya. Jika sudah matang, pisang memiliki durasi waktu yang cepat untuk membusuk. Tidak sampai tiga hari, pisang yang matang biasanya melembek, warnanya menghitam, dan tidak menarik.

“Dari kondisi pisang seperti itulah, saya tertarik meneliti bagaimana memperlambat pematangan pisang. Kalau berhasil, tentu akan membantu petani dan pedagang pisang secara ekonomis,” papar dia.

Dengan latar belakang doktor rekayasa genetika, Fenny mengawali penelitian dengan mengobservasi biji pisang. Namun, penelitiannya itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan waktu panjang.

Karena itu, Fenny mengajukan proposal ke sejumlah perusahaan. Tapi, baru setahun proposal itu direspons. Yang pertama, dia mendapat bantuan dana dari Bogasari Nugraha (kini Indofood Sukses Nugraha, Red). Jumlahnya kurang lebih Rp 60 juta.

Fenny tidak bekerja sendiri. Dia melibatkan para mahasiswa dalam penelitian. Bahkan, hampir seluruh anak didiknya menggunakan pisang sebagai bahan skripsi.

“Karya ilmiah mereka bagus-bagus. Saya senang telah memberikan inspirasi kepada mereka,” ujarnya.

Setelah penelitiannya menunjukkan progres positif, Fenny mulai berani “memamerkan” ke pihak luar kampus, termasuk ke lembaga internasional. Bahkan, rintisan penelitian Fenny kemudian mendapat pengakuan dan meraih penghargaan Science Fellowship for Women dari UNESCO bekerja sama dengan perusahaan kosmetik L”Oreal Paris.

“Itu penghargaan untuk ilmuwan muda dengan usia maksimal 35 tahun. Waktu itu saya berusia 34 tahun,” kata Fenny.

Selain Fenny, dari Indonesia ada tiga peneliti muda yang berhak mendapat beasiswa sains Unesco-L”Oreal. Keempatnya lalu diikutsertakan dalam kompetisi peneliti muda Young Women in Life Science International Fellowship di Paris pada 2007. Pada awalnya, Fenny merasa minder karena penelitiannya sangat sederhana. Sedangkan, yang lain berat-berat. Misalnya, meneliti penyakit kanker.

Namun, ternyata ide penelitian Fenny tentang pisang justru menarik perhatian juri. Penelitian Fenny pun dinyatakan sebagai pemenang. Menurut juri, gagasan pelambatan pematangan pisang yang terkesan lokal mempunyai dampak global. Apalagi, pisang masuk kategori makanan pokok dunia selain gandum, padi, dan jagung.

Atas prestasinya itu, Fenny terbang ke Paris untuk menerima hadiah USD 40.000. “Bagi saya, penghargaan itu seperti artis yang meraih Piala Oscar,” kenang Fenny. Selain hadiah uang, sejak 2010 Fenny ditunjuk menjadi salah seorang juri kompetisi yang diprakarsai perusahaan kosmetik dunia itu.

Pulang dari Paris, Fenny melanjutkan penelitian tentang pisang. Dia menyadari, jika terus mengembangkan biji pisang melalui rekayasa genetika, kontroversi akan muncul. Selain masih membutuhkan banyak uji coba, masyarakat belum tentu bisa menerima pisang hasil rekayasa genetika.

Fenny lalu mengubah penelitiannya melalui pisang yang sudah matang, namun direkayasa agar berdaya tahan lebih lama. Ide itu diperoleh setelah dia mengikuti Sokendai Winter School di Jepang atas undangan JAXA (Japan Aerospace Exploration Agency) dan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Pusat Antariksa Nasional). “Proposal saya terkait space biology lagi-lagi diajukan sebagai wakil Indonesia dalam program itu,” terang dia.

Dari program di Jepang itu, Fenny mulai tahu bahwa ilmu fisika juga bisa mendukung penelitiannya. Dia kemudian memanfaatkan ruang hampa di JAXA untuk merekayasa pematangan pisang. Pisang yang matang pada prinsipnya bernapas dengan oksigen (O2). Begitu pisang itu disemprot CO2 (karbondioksida), enzim yang mereaksi pematangan pisang bisa dihambat.

“Ide itu adalah metode ripening. Metode itu lebih murah jika dibandingkan dengan rekayasa genetika,” jelasnya.

Ide tersebut kemudian dia bawa pulang ke tanah air. Hanya, dia harus mencari ruang hampa udara seperti di JAXA yang berbiaya murah. Sebab, teknologi ruang hampa JAXA membutuhkan dana miliaran rupiah.

Fenny lalu mengajak kerja sama dengan Prof Thomas Djamaludin, ahli atmosfer dari LAPAN. Dialah yang membantu Fenny membuatkan model sederhana ruang tiga dimensi yang bisa digunakan untuk metode ripening. “Kalau teman-teman mahasiswa memakai toples, itu juga bisa,” ujar Fenny.

Kombinasi penyemprotan O2 yang mempercepat pematangan dan CO2 yang memperlambat pematangan bisa mengubah daya tahan pisang yang masak hingga sekitar seminggu. Bahkan, masih bisa dikembangkan lagi hingga lebih dari seminggu.

Menurut Fenny, alat yang digunakan untuk metode ripening itu tanpa listrik dan pendinginan. Prosesnya juga jauh lebih sederhana dan ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimiawi sebagai pengawet.

“Oksigen dan karbondioksida juga dihirup oleh manusia kan. Jadi tidak berbahaya,” ujarnya.

Penghargaan sebagai ilmuwan muda dari UNESCO dan L”Oreal memudahkan Fenny mengikuti pendidikan post doktoral. Dia pun meraih Endeavour Award, penghargaan untuk ilmuwan berprestasi untuk mengikuti post doktoral di Australia. Hanya, syaratnya penerimanya harus lulusan Australia. “Kebetulan saya lulusan Melbourne sehingga berhak mendapat kesempatan studi itu,” ujarnya.

Beasiswa post doktoral juga membawa berkah dalam kehidupan keluarga Fenny. Setelah menikah sebelas tahun, istri Adam Haikal Moeis itu akhirnya mendapat putra pertama saat mengikuti post doktoral pada 2008. “Si Addy (Ananda Dwivano Moeis, putra Fenny, Red) ini anak post dok,” tuturnya sambil tertawa.

Dengan berbagai prestasi di dunia internasional, nama Fenny kini identik dengan metode pematangan pisang. Rencananya, tahun depan alat dan metode pematangan pisang itu dipatenkan. Fenny meyakini bahwa metode tersebut bisa digunakan oleh para petani di desa-desa karena rendahnya biaya dan kemudahan penggunaannya.

“Tidak hanya pisang, metode ini juga bisa digunakan untuk buah yang lain. Sudah banyak yang antre,” tandasnya lantas tersenyum. (*/c4/ari)