Dolly Ditutup, Pindah Online, Tarif Lebih Mahal

060310_845412_Dolly_online_twit_HLSURABAYA – Memang sih, kompleks lokalisasi Dolly kini tinggal sejarah. Tapi, para pelaku bisnis esek-esek itu kini memanfaatkan beragam media sosial.

’’Showroom’’-nya bukan lagi wisma-wisma pinggiran kota. Transaksi prostitusi tersebut kini berpindah ke dunia maya yang tanpa batas. Berbagai media sosial dimanfaatkan sebagai sarana untuk menjaring pria-pria hidung belang.

Karena itu, harapan hilangnya praktik prostitusi di Surabaya setelah penutupan Dolly bisa jadi meleset. Sebab, pasca penutupan Dolly, bisnis haram tersebut seakan semakin cerdas mencari celah untuk mengembangkan usaha.

Inovasi teknologi yang menggempur Kota Pahlawan dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku-pelaku bisnis haram itu untuk mengeruk keuntungan.

Twitter, Facebook, Instagram, WhatsApp, BlackBerry Messenger, dan berbagai media sosial lain dimanfaatkan untuk menjadi Dolly-Dolly baru. Menawarkan jasa pekerja seks bisa dilakukan lewat media sosial tanpa perlu melalui tempat lokalisasi seperti Dolly.

Di Surabaya, prostitusi online bukan sesuatu yang tabu. Penawaran jasa pekerja seks begitu vulgar melalui media sosial. Jawa Pos menelusuri beberapa akun media sosial yang sering menjadi jujukan para lelaki hidung belang.

Di Twitter, ada akun @alterSBYangels yang kerap menawarkan beberapa PSK. Pekerja seks yang ditawarkan tidak hanya berasal dari Surabaya. Ada juga PSK dari kota-kota besar seperti Jakarta, Malang, dan Bandung. Sistem yang ditawarkan pun begitu menggoda. Bahkan, beberapa pekerja seks mempunyai harga pribadi untuk setiap kencan.

Tarif yang ditawarkan rata-rata di atas Rp 1 juta. Uniknya, setiap akun yang dipromosikan @alterSBYangels mempunyai daftar harga yang sering di-upload.

Bukan hanya jasa kencan yang ditawarkan. Beberapa pekerja seks di Twitter juga menyediakan jasa self-service. Misalnya, pengiriman foto telanjang, phone sex, dan chat sex.

Tim Jawa Pos sempat mencoba bertemu dengan pemilik akun @van_vania_nia yang dipromosikan @alterSBYangels. Melalui direct message di Twitter, pemilik akun itu mengaku bernama Vania dan berusia 28 tahun.

Dia bersedia di-booking dengan beberapa syarat. Salah satunya mengirim uang muka atau down payment Rp 300 ribu. Rata-rata besaran DP itu sekitar 30 persen dari tarif eksekusi. Jika DP telah terkirim, barulah Vania bersedia melanjutkan ke tahap berikutnya. Jangan bayangkan tahap berikutnya itu ketemuan atau langsung ’’eksekusi’’.

Sebab, DP tersebut diperlukan hanya untuk mendapatkan kontak BlackBerry Message dan WhatsApp milik Vania. Setelah mendapatkan dua kontak tersebut, tahap selanjutnya adalah penentuan lokasi kencan. Jawa Pos menelusuri tweet-tweet yang ditulis @van_vania_nia.

Kebanyakan lokasi kencan adalah hotel-hotel kelas menengah. Untuk menguatkan lagi, akun tersebut juga sering meng-upload beberapa bukti transfer dan foto-foto setelah kencan. (rid/c7/oni)