Dispar Bantah Ada Sewa Auning Jutaan Rupiah di Taman Wisata Pasir Putih

FOTO RIFKY/BE – Kawasan Taman Pasir Putih Pantai Panjang Bengkulu

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Dinas Pariwisata Kota Bengkulu membantah sudah ada perjanjian antara pedagang dengan Dispar Kota Bengkulu mengenai sewa auning di taman wisata Pasir Putih,  Pantai Panjang Bengkulu mencapai jutaan rupiah.

Hal ini disampaikan Kepala Dispar Kota Bengkulu melalui Kasi Tanda Daftar Usaha Pariwisata, Roni kepada bengkuluekspress.com menanggapi protes salah satu pengunjung Pasir Putih dengan nama akun facebook Egi Candra karena diusir oknum pedagang karena duduk di salah satu auning Pasir Putih yang belum lama dibangun.

“Saat ini Dispar belum bisa berbuat apa-apa, dimana kalau ada pedagang yang mengaku membayar sewa sampai 5 juta per tahun itu hoaks, kita belum ada negosiasi apalagi tentang tarif sewanya,” jelasnya.

Roni mengaku pihaknya masih menunggu dari Pemprov Bengkulu untuk segera menyerahkan pengelolaan taman itu ke Pemkot, sehingga dalam hal pengelolaan bisa secepat dilakukan, dan pedagang bisa kembali menempati auning di sana untuk berjualan.

“Salah bila kita memasukan pedagang ke sana karena ini belum ada serah terima, jadi pedagang belum bisa menempati auning sehingga terjadilah pedagang liar, kita dari Perintah kota sudah berulang kali menegur agar tidak berjualan disitu,” kata Roni.

Disampaikan Roni, pekerjaan taman Pasir Putih ini dimulai Juli hingga Desember 2019 dengan anggaran Rp 9,8 miliar dari APBN. Seharusnya di tahun 2020 ini diserahkan ke Pemerintah Kota dalam hal pengelolaan tetapi sampai saat ini belum diserahkan.

“Seharusnya 2020 ini sudah diserahkan pengelolaannya ke Pemkot, Tetapi PU Balai yang mengerjakan proyek itu diserahkan ke Provinsi dan dari Provinsi saat ini belum diserahkan ke Pemkot,” ujarnya, Selasa (10/3).

Ia juga mengaku bahwasanya dinas Pariwisata saat ini belum bisa berbuat apa-apa dimana saat ini pedagang belum bisa kita masukan untuk berdagang disana. Jadi sampai saat ini belum ada keputusan ataupun tarif sewa auning di sana karna pengelolaannya belum di serahkan ke Pemkot.

Sementara itu, salah satu es kelapa muda di kawasan taman Pasir Putih Mardi (37) mengaku, pihaknya sudah sejak lama berjualan di kawasan itu. Bahwa sebelum adanya pembangunan ini para pedagang sudah dilakukan putus kontrak sampai saat ini belum lagi adanya pemberitahuan dari Pemerintah untuk mengisi kembali auning-auning.

“Sebulan sebelum dibangun Taman Pasir Putih ini kita para pedagang lama sudah membuat kesepakatan bahwa pedagang lama yang akan mengisi kembali auning yang sudah dibangun ini, saat ini belum ada kontrak lagi jadi auning ini belum bisa di tempati,” jelasnya.

Ia juga mengaku terkejut ada pihak pedagang yang mengusir pengunjung untuk datang dan duduk di kawasan itu, karena belum diresmikan.

“Jadi kami dari dulu berdagang di sini karena untuk mencari nafkah dengan persyaratan waktu itu tidak mengganggu proses pengerjaan taman Pasir Putih ini.  Bahkan selama itu kita tidak di berlakukan tarif retribusi bila berjualan, tetapi sekarang banyak pedagang liar disini bermunculan,” ungkapnya. (CW1)