Direktur PDAM Dihadiahi Pakaian Kotor

PASAR MANNA BE – Direktur PDAM Tirta Manna, Mirzan Effendi dihadiahi pakaian kotor yang sudah 1 minggu tidak cuci oleh aktivis mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) BS usai dialog di kantor PDAM, Rabu (13/11).
Aksi pemberian pakaian kotor sebanyak 2 lembar ke pihak PDAM itu, sebagai bentuk kekecewaan terhadap pelayanan PDAM akhir-akhir ini yang tidak lagi menyalurkan air bersih ke rumah pelanggan.

“Pemberian kado ini karena bukti kalau sudah seminggu lebih kami tidak dapat mencuci pakaian karena air ledeng mati. Sebab itu kami minta agar PDAM segera dihidupkan kembali,” ujar Meki Supriyanto, mewakili ke-3 temannya.

Sebelumnya, Rabu lalu sekitar pukul 9.00 WIB, 4 orang mahasiswa dari KAMMI mendatangi PDAM untuk mempertanyakan alasan PDAM memadamkan aliran air bersih ke rumah pelanggan.

Menurut penjelasan Direktur PDAM, Mirzan Effendi, mati aliran PDAM ke pelanggan, karena listrik di PDAM sudah diputus oleh pihak PLN.

Hal itu disebabkan PDAM belum sanggup membayar tunggakkan listrik beberapa bulan terakhir yang jumlahnya mencapai Rp 161 juta.
Sementara sisa kas dari direktur terdahulu maupun hasil dari pembayaran rekening PDAM dari warga tidak cukup lagi membayar tunggakan listrik. Di sisi lain Pemkab BS juga tidak memberikan bantuan biaya untuk membayar tunggakkan listrik tersebut.
Mirzan mengaku, dia sudah berupaya berusaha untuk mendapatkan uang untuk membayar tunggakkan itu. Salah satunya berencana menjual mobil dinas yang biasa dipakainya.

“Untuk adik-adik ketahui, untuk membayar tunggakan listrik itu saya sudah ajukan ke pemda agar mobil dinas saya dijual,” katanya. Hanya saja keinginannya itu belum juga mendapatkan tanggapan dari Pemkab BS.
“Meskipun ada pembayaran rekening PDAM dari pelanggan tapi itu tidak cukup untuk membayar tunggakkan listrik. Sedangkan kas PDAM minim. Ditambah lagi biaya perbaikan jaringan PDAM. Sehingga diperlukannya dukungan pemerintah terhadap perusahaan daerah ini,” ucapnya.

Disamping itu, dirinya juga menyayangkan kurang pedulinya Pemkab BS terhadap perusahaan daerah tersebut. Dia merasa, semenjak dia menjabat direktur perusahaan, PDAM tidak lagi mendapat subsidi anggaran dari pemerintah, padahal sebelumnya selalu mendapat subsidi pemerintah. “Semasa direktur terdahulu diberikan subsidi Rp 800 juta. Sedangkan ketika saya menjabat direktur, subsidi tidak diberikan. Jadi kami kesulitan membayar tunggakkan rekening listrik itu,” ujar Mirzan kepada mahasiswa.(369)