Dipegang Anak Muda, Brand Lokal Jadi Keren

Merasakan Atmosfer Surga Fashion Entrepreneur dan Shopaholic di Brightspot Market

Brightspot_SELAMA ini produk lokal sering dipandang sebelah mata dengan stigma kualitas buruk dan tak mampu bersaing dengan brand kelas dunia. Di Brightspot Market, pandangan itu jelas sudah musnah. Pengunjung menyerbu brand lokal dengan banderol harga sekelas brand asing.
————–
PUSPITA ADIYANI-FAISAL ASH SHIDDIQ, Jakarta
————-
Geliat industri ekonomi kreatif mulai menggoyang persepsi masyarakat Indonesia. Terutama mereka yang berkecimpung langsung dalam industri fashion, khususnya ritel ready-to-wear. Sebelumnya, produk lokal tampak tidak mampu bersaing dengan produk asing dalam mengemas produk berkualitasnya.

Indonesia pun hanya dikenal sebagai supplier bahan mentah atau produk setengah jadi untuk brand asing. Sekarang brand lokal dengan kualitas produk berkualitas serta kemasan yang jempolan bermunculan dan semakin eksis di pasar Indonesia serta dunia.

Brand lokal tak lagi dipandang sepele. Itu terlihat jelas dari antusiasme pengunjung Brightspot Market 2013 yang dibuka tepat pada hari Valentine, Kamis (14/2), di Mal Grand Indonesia, Jakarta.

Venue tak pernah sepi. Hampir tak ada pengunjung yang pulang tanpa menenteng belanjaan. Semua produk diserbu bak kacang goreng. Padahal, 80 persen booth di Brightspot Market adalah brand lokal. Denim, sepatu boots, clothing line, jam tangan, hingga aksesori fashion dijual dengan kisaran banderol cukup tinggi. Impian penyelenggaraan Brightspot Market sejak 2009 untuk mengangkat “derajat” produk lokal mulai terwujud.

“Indonesia punya banyak desainer muda. Tapi, mereka nggak punya tempat,” ungkap Anton Wirjono, salah seorang founder Brightspot Market.

Itulah yang coba diwadahi Brightspot Market. Yaitu, mengekspos brand lokal yang berkualitas sekaligus menantang yang masih takut-takut untuk serius mengembangkan brand sendiri. Hasilnya, penyelenggaraan pertama yang hanya diikuti 25 brand kini membengkak jadi 120 brand peserta. Bahkan, sebenarnya masih ada 150 brand waiting list yang tidak bisa bergabung.

“Kami menyeleksi semua brand yang mendaftar dengan ketat. Seleksinya meliputi kualitas dan orisinalitas. Orisinal idenya, nggak nyontek,” ujar Anton.

Penyelenggara harus mematok standar tinggi karena Brightspot Market mulai dilirik media internasional untuk diliput sebagai event ikonik urban fashion di Indonesia. Bukan hanya media, pasar internasional juga mulai melirik. Banyak brand lokal yang akhirnya punya koneksi internasional sejak bertemu di Brightspot Market.

Sebut saja Pot Meets Pop, brand denim Indonesia yang sudah dikenal di lebih dari tujuh negara ciptaan Hendry Sasmiputra, 27.

Kreativitas Hendry disambut luar biasa oleh market Indonesia dan internasional. “Saya memulai proyek ini pada 2009. Setelah ambil bagian di Brightspot Market, banyak retailer dari Eropa yang menawarkan kerja sama,” jelas Hendry. Jerman, Prancis, dan Belanda sudah menikmati “virus” denim Indonesia itu.

Hal senada diungkapkan Ahmad Hadiwijaya, owner Old Blue Co. “Produk saya sudah ekspor ke Denmark, Belgia, dan Jerman,” ungkap pemuda 24 tahun tersebut.

Tak hanya ekspor, brand internasional pun kepincut untuk bekerja sama membuat special edition. BNV, sebuah brand lokal untuk sepatu bot, sudah dipinang Galleries Lafayette untuk membuat sepatu bot special edition buatan BNV.

“Tahun depan mungkin produknya di-launching. Mereka tertarik dengan konsep sepatu bot kami yang kuat tapi nyaman dipakai sehari-hari dengan bahan yang ringan,” cerita Awie Wang yang baru berumur 28 tahun. BNV adalah proyek Awie bersama David Hallim, 28, temannya. Omzet mereka kini mencapai Rp 2 miliar dalam setahun.

Uniknya, jika dicermati, rata-rata umur owner brand lokal di Brightspot Market kali ini masih di bawah 30 tahun. Sangat menarik. Melihat usia owner dan pembelinya dengan umur yang terpaut tak jauh, tidak jarang mereka bisa membahas tren serta saling berbagi info. Antar-owner juga tak jarang membuat proyek kolaborasi. Bukan tidak mungkin kerja sama apik antaranak muda kreatif itu akan memberikan keperkasaan brand Indonesia dalam pertarungan produk ready-to-wear dunia.

Pengunjung pun memiliki pengalaman berbeda atas diadakannya event tersebut. “Produknya inovatif dan unik semua. Jarang banget ditemui di tempat perbelanjaan besar. Segmented-nya pas, anak muda banget. Jadi, bikin nagih untuk datang lagi ke Brightspot Market,” ujar Kadrina, 27, pengunjung.

“Mudah-mudahan sih tetap eksis dan pasti brand-nya tambah banyak. Selain itu, kalau bisa diadakan tiga kali setahun, kayak waktu tahun pertama penyelenggaraan Brightspot Market,” lanjut dia.

Selain menawarkan brand  lokal yang berkualitas di sektor ritel dan sepatu, yang tak kalah menarik adalah brand yang menawarkan benda-benda unik. “Kami memang membebaskan segala macam produk dengan berbagai ide dan kreasi,” ungkap Anton.

Misalnya, jam tangan kayu merek “Matoa” yang baru diproduksi setahun lalu. Selama ini, jam unik itu hanya dijual melalui sistem online.  Launching resminya baru dilakukan saat pembukaan Brightspot Market 2013.

Jam tersebut dibuat dari kayu sonokeling asal Garut dan kayu akasia yang banyak tumbuh di Jawa. Begitu di-launching secara terbuka, pasar internasional langsung menyahutnya. Pemilik brand  langsung ditawari kerja sama dalam pembukaan gerai di Singapura.

Selain itu, ada produk dari Greedysassy yang memodifikasi replika tengkorak. Benda yang identik dengan gothic dan suasana menyeramkan itu dipoles 180 derajat. Warna-warna cerah disapukan di atas tengkorak-tengkorak tersebut. Hasilnya menjadi sungguh berbeda. Lucu dan tampak menarik.

Replika tengkorak dengan berbagai ukuran itu dipajang di atas etalase yang sepenuhnya berbahan resin alias sisa. Potongan besi, kain, serta kayu bekas dimodifikasi dan ditumpuk menjadi etalase apik. Selain Greedysassy, ada Beneath The Roses yang membuat aksesori keren dari “sampah” perkakas seperti mur dan baut.

Venue yang makin luas serta produk yang makin berkualitas dan variatif membuat pengunjung betah dan pasti gemas untuk berbelanja.

“Tempatnya tambah besar dan booth-nya tambah banyak. Jadinya bikin “tersesat” pas ngunjungin setiap booth yang diset di tiga tempat berbeda. Membingungkan, tapi seru banget,” ungkap Teguh Wulung, 28, salah seorang pengunjung. (*/c5/ari)