Dinkes Obati Penderita Kusta

=foto Plt Kepala Dinkes Bengkulu Utara Syamsul Maarif

ARGA MAKMUR, Bengkulu Ekspress – Terkait dengan ada salah seorang warga Kecamatan Enggano Kabupaten Bengkulu Utara (BU) yang menderita penyakit Kusta, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bengkulu Utara terus memantau perkembangan penyakit tersebut.

Melalui pihak Puskesmas setempat, petugas melakukan pengobatan serta pendampingan terhadap penderita kusta selama satu tahun ke depan. Hal tersebut disampaikan oleh Plt Kepala Dinkes Bengkulu Utara, Syamsul Maarief ketika ditemui Bengkulu Ekspress , kemarin (24/4). “Kami terus pantau. Pengobatan terus dilakukan sejak tiga bulan terakhir. Pengobatan harus selama satu tahun tanpa henti,” kata Arief.



Arief menerangkan, kondisi penderita kusta saat ini telah membaik dari sebelumnya. Hal ini terpantau dari luka yang berangsur mengering, dan warga yang menderita penyakit kusta merupakan pendatang dari Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).  “Alhamdulillah, dari pantau tim medis kita bahwa pemderita lukanya saat ini sudah berangsur mengering, selain itu dari informasi yang kita dapat bahwa penderita merupakan warga pendatang dari Provinsi Sumsel,” terangnya.

Lebih lanjut Arief menjelaskan, penyakit yang juga dikenal dengan nama lepra atau penyakit hansen itu adalah penyakit yang menyerang kulit, sistem saraf perifer, selaput lendir pada saluran pernapasan atas serta mata. Kusta bisa menyebabkan luka pada kulit, kerusakan saraf, melemahnya otot dan mati rasa. Kusta disebabkan bakteri mycobacterium leprae. Bakteri ini memerlukan waktu 6 bulan hingga 40 tahun untuk berkembang di dalam tubuh. Tanda dan gejala kusta bisa saja muncul 1 hingga 20 tahun setelah bakteri menginfeksi tubuh penderita.

Penemuan kasus baru untuk penyakit kusta di Indonesia tergolong tinggi. Indonesia menempati uratan ketiga, setelah India dan Brazil 2015.  “Sebenarnya kusta adalah penyakit yang dapat diobati, namun adanya stigma negatif di masyarakat seringkali menyebabkan munculnya diskriminasi terhadap penderitanya. Stigma negatif dan diskriminasi ini berakibat kepada penemuan kasus baru dan pengobatan yang tertunda,” tandasnya.(127)




    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*