Dikbud Kekurangan 400 Guru

-Rispin Junaidi MPd

KOTA MANNA, Bengkulu Ekspress – Pelaksana tugas (plt) Kepala Dinas Pendidikan dan kebudayaan Bengkulu Selatan (BS), Ir Susmanto MM melalui sekretarisnya, Rispin Junaidi MPd mengatakan, saat ini pihaknya kekurangan guru untuk mengajar di sekolah-sekolah di Bengkulu Selatan. “ Kami kekurangan tenaga guru hingga 400 orang,” katanya.

Rispin mengatakan, kekurangan ini disebabkan jumlah guru di Bengkulu Selatan hanya sedikit. Awal tahun lalu jumlah kekurangan hingga lebih 300 guru. Ditambah lagi saat ini ada 89 guru yang akan pensiuan. Sehingga total kekurangan guru menjadi 400 orang. Dengan kondisi ini, dirinya khawatir kegiatan belajar mengajar di sekolah menjadi kurang maksimal.

“ Bagaimana mau maksimal kegiatan belajar mengajar, kalau satu guru harus merangkap mengajar mata pelajaran lainnya,” imbuhnya.

Rispin menjelaskan, guru yang saat ini kekurangan khusus mata pelajaran pendidikan agama dan juga penjaskes. Bahkan saat ini ada 29 sekolah tidak memiliki guru agama. Untuk mengisi kekosongan tersebut, pihaknya berencana merekrut tenaga honorer. Hanya saja, sebagaimana aturan PP nomor 48 tahun 2005 yang diubah PP nomor 56 tahun 2012 tentang larangan pengangkatan guru honorer, maka diperlukan adanya tes CPNS untuk kualifikasi tenaga pendidik yang banyak.

“ Karena adanya larangan pengangkatan tenaga honorer, jangan satu-satunya dengan tes CPS dengan formasi tenaga guru harus banyak,” harap Rispin.

Sebab, sambung Rispin jika tidak boleh pengangkatan tenaga honorer,sementara tes CPNS hanya sedikit tenaga guru yang direkrut, maka dirinya khawatir ke depan tenaga pendidik di BS akan semakin minim, dan pada akhirnya kegiatan belajar pengajar di sekolah akan terganggu.

“ Untuk saat ini meskipun kekurangan guru, kami tetap memaksimalkan tenaga yang ada, jika saat ini sudah 400 guru kurang, maka tahun 2020 nanti akan semakin banyak kekurangan guru, seba dipastikan banyak yang pensiun, kami sangat berharap ada kebijakan pemerintah agar proses belajar mengajar di sekolah tetap maksimal,” demikian Rispin. (369)