Diduga Cabul dan Tilep Uang Komite, Kepsek Dituntut Lengser

SEGINIM, BE – Ratusan siswa dan siswi SMAN 7 BS yang terletak di Desa Bandar Agung Kecamatan Seginim sekitar pukul 07.45 WIB kemarin menggelar aksi unjuk rasa. Aksi itu mereka lakukan lantaran mendapat informasi dari mulut ke mulut dan juga lewat pesan singkat melalui SMS, kalau kepala sekolah mereka yakni AS Mpd telah melakukan perbuatan cabul terhadap salah satu mantan siswi SMAN 7 yang saat ini telah berhenti dari SMA tersebut dan telah menikah satu bulan lalu. Selain adanya dugaan cabul tersebut, Kepsek juga diduga telah menilep uang komite siswa Rp 100 ribu perbulan. Sebab sampai saat ini realisasi pembangunan di sekolah dari uang komite tersebut belum ada kejelasannya. Ketua Osis SMAN 7 Iman Muhammad Subuh, yang juga orator dalam demo siswa mengatakan kepada BE kalau aksi itu mereka lakukan murni timbul dari siswa SMAN 7. “Demo ini kami lakukan tidak ada ditunggangi oleh pihak lain, kami lakukan ini karena tidak mau nama baik sekolah kami tercemar,” katanya. Ia menyatakan, pihaknya meminta penjelasan dari Kepsek mengenai tudingan itu. Jika Kepsek benar-benar telah melakukan cabul dan juga menilep uang komite itu, maka seluruh siswa tidak mau lagi dipimpin oleh sang Kepsek dan meminta Diknas BS untuk melengserkannya dengan menggantinya dengan kepsek yang baru. “Kami minta penjelasan kepala sekolah kebenaran info cabul itu dan juga kejelasan penggunaan dana komite. Pasalnya info itu sudah beberapa hari ini menyebar dan meresahkan kami para siswa. Dan juga terkait dana komite selama Kepsek itu menjabat belum ada pembangunan yang dilakukan padahal penggunaan dana komite salah satunya untuk kegiatan pembangunan,” terangnya. Salah seorang siswi yang enggan disebutkan namanya kepada BE mengatakan, kalau info itu sudah santer terdengar. Informasinya, kata dia, kalau beberapa waktu lalu sang kepsek melakukan cabul terhadap salah seorang siswi yakni Fi (15) di dalam kamar WC sekolah saat jam pelajaran sekolah berlangsung. Dalam seminggu ini siswa SMAN 7 mendapatkan SMS terkait adanya kebenaran informasi cabul itu. Sebab itu kemarin seluruh siswa meminta Kepsek dapat memberikan penjelasan kebenaran informasi itu. Hanya saja saat BE mencoba melihat pesan singkat di ponsel para siswa itu, mereka menolak memberikannya dengan alasan sudah tidak disimpan. “SMS-nya sudah kami hapus,” ujar siswa itu diamini oleh siswa lain. Adanya Demo itu kemarin memaksa Kabid Dikmen Disdikpora BS Rahmadan MPd langsung turun ke SMAN 7. Saat demo tersebut Kabid Dikmen langsung memanggil perwakilan dari para siswa dan juga Kepsek untuk meminta kejelasan informasi itu. Setelah hampir 1 jam meminta keterangan dari para siswa dan juga Kepsek, Kabid Dikmen langsung mengumpulkan semua siswa di hamalam kantor SMAN 7. Dirinya berjanji akan menyelusuri kepastian informasi itu. Informasi yang didapatnya itu akan segera disampaikannya ke Kepala Dinas Dikpora dan juga Bupati BS. “Saya sudah meminta keterangan dari kepala sekolah dan juga perwakilan siswa, informasi yang saya dapat ini akan saya sampaikan ke Kadis Dikpora dan Bupati akan segera dapat menindaklanjutinya. Kalau perlu besok (hari ini, red) kami akan turun ke sekolah lagi untuk menyelusuri kebenaran in formasi tersebut,” terangnya.

Usai mendapat keterangan dari Kabid Dikmen tersebut, awalnya para siswa meminta waktu 3 hari agar Dikmen dapat menuntaskan kejelasan informasi itu dan mereka akan tetap mogok belajar jika belum ada kejelasan terkait informasi cabul dan jua kejelasan dana komite tersebut .Namun setelah diberi pengertian oleh Kabid Dikmen karena tidak mungkin dapat mneyelasaikan permasalahan dalam waktu singkat karena semua itu perlu pembuktian dengan melakukan penelusuran, akhirnya para siswa itu menerima dan membubarkan diri. Dari pantauan BE, meskipun tidak mogok namun suasana belajar belum efektif karena kebanyakan siswa itu masih duduk santai di depan ruang kelas.

 Kepsek Membantah
Terpisah Kepala SMAN 7 AS MPd yang ditemui BE di ruang kerjanya kemarin, membantah apa yang dituduhkan oleh para siswa tersebut. Ia menyatakan tidak pernah melakukan pencabulan tersebut terhadap anak didiknya. Hanya saja kata dia hampir setahun lalu dirinya pernah marah-marah kepada siswa yang disebutkan oleh para pendemo itu lantaran siswa itu sering keluyuran malam.Diapun memperingatkan siswa itu untuk lebih rajin belajar dan jangan lagi keluyuran malam. Saat itu, kata dia, siswi itu dipanggilnya ke ruang kepala sekolah lalu dirinya memukul pundak siswi tersebut, setelah itu siswi itu disuruhnya keluar. “Saya tidak pernah melakukan perbuatan sekeji itu, saya hanya memperingatkannya untuk rajin belajar,” ucapnya.Begitu juga dengan tuduhan menilep uang komite, juga dibantahnya. Dikatakannya, uang komite itu digunakan untuk membeli alat infokus dan juga pembangunan pagar sekolah sepanjang 15 meter. Hanya saja penggunaan dana komite itu belum dilaporkannya lantaran dirinya masih menyiapkannya, dan dipastikan dalam waktu dekat ini laporan pertanggungjawaban penggunaan dana komite itu akan disampaikannya ke semua anggota komite sekolah.”Untuk dana komite memang belum saya laporkan penggunaanya, karena saya masih mempersiapkan sesuatu hal, tapi dalam waktu dekat ini jika sudah selesai saya rekap akan segera saya sampaikan,” terangnya.(369)