Diduga Bunuh Diri, Pejabat PU Jatuh dari Lantai 12

PEKANBARU – Kepala Satker Non Vertikal (SNVT) Pelaksana Jalan Nasional Wilayah II Provinsi Jambi Manipol Sebayang (54), warga Jalan Pahlawan B2 RT 002/008, Kelurahan Sidomulyo Barat Kecamatan Tampan, Pekanbaru, tewas secara mengenaskan. Ia jatuh dari lantai 12 kamar 1203 Abadi Suite Pasar Kota Jambi, Jumat (8/2).

Informasi yang dirangkum dari Polsek Pasar dan berbagai sumber, diketahui pelaku chek in di hotel itu sekitar pukul 07.45 WIB. Ia diantar oleh supirnya. Sesudah chek in, pelaku langsung menuju kamarnya seorang diri.

Tak berapa lama di dalam kamar 1203, Manipol menelepon resepsionis. Ia meminta jendela kamarnya dibuka dengan alasan ingin merokok. Irawan Budianto (21), seorang teknisi hotel memenuhi permintaan pelaku.

Setiba di dalam kamar hotel, warga RT06 Kelurahan Eka Jaya Kecamatan Jambi Selatan Kota Jambi itu membukakan jendela untuk Manipol.

Setelah itu ia meninggalkan Manipol seorang diri di dalam kamar. Cukup lama tak terjadi apa-apa di dalam kamar Manipol. Sampai akhirnya sekitar pukul 10.25 WIB, tiba-tiba terdengar suara dentuman seperti benda keras jatuh dari ketinggian di sebelah kanan lobi depan Abadi Suite, tepatnya arah depan gedung Abadi Convention Center (ACC).

Ahmad (41), karyawan swasta warga Kasang Lopak Alai, Kabupaten Muarojambi yang kebetulan berada tak jauh dari TKP, mendengar suara dentuman pertama kali. Ia yang saat itu bersama tiga rekannya mencari tahu asal suara.

Betapa kagetnya dia begitu tahu bahwa suara itu timbul akibat tubuh Manipol yang membentur tanah di taman sekitar hotel.

Usai kejadian, ia memberanikan diri mendekati jasad Manipol. Panik, ia memanggil petugas keamanan hotel. Ike Puspita Sari (27), seorang security Abadi Suite datang pertama di TKP. Warga Jalan Slamet Riyadi RT 31 Nomor 12 Kelurahan Solok Sipin, Kecamatan Telanaipura ini bergegas memanggil rekan-rekannya dan memberitahu manajemen hotel.

Tak berapa lama, beberapa karyawan hotel membawa tubuh Manipol ke RS Theresia, yang lokasinya tak berapa jauh dari Hotel Abadi Suit.

Setiba di rumah sakit itu, korban dinyatakan telah meninggal dunia. Untuk kepentingan otopsi, pelaku bunuh diri di bawa ke RSU Raden Mattaher.

Kapolsek Pasar Kompol Ranefli Dian Candra mengungkapkan, pelaku yang mengenakan pakaian bebas warna itu positif tewas akibat terjun bebas dari lantai 12 Hotel Abadi Suite.

“Kita belum tahu motif yang melatarbelakangi korban sampai mengakhiri hidupnya dengan cara seperti itu,” jelas Ranefli kepada sejumlah wartawan, di lokasi kejadian.

Dari pantauan di lapangan, tanah lokasi jatuhnya korban tampak berlubang dengan diameter sekitar 40 cm dengan kedalaman 10 cm.

Dari data yang didapat, polisi sudah melakukan pemeriksaan terhadap tiga saksi, Ahmad, Ike dan Irawan.”Korban mengalami luka hebat pada bagian kepala, darah segar keluar dari telinga, kalau bagian lainnya utuh,” ungkap Ranefli lagi.

Ditanya apakah ada kemungkinan pembunuhan? Ranefli menyebutkan, dari tubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan. “Korban bunuh diri, motif dan penyebab belum kita ketahui,” ungkapnya.

Lalu siapakah Manipol? Dari rekan-rekan pelaku korban yang melihat jasadnya di RSU Raden Mattaher (RSRM) Jambi kemarin sore, diketahui pelaku adalah perantau dari Provinsi Riau.

Sudah sekitar dua tahun ini Manipol bertugas di Jambi. Ia dikenal sebagai sosok yang tak banyak tingkah, baik dan sehat. Namun, semua rekan korban bungkam ketika ditanya soal aksi dan motif apa sampai korban nekat mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Kepala Dinas PU Provinsi Jambi Ivan Wirata terlihat hadir di kamar jenazah RSRM. “Manipol Sempayang ini memang benar bekerja di Kementerian PU Provinsi Jambi wilayah II, jabatannya sebagai Kepala Satuan Kerja,” jelasnya.

“Dalam kesehariannya saya lihat tidak ada masalah. Dalam kinerjapun dia juga sangat bagus, sering koordinasi. Sekitar tiga hari lalu saya sempat berkomunikasi dan bertemu dengan beliau,” ujar Ivan Wirata.

Ivan menambahkan, kalau masalah pekerjaannya di Jambi menjadi alasan Manipol nekat bunuh diri, rasanya tidak mungkin. Lalu apakah ada kaitannya dengan pekerjaannya yang lalu di Pekanbaru Riau?

“Masalah di sana saya juga tidak tahu, yang jelas selama di Jambi beliau baik-baik saja,” tegasnya.

Keluarga Masih tak Percaya
Sementara itu, suasana duka masih menyelimuti rumah di Jalan Pahlawan, Kelurahan Sidomulyo Barat, Kecamatan Tampan Pekanbaru, milik keluarga yang ditinggalkan Ir Manipol Sebayang, Jumat (8/2) sekitar pukul 19.30 WIB.

Pihak keluarga masih bertanya-tanya ada apa di balik kematian Manipol Sebayang tersebut. Saudara sepupu Manipol, Zulkarnaen (48) yang ditemui dirumah duka mengatakan dia tidak tahu pasti apa penyebab sepupunya meninggal dunia.

“Informasinya lompat dari gedung, tapi kami dapat informasi hanya ada luka sedikit di kepala. Seharusnya kalau lompat dari atas gedung, kondisi tubuhnya sudah hancur patah-patah,” kata Zulkarnaen.

Saat itu istri Manipol, Heny Clara bersama anaknya Okta sudah berangkat menuju Jambi. “Kami masih menunggu informasi dari istri dan anak beliau. Mereka sudah berangkat ke Jambi usai menerima kabar kematian itu siang tadi,” kata Zulkarnaen.

Zulkarnaen tidak bisa bicara banyak, namun saat pertemuan itu, Riau Pos (JPNN Grup) mengetahui sedikit cerita pandangan keluarga mengenai Manipol yang alumni Teknik Sipil Universitas Sumatera Utara tersebut.

“Beliau adalah orang yang penyayang, ia sepertinya tidak ada masalah dan hampir setiap pekan pulang ke Pekanbaru,” kata Zulkarnaen.

Manipol awalnya Pegawai Dinas PU Provinsi Riau, kemudian pindah menjadi Pegawai Departemen PU. Sebelum meninggal, Manipol menjabat Kepala Satuan Kerja di Departemen PU.

Baru satu tahun lebih Manipol pindah ke Jambi karena harus terlibat dalam proyek APBN sehingga harus berpisah dengan anak dan istrinya.

Di Jambi, Manipol ditemani oleh supirnya. Namun saat kematiannya, supir sedang tidak berada di hotel tersebut. “Informasinya supir disuruh ke kantor sama beliau,” kata Manipol.

Diceritakan Zulkarnaen, saudara sepupunya yang sejak zaman kuliah sudah bisa membiayai kuliahnya sendiri tersebut tidak pernah punya musuh.

“Beliau orangnya baik, penyayang, jadi tidak ada musuh. Beliau juga tidak pernah ribut dengan orang lain,” kata Zulkarnaen.

Dikeluarga, Manipol juga dikenal sebagai orang yang bertanggungjawab dan pekerja keras sehingga Zulkarnaen menilai tidak mungkin punya musuh.

“Beliau ini pintar, pekerja keras, sejak kuliah saja sudah biaya sendiri. Bahkan sempat mendirikan bimbingan tes bernama Bima dulunya. Bahkan beliau sempat jadi dosen teknik di Universitas Lancang Kuning, jadi sebagai seorang yang mendidik juga saya rasa tidak ada musuh,” kata Zulkarnaen.

Di rumah itu, Mertua Manipol, Zainul Nawawi (74) juga mengatakan, beberapa waktu lalu masih bertemu dan tidak ada yang berbeda dengan menantunya itu.”Terakhir bertemu masih riang dan tidak ada masalah,” kata Zainul.

Sementara itu, Kadis PU Pelalawan Ir Hasan Tua Tanjung mengaku mengenal Manipol Simbayang sewaktu menjadi PNS di Dinas PU Provinsi Riau.

“Seingat saya beliau Satker APBN Jambi yang kemudian pindah ke Dinas PU Riau pada  2011 lalu. Pada tahun itu, beliau mendapat dana APBN untuk proyek jalan nasional Provinsi Riau, salah satunya jalan Lintas Timur Kabupaten Pelalawan,” ujar Hasan.

Menurutnya, selama menjalankan pekerjaan di PU Riau, almarhum sangat baik melakukan pekerjaannya dan tidak memiliki permasalahan dalam bekerja. (cr01/can/jpnn/rul/*2)