Diduga Ada Praktek Aborsi

aborsiCURUP, BE – Penemuan jasad seorang bayi laki-laki di dalam saluran air di Jalan Ahmad Marzuki simpang jalan Supoyono Kelurahan Timbul Rejo pada Rabu pagi (12/12),  memunculkan spekulasi dari berbagai kalangan masyarakat.  Salah satunya dugaan adanya praktek aborsi di Bumei Pat Petulai.

Menanggapi hal itu, Kapolres Rejang Lebong AKBP Edi Suroso SH kepada Bengkulu Ekspress menegaskan, hingga saat ini pihaknya masih belum jauh mengarahkan penemuan jasad bayi tersebut pada sindikat aborsi. “Ini kasus yang baru pertama kali terjadi di RL, bahkan Provinsi Bengkulu. Hingga saat ini masih masih meminta keterangan sejumlah saksi di lokasi penemuan mayat,” kata Kapolres.

Selain itu, Kapolres menegaskan, pihaknya mengupayakan dilakukan tes DNA terhadap bagian tubuh bayi, sebelum dilakukan pemakaman sebelumnya, menjadi bahan referensi penyidikan untuk mengungkap ibu dari bayi malang tersebut. “Seperti bagian rambut sudah kita amankan, untuk bahan tes DNA, dengan bantuan pihak rumah sakit tentunya,” tegas Kapolres.

Di bagian lain, disinggung soal ditemukannya seragam sekolah tidak jauh dari lokasi penemuan mayat bayi, Kapolres menerangkan, pihaknya tidak bisa menyimpulkan pelaku kejahatan itu pelajar, dan tidak juga menuntup memungkinan dilakukan oleh pelajar.

“Keterangan beberapa saksi sementara, mereka hanya melihat ada orang yang membuang sesuatu dalam sekolakan, di lokasi penemuan jasad bayi. Namun benda mencurikan di lokasi kejadian sudah kita amankan untuk penyelidikan,” ungkap Kapolres.

Terkait keterlibatan oknum tim medis yang diduga membantu persalinan bayi malang tersebut, Kapala Dinas Kesehatan Rejang Lebong Herwan Antoni kepada Bengkulu Ekspress menegaskan, kemungkinan keterlibatan tim medis dibawah naungan Dinas Kesehatan kecil kemungkinannya.  “Kami tidak bisa menyimpulkan ada atau tidak oknum kebidanan yang terlibat dalam membantu persalinan, kalau saya bisa katakan, kecil kemungkinan itu melibatkan tim medis kami,” tegas lelaki yang akrab disapa Toni itu.

Toni menjelaskan, secara medis persalinan bisa dilakukan dengan bantuan medis, bisa juga dengan bantuan dukun, bahkan orang tua atau ibu yang mengandung bisa melahirkan bayi dalam kandungannya sendiri. “Secara psikologis, dengan beban yang luar biasa dialami sang ibu, karena menolak kelahiran sang bayi karena malu, bisa melakukan berbagai macam cara untuk melahirkan sendiri, tanpa bantuan medis,” kata Toni.

Hanya saja, Toni menegaskan, pihaknya tidak akan membiarkan ada oknum tim medis dibawah naungan pemerintah kabupaten Rejeng Lebong melakukan tindakan aborsi. “Secara etika profesi, jelas itu melanggar jika memang yang melakukan oknum tim medis. Bukan hanya saksi pidana, tapi dipecat dari profesinya, tidak akan diizinkan lagi untuk praktek, serta sanksi berat lainya,” tutur Toni dengan lantang.

Namun Toni berharap, agar tidak muncul spekulasi yang kurang baik yang hanya menduga-duga, masyarakat diharapkan bisa mempercayakan pengungkapan kasus yang cukup menggemparkan tanah Rejang itu kepada polisi. “Kita berdo’a bersama, agar polisi bisa mengungkap pelaku yang tega membuang bayi tanpa dosa ke saluran air itu. Sehingga dengan penyelidikan bisa disimpulkan apa motove dan siapa saja yang terlibat dalam aksi kejahatan itu,” pinta Toni. (999)