Dibius Pria Bertato & Dipaksa Ngamen

CURUP, BE – Keharuan dan gembira tergambar diwajah Pulung (57) dan Saleha (55) warga gang Kenangan RT 1 RW 3 Kelurahan Talang Benih Curup. Sebulan sudah sepasang suami istri itu kehilangan anaknya Muhammad Taufik Hidayat (12) siswa SDN 6 Kelurahan Talang Benih Curup, kini anak bungsu dari tujuh bersaudara itu sudah kembali.

Taufik diketahui menghilang sejak tanggal 22 Oktober lalu, saat anak bungsu dari pasangan Pulung (57) dan Saleha (55) ini menghilang bersama dengan Jidan (13), salah satu tetangga sekaligus teman dekatnya. Berbagai kenangan tidak terlupakan dialami Taufik dan Jidan selama jauh dari kedua orang tuanya.

Ditemui wartawan, Taufik menceritakan pejalanannya, pada hari kejadian Senin (22/10), Taufik beserta Jidan tetangga sekaligus teman dekatnya tengah bersekolah di SDN 6 Kelurahan Talang Benih, seperti biasanya. Tepat pada pukul 12.30 WIB, keduanya dikunjungi oleh 3 orang lelaki tidak dikenal.
Mulanya, ketiga lelaki tersebut mengajak Taufik dan Jidan bermain di depan gerbang sekolah. Tiba-tiba mulut Taufik di bekap oleh salah satu lelaki tersebut hingga tak sadarkan diri. Diduga, terdapat obat bius di sarung tangan tersebut.

“Saya masih ingat ciri-ciri ketiga lelaki tersebut. Jika bertemu saya pasti ingat. Ketiganya berambut cepak, memiliki tato di lengan dan bertindik di bagian hidung telinga dan bibir,” kenang Taufik.
Taufik tersadar dari bius saat hari telah malam. Saat bangun, Taufik telah berada di salah satu taman yang belakangan diketahuinya adalah salah satu
taman kota yang terletak di Padang Harapan Bengkulu, tak jauh dari kantor Pemerintahan Provinsi Bengkulu.

Saat sadar, ternyata Taufik tidak sendirian berada di taman, ada juga Jidan.  “Saya tidak ingat saya dibawa pergi pakai kendaraan apa. Saya baru sadar saat telah ada di sebuah taman. Saya tidak sendirian di sana, bersama saya ada 2 anak kecil lainnya yang baru tiba juga, satu Jidan teman saya dan satu lagi tidak tahu asalnya dari mana,” ujar
Taufik.

Mulanya, ketiga lelaki tersebut bersikap ramah kepada Taufik dan Jidan. Namun, keesokan harinya, Taufik dan Jidan dipaksa untuk mengamen di lampu merah simpang empat Padang Harapan. Jika tidak, ketiga bocah sekolah dasar itu di pukul oleh lelaki tak dikenal tersebut.  Merasa takut, akhirnya Taufik menuruti permintaan manusia tidak berperikemanusian tersebut. Dalam satu hari mengamen, Taufik mengaku mendapatkan uang sebesar Rp. 15 ribu hingga Rp. 17 ribu. Uang itu, wajib disetorkan kepada para preman tersebut. Dalam 1 hari, Taufik hanya diberi makan 1 kali. Nasi 1 bungkus dimakan bersama.

“Saya pernah menolak untuk ngamen, tetapi saya malah dipukul dibagian punggung oleh lelaki itu, saya kesakitan,” cerita Taufik.
Setelah satu minggu berada di taman itu, akhirnya Taufik mendapatkan peluang untuk kabur. Dengan berjalan kaki, Taufik dan Jidan akhirnya tiba di Panorama Bengkulu. Keduanya meminta air minum di sebuah penginapan bernama Diva Hotel. Tak hanya minum, mereka juga di beri makan dan diperbolehkan tinggal disana oleh pemilik Hotel berinisial Jf.

Keduanya akhirnya menginap di hotel itu dan membantu pekerjaan ala kadarnya, seperti nyapu dan ngepel. Hingga akhirnya ada seorang pemuda berinisial Pr (27), warga Air Sebakul menginap di hotel tersebut dan menawarkan pekerjaan kepada Taufik untuk mengangkut sawit di kebun miliknya.

“Saya akhirnya ikut dengan pemuda itu dan menginap dirumahnya selama 5 hari. Sedangkan Jidan lebih memilih untuk tetap tinggal di hotel, membantu pekerjaan nyapu di sana. Dalam satu hari mengangkut sawit saya di beri uang sebesar Rp. 70 ribu.  Uangnya saya belikan baju dan nabung untuk ongkos saat mau pulang,” ujar Taufik.

Setelah 5 hari, pekerjaan mengangkut sawit selesai. Taufik akhirnya memutuskan untuk kembali ke Hotel Diva, tempat dimana Jidan temannya berada. Saat itulah, Taufik akhirnya berbicara dengan pemilik hotel dan minta agar diantarkan pulang ke Rejang Lebong. “Saya ngomong sama pak Jf agar
saya diantar pulang dan akhirnya saya dipesankan mobil travel. Saya dan Jidan akhirnya diantar pulang kerumah pada hari Sabtu (17/11), dan tiba di rumah pukul 14.30 WIB,” cerita Taufik.

Ayah Taufik, Pulung (57) mengatakan dirinya beserta istrinya, Saleha, merasa sangat senang dengan pulangnya Taufik. Bahkan dirinya mengadakan syukuran atas kepulangan putra bungsunya tersebut.  “Saya tidak ada niat ingin kabur dari rumah. Saya juga berjanji akan selalu patuh pada ayah dan ibu. Sebab, saya sudah merasakan betapa sakitnya bekerja untuk mencari nafkah seperti yang bapak dan ibu saya lakukan untuk saya,” tegas Taufik.

Di bagian lain, Pulung berharap, laporannya ke Mapolres RL bisa ditindaklanjuti meski anaknya sudah kembali. “Kejahatan para pelaku itu sudah diluar kemanusiaan. Kalau tidak ditindak, kemungkinan akan ada anak lain yang menjadi korban mereka. Kami minta polisi bisa menangkap mereka dan menindak mereka secara tegas,” pinta Pulung. (999)