Dibalik Kiprah Petugas Pemulasaran Jenazah Covid-19 RSUD M Yunus Bengkulu

Sempat Takut Terpapar,  Ikhlas Bekerja dengan Rasa Tanggung Jawab dan Patuhi Prokes   

IST//BE
Petugas medis saat bertugas dalam pemulasaran jenazah pasien Covid-19 dengan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap.

Selain tenaga medis dan dokter yang menjadi garda terdepan dalam penanganan kasus Covid 19. Petugas lainnya yang tidak kalang penting dan mulia dalam penanganan Covid-19, yakni petugas pemulasaran jenazah. Tugas mereka dalam melaksanakan fardu kifayah hingga jenazah siap untuk dimakamkan sesuai protokol kesehatan (Prokes) yang ada.
Mau tahu suka dukanya menjadi petugas pemulasaran jenazah Covid 19, ini kisahnya.

Budhi Sulaksono, Kota Bengkulu

Zairin SSos, bertugas dibagian pemulasaraan jenazah pasien Covid-19, yang meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah M Yunus Bengkulu. Dia harus siap selama 24 jam. Begitu dihubungi dokter atau tim medis ada pasien Covid-19 meninggal kapan pun itu ia harus siap melaksanakan pemulasaran jenazah. Sebelum pandemi Covid-19, selama ini Zaiirn memang selalu bekerja dibagian mengurus mayat sejak 2003. Meski sudah terbiasa mengurus dan memakankan mayat bahkan mayat yang kematiannya tak wajar sekalipun. Seperti, mayat korban pembunuhan yang sudah busuk dan belatungan, mayat korban tenggelam yang bagian tubuhnya sudah tak utuh lagi. Namun, mengurus pemulasaran mayat pasien positif Covid-19 hal berbeda. Karena, penyakit ini sangat menakutkan, menular dan mematikan bagi masyarakat. Sementara Zairin berhadapan langsung dengan mayat pasien Covid-19.

”Ketika diawal Maret 2020, saat mulai merebaknya Covid-19. Saya sempat takut mengurus pemulasaran jenazah Covid-19. Wabah ini sangat ditakutkan, termasuk juga oleh petugas pemulasaran jenazah. Karena, tentunya bersentuhan langsung dengan pasien Covid-19 yang sudah meninggal,” tutur Zairin pada BE Selasa (27/10).

Seiring sudah banyaknya mayat pasien Covid-19 yang ia urus. Terlebih kini sudah memasuki new normal. Kini sudah tidak ada lagi ketakutan serta kekhawatiran lagi baginya. Dia bisa mengurus pemulasaran pasien Covid-19 dengan perasaan normal. Dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan (Prokes).

Zairin memaparkan, dalam proses pemulasaran jenazah Covid 19 ini, langkah awal yang dilakukan terhadap jenazah adalah dengan cara dibalut menggunakan kantong plastik.Kemudian disemprot dengan disinfektan, dan jenazah tersebut tak dimandikan karena mencegah penyebaran virus Covid-19.

Setelah itu, lanjutnya, jenazah dibungkus lagi dengan plastik kantong mayat yang tidak mudah tembus sebelum dipindahkan ke kamar jenazah, jangan ada kebocoran cairan tubuh yang mencemari bagian luar kantong jenazah.
Namun, sebelum ditutup jenazah yang beragama islam akan ditayamumkan terlebih dahulu.

“Bagi yang muslim kita tayamumkan, lalu kita masukkan ke kantong jenazah, lalu kemudian masuk ke dalam peti, dan petinya kita wrapping dan disinfektan berkali-kali,” ujarnya.

Melalui proses ini, diharapkan dengan sangat agar jenazah pasien Covid-19 tidak ada orang yang tertular atau terinfeksi virus asal Wuhan, China ini. Tentu sudah dalam kondisi yang aman Insya Allah dan mudah mudah tidak menular ke orang lain.

Diceritakan Zairin, suka duka menjadi petugas pemulasaran jenazah terutama pasien yang meninggal akibat terpapar Covid 19 pasti ada. Kalau untuk sukanya. Ia bisa membantu keluarga pasien yang meninggal karena terpapar Covid 19. Hal itu bisa menjadikannya pribadi yang lebih baik lagi. Karena, lebih banyak menghadipi jenazah dengan kondisi penyakit yang disebut sangat berbahaya tersebut dan bisa menjadi amal ibadah nantinya.
Sedangkan, untuk dukanya, tugas dan beban menjadi lebih berat dan banyak. Yang paling utama dia takut ikut terpapar Covid 19, karena bersentuhan langsung dengan jenazah pasien yang terpapar virus korona. Terlebih ketika pulang ke rumah, keluarga menjadi alasan ketakutan yang paling berat. Takut istri maupun anak bisa terpapar covid 19.

Setelah dirinya saat tiba di rumah, tidak dulu bergabung dengan anggota keluarga alias harus menjaga jarak. Terlebih di lingkungan keluarga juga masih terdapat anak kecil hal inilah yang masih terasa berat, namun tugas ini tetap harus terus dijalankan dengan baik karena sudah menjadi resiko dari pekerjaan.
“Sekarang harus pintar-pintar kita jaga jarak dulu, sebelum masuk rumah harus mandi dan ganti baju dulu. Rasa takut dan khawatir itu pasti ada, karena itu manusiawi,” ucap Zairin.

Namun, ketakutan tersebut hilang ketika rasa tanggung jawab atas pekerjaan tersebut dilaksanakan dengan ikhlas dan tulus. Ketika diawal dulu, usai melaksanakan tugas. Setelah proses pemulasaran Zairin dikarantina selama 14 hari. Tentunya hal itu membuatnya tidak bertemu dengan keluarga dan teman-temannya sesama petugas Rumah Sakit M Yunus.

“Rasa takut itu pasti ada bahkan setiap hari selalu ada rasa takut tersebut, tetapi kalau ikhlas dan ini sudah menjadi tanggung jawab rasa takut itu pun dengan sendirinya hilang dan luntur dimakan waktu,” kata Zairin.

Sejak awal kasus pada Maret hingga Oktober 2020 ini, sudah puluhan jenazah yang dimakamkan. Baik yang berstatus positif Covid-19 ataupun yang dimakamkan sesuai protokol Covid kendati statusnya masih (kalau dulu) disebut Pasien Dalam Pengawasan (PDP) atau juga Orang Dalam Pemantauan (ODP).

“Alhamdulillah, sampai sekarang kita petugas pemulasaran jenazah belum ada yang terpapar Covid 19. Mudah-mudahan, jangan sampai ada yang terkena,” ucapnya.

Dalam melakukan tugas, mereka tetap menerapkan protokol kesehatan yakni menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap seperti baju hazmat, topi, masker, sepatu, sarung tangan dan APD lainnya yang dibutuhkan. Pemulasaran jenazah, katanya, biasanya pun dilakukan paling lama selama satu jam.
“Yang terpenting kita harus rajin berolahraga, banyk minum dan makan-makanan yang bergizi, rutin mengkonsumsi vitamin dan selalu menerapkan prokes yang ada,” jelasnya.

Selain itu, ia mengatakan selama menggunakan APD, seluruh aktifivas lain harus ditahan. Misalnya, harus menahan buang air kecil. Termasuk juga buang angin juga harus ditahan, karena memang sebelum menggunakan APD lengkap, mereka (petugas pemulasaran jenazah) sudah mengambil wudhu karena dalam proses pemulasaran juga termasuk menyalatkan jenazah hingga jenazah siap untuk dimakamkan.

“Sebelum pakai APD kita ambil wudhu dulu, karena saat pemulasaran kita juga harus menyalatkan, tapi kalau ada keluarga yang mau menyalatkannya, kami persilakan,” kata Zairin.

Zairin pun berharap, agar para petugas pemulasaran yang saat ini sedang berjuang dan sebagai bagian dari penanganan Covid-19 selalu diberikan kesehatan dan tidak ada yang ikut terpapar Covid 19 serta ia juga meminta agar ada perhatian lebih dari pemerintah.

“Kita berharap pandemi Covid 19 ini segera berakhir dan kondisi bisa normal lagi seperti dulu kala. Karena dengan situasi seperti ini semuanya jadi tidak enak. Oleh sebab itulah kami juga meminta kepada warga Bengkulu untuk selalu mentaati prokes yang ada seperti melakukan 3 M yakni menggunkan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan menggunakan sabun di air yang mengalir,” tutupnya. (**)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*