Dialog New Hot Issue BETV

Istimewa
Dialog live New Hot Issue BETV dengan tema” Kopi Bengkulu Menembus Pasar Dunia, Mungkinkah?,” dipandu GM BETV Susanto, dengan Pengurus AEKI Bengkulu, Tambun Sihombing, Pembina STAB Muspani, dan GM Pelindo II Bengkulu, Nurkholis Lukman, Selasa (22/1)malam pukul 20.30 WIB.

Ekspor Kopi Bengkulu Segera Terealisasi

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Mimpi Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk mewujudkan kegiatan Ekspor Kopi melalui Pelabuhan Pulau Baai nampaknya bukan sebuah isapan jempol belaka. Berbagai upaya telah dilakukan Pemerintah untuk mempercepat kegiatan ini, mulai dari pembebasan lahan kopi masyarakat di kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) dengan skema perhutanan sosial, pendirian pabrik kopi, hingga membranding nama Kopi Bengkulu.

Hal ini terungkap dalam dialog live New Hot Issue BETV dengan tema” Kopi Bengkulu Menembus Pasar Dunia, Mungkinkah?,” dipandu GM BETV Susanto, dengan narasumber Gubernur Bengkulu Dr H Rohidin Mersyah MMA , Pengurus AEKI Bengkulu, Tambun Sihombing, Pembina STAB Muspani, dan GM Pelindo II Bengkulu, Nurkholis Lukman, Selasa (22/1)malam pukul 20.30 WIB.

Gubernur Bengkulu, Dr H Rohidin Mersyah MMA melalui sambungan telephone mengatakan , memiliki keyakinan yang kuat Kopi Bengkulu bisa tembus pasar internasional. Hal ini didukung oleh beberapa keunggulan yang ditawarkan mulai dari cita rasa kopi yang balance dan tidak memiliki rasa asam hingga produktivitasnya terbesar ketiga nasional.

Bahkan dalam setahun produksi kopi di Bumi Raflesia mampu menembus angka 60 ribu ton. Tingginya angka produktivitas tersebut membuat Pemerintah berkeyakinan kalau kopi ini bisa menembus pasar ekspor. “Kalau ekspor berjalan, maka yang akan diuntungkan juga petani, apalagi jumlah petani kita yang menggantungkan hidupnya dari usaha kopi juga cukup tinggi di Bengkulu,” kata Rohidin, Selasa (22/1) malam.

Untuk mewujudkan hal tersebut, Pemerintah telah menerapkan beberapa strategis dalam mendukung kegiatan ekspor kopi seperti mendorong masyarakat petani kopi yang ada di Kabupaten Kaur, Bengkulu Selatan, Seluma, Kepahiang, Bengkulu Utara, dan Rejang Lebong untuk mengurus legalitas lahan melalui skema perhutanan sosial. Ini dilakukan agar mereka lebih tenang mengelola hutan sehingga tidak perlu lagi khawatir dikejar-kejar oleh Aparat Penegak Hukum.

“Program perhutanan sosial ini menjadi hal yang sangat penting, sekarang kita tengah melakukan pendataan dan nanti akan dilakukan proses secara kolektif di Beberapa wilayah di Provinsi Bengkulu agar semua kebun kopi yang ada di kawasan HPT bisa dikelola oleh masyarakat,” ujar Rohidin.

Setelah masyarakat mendapatkan izin mengelola HPT, Pemerintah Provinsi Bengkulu bersama-sama dengan Pemda terkait akan mendampingi para petani kopi mulai dari proses petik hingga ke pengelolaan panen. Ini dilakukan agar kopi yang dipetik dan dikelola mutunya benar-benar sesuai dengan keinginan pasar Internasional. Sehingga kopi Bengkulu tidak hanya terkenal sebagai penghasil kopi terbesar saja, akan tetapi termasuk jajaran kopi berkualitas di dunia.

“Petani kopi yang sudah ada lahan, perlu pendampingan berupa pemberian bibit kopi sambung dan pendampingan petik merah. Kalau ini dilakukan secara menyeluruh maka kualitas produksi akan menjadi lebih baik, produktivitas meningkat, pendapatan petani meningkat,” tutur Rohidin.

Selanjutnya kopi berkualitas tersebut nantinya akan langsung di proses oleh Pabrik Kopi di Bengkulu milik PT. Citra Kopi Bengkulu. Pabrik yang berdiri mulai Desember 2018 lalu ini, diperkirakan mampu menampung seluruh kopi di Provinsi Bengkulu. Bahkan mampu mengelola sebanyak 10 ton biji kopi dalam satu jam, 200 ton biji kopi dalam satu hari, dan 6 ribu ton dalam sebulan. Ribuan ton kopi tersebut nantinya akan dikemas dalam bentuk bubuk dan langsung di ekspor melalui Pelabuhan Pulau Baai Kota Bengkulu.

“Dengan kopi Bengkulu langsung di ekspor melalui Pelabuhan Pulau Baai maka harga jual kopi di tingkat petani dipastikan naik karena biaya transportasinya menjadi turun termasuk penyusutan dijalan juga berkurang,” kata Rohidin.

Pihaknya yakin, jika hal tersebut bisa terlaksana dengan baik maka kegiatan ekspor kopi di Bengkulu bisa berjalan sukses nantinya. Lebih lagi kegiatan ekspor kopi ini juga telah mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak mulai dari Serikat Tani Bengkulu (STAB), Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), dan PT Pelindo II Bengkulu.

Bahkan PT Pelindo II Bengkulu pada pada 2019 ini akan mengembangkan terminal curah kering dan peti kemas untuk mendukung kegiatan ekspor kopi ini. “Kita akan bekerjasama dengan berbagai pihak serta membranding nama kopi Bengkulu agar kegiatan ekspor kopi ini bisa terwujud,” ungkap Rohidin.

Bentuk branding kopi Bengkulu yang dilakukan oleh Pemerintah yaitu memperkenalkan nama kopi asli Bumi Raflesia dengan nama Bencoolen Coffee. Sehingga meskipun Bengkulu memiliki banyak varian kopi dan sebagian sudah didaftarkan ke Kementerian Hukum dan Ham dan telah mendapat sertifikat identifikasi geografis (IG), nama kopi Bengkulu adalah Bencoolen Coffee.

“Kita ingin kopi Bengkulu seperti Kopi Toraja, Kopi Gayo, kita berkeinginan agar merek kopi Bengkulu adalah Bencoolen Coffee. Sehingga kalau orang berkunjung atau datang ke Bengkulu, maka akan merasakan segelas atau secangkir Bencoolen Coffee,” tutupnya.

Sementara itu, Perwakilan AEKI Provinsi Bengkulu, Tambun Sihombing mengaku, cukup senang dengan segala upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Bengkulu, karena itu bisa membuat kopi ini semakin terkenal. Apalagi berdasarkan data survei yang dilakukan Kopi Bengkulu terkenal enak dan disukai masyarakat Eropa.

Pasalnya masyarakat Eropa merupakan penduduk dunia yang paling doyan mengkonsumsi kopi robusta. Sehingga ini merupakan salah satu kesempatan yang cukup baik untuk bagi Bengkulu untuk mengekspor kopi mengingat Provinsi ini termasuk penghasil robusta terbesar di Indonesia.

“Kopi Bengkulu secara kualitas sudah bisa dilakukan ekspor, kita akan upayakan agar sesegera mungkin kopi ini bisa langsung di ekspor langsung dari Bengkulu jadi petani akan semakin sejahtera,” tuturnya.

Sementara itu, Pembina STAB Bengkulu, Muspani SH mengaku, kesejahteraan para petani kopi di Bengkulu harus terus didorong, karena hampir 50 persen masyarakat Bengkulu bergantung hidup dari sektor perkebunan kopi. Dengan adanya kegiatan ekspor kopi dari Bengkulu, maka kepastian harga kopi di tingkat petani menjadi terjamin. Selama ini seperti diketahui, harga kopi selalu mengalami penurunan, ini disebabkan oleh permainan para tengkulak.

Oleh sebab itu, dengan adanya kerjasama Pemerintah dan AEKI maka mimpi mewujudkan kopi Bengkulu mendunia semakin nyata.”Petani sudah menantikan harga kopi bisa tinggi, kami sangat berharap kopi Bengkulu bisa di ekspor langsung dari Bengkulu dan petani bisa makmur dan sejahtera,” tutupnya.

Selain itu, GM Pelindo II Bengkulu, Nurkholis Lukman didampingi Mantan GM Pelindo II Bengkulu, Hambar Wiyadi mengatakan, pihaknya mendukung rencana Pemerintah dan AEKI untuk melakukan ekspor kopi melalui Pelabuhan Pulau Baai.

Bahkan pihaknya telah memiliki sejumlah program strategis pengembangan Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu diantaranya terminal curah kering, terminal curah cair, otomatisasi IT, dan upgrade kawasan pabean. Bahkan pihaknya akan menyiapkan sebanyak 1.000 peti kemas ukuran 20 ton untuk merealisasikan kegiatan ekspor kopi di Bengkulu.

“Kami dari Pelabuhan siap mendukung Pemerintah dan AEKI untuk ekspor Kopi Bengkulu, volume yang bisa diangkut mencapai 1000 peti kemas perbulan dan akan bekerjasama dengan Shipping Line,” tutupnya.(999)