Di Tangan PNS Ini Botol Bekas jadi Sofa Cantik, Keren!

bengkulu
Joseph Leonard Kale saat memamerkan hasil karyanya mendaur ulang botol plastik menjadi kursi Sofa. Foto: Fenti Anin/Timor Ekspress/JPNN.com

jpnn.com – Joseph Leonard Kale yang akrab disapa Jonard merupakan pegawai di Bappeda Kota Kupang, NTT.

Usaha kreatif PNS yang satu ini patut diacungi jempol. Ia bisa menciptakan kursi sofa yang cantik menggunakan botol bekas air mineral dan kardus bekas. Karyanya pun sudah masuk pasar.

FENTI ANIN, Kupang

Mendaur ulang barang bekas menjadi barang bernilai jual merupakan sesuatu yang unik dan tentunya membutuhkan keterampilan.

Di sela-sela kesibukannya, ia senang mendaur ulang barang bekas menjadi barang yang berkualitas dan bernilai jual tinggi.

Kepada Timor Express (Jawa Pos Group), Senin (6/3), Jonard mengaku mempunyai hobi mendaur ulang barang bekas sejak usia remaja.

Ia memanfaatkan sisik ikan. Menyulapnya menjadi aneka souvenir. Ia bahkan menciptakan pohon natal dari sisik ikan.

Beberapa waktu lalu, ia mencoba mencari ide baru di internet tentang cara mendaur ulang barang bekas.

Ia tertarik dengan cara mendaur ulang botol bekas menjadi kursi sofa.

Namun, karena sumbernya tidak menjelaskan secara rinci, ia pun mulai berinovasi sendiri.

Ia menggunakan bahan dasar botol plastik minuman bersoda. Botol-botol direkatkan dengan lem dan lakban.

Untuk membuat satu kursi berukuran 40 x 40 cm, membutuhkan 50 botol plastik.

Botol-botol kemudian dibalut dengan kardus bekas dan distaples. Bagian atasnya direkatkan spon kemudian ditutupi dengan sarung sofa. Warnanya tergantung selera.

Jonard mengaku memperoleh botol bekas dari para pemulung yang sudah menjadi langganannya.

Ia pun tak kesusahan mendapatkan botol bekas. Nah, saat pulang kantor, Jonard mulai menggeluti sampah-sampah botol tersebut. Kini, ia sudah mulai mendapat pesanan.

Usahanya baru berjalan selama dua minggu, namun sudah banyak pesanan.

Menurutnya, harga yang ditawarkannya terjangkau yaitu Rp 150.000 per kursi.

Sofa yang ciptaan Jonard belum diberi merk. Namun, ia menjamin kualitasnya.

“Tidak mudah rusak karena terbuat dari botol sehingga tidak mudah menyusut,” katanya.

Selain itu, dengan aksinya ini, secara tidak langsung mengurangi sampah plastik yang ada di Kota Kupang.

“Selain untuk hobi juga menghasilkan uang. Selain itu juga dapat mengurangi sampah plastik,” kata Jonard.

Ia juga memanfaatkan tutupan botol menjadi tempat sampah dan tempat tisue. (*/sam)