Di Kota Bengkulu, Hanya Ada 5 Dokter Tangani Down Syndrome

nelli dinas kesehatanBengkulu, bengkuluekspress.com – Pada 21 Maret ini, diperingati sebagai hari Down Syndrom Internasional. Penyakit kelainan fisik pada anak yang menyebabkan gangguan belajar dan ciri fisik tertentu. Penyakit ini cukup banyak diderita anak di Kota Bengkulu. Tahun ini jumlah penderita down syndrome di Kota Bengkulu mencapai 72 orang. Paling banyak didominasi jenis kelamin laki-laki sebanyak 60 orang. Data ini merujuk pada data 2017 yang dimiliki Dinas Kesehatan Kota Bengkulu.

Jumlah penderita down syndrome pada tahun lalu sejumlah itu, dan anak-anak itu diyakini hingga triwulan pertama 2018 ini belum sembuh.

Mirisnya lagi, penanganan down syndrome ini seakan terabaikan. Mulai dari orangtua yang enggan membawa anaknya berobat. Hingga ke jumlah tenaga medis yang mampu menangani pasien down sydrome pun minim. Di Kota Bengkulu hanya ada 5 dokter dan 5 perawat yang sudah mengikuti pelatihan penanganan down sydrome.

Jumlah itu tentu tak sebanding dengan banyaknya anak pasien down syndrome yang mencapai puluhan orang.

Saat ditemui bengkuluekspress.com, Selasa (20/03) di Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Nelli Hartati menyampaikan, di Kota Bengkulu ini hanya 5 puskesmas yang telah melaksanakan pelatihan penanganan down syndrome dari jumlah 20 puskesmas yang ada di Kota Bengkulu.

Kelima puskesmas itu masing-masing memiliki 1 orang dokter dan 1 orang perawat. Kelima puskesmas itu diantaranya, Puskesmas Sidomulyo, Basuki Rahmat, Jalan Gedang, Padang Serai dan Puskesmas LingkarĀ  Timur.

Down syndrome ini termasuk dalam kategori gangguan jiwa. Untuk spesifik mengenai down syndrome
memang belum ada. Selain itu, dari Kementerian Kesehatan pun kami belum ada buku petunjuk pedoman tentang down syndrome. Saat ini kami hanya menangani pasien down syndrome berdasarkan pengetahuan medis secara standar saja,” kata Nelli.

Tindakan untuk penanganan keluhan masyarakat di Kota Bengkulu terhadap penyakit ini hanya dilakukan pemberian obat seadanya, misalkan obat penenang. Hal ini, kata Nelli, disebabkan belum adanya standar operasional prosedur (SOP) tentang penanganan khusus penyakit down syndrome membuat penyakit ini nampak terabaikan.

“Saya kira kita juga harus peduli dengan pengidap penyakit down syndrome. Kami berharap segera mendapat pelatihan atau tidak kami mempunyai modal SOP penanganan penyakit ini,” ungkap Nelli.

Down syndrome merupakan salah satu kelainan genetik yang paling umum terjadi. Ada beberapa faktor
penyebab penyakit ini antara lain, pernikahan sedarah, terjangkit virus rubela saat ibu sedang hamil dan faktor keturunan. Down syndrome terjadi sejak masa awal kehidupan. Kondisi ini berlangsung seumur hidup, namun dengan perawatan yang tepat, orang denganĀ  down syndrome dapat tumbuh dengan sehat, hidup dengan bahagia dan produktif bagi lingkungan.

Gejala-gejala umum dari down syndrome seperti leher pendek, fitur wajah yang datar, kepala berukuran kecil dan kelainan fisik lainnya.

Dinas kesehatan berharap, Kementrian kesehatan dapat segera memberikan pelatihan khusus penyakit down syndrome. (IMN)