Di Balik Lucunya Badut Jalanan, ada Kisah Pahit Gadis yang Putus Sekolah..

Laras/BE
Tika Meita Cantika dan Auliya menjadi badut jalanan demi mendapatkan rupiah dari pengguna jalan di Simpang Lima Ratu Samban

Di balik kostum lucu badut jalanan, ada kehidupan pahit yang menguras peluh. Seperti halnya dialami Tika Meita Cantika, harus putus sekolah dan bekerja menjadi badut demi mendapatkan rupiah.

==============================
Laras Prameswari, Kota Bengkulu
===============================

DI BAWAH  terik matahari, lampu lalu lintas di Simpang Lima Ratu Samban berubah warna merah. Para pengendara pun menghentikan kendaraan mereka dan menunggu lampu berubah menjadi hijau.
Saat itulah, badut jalanan itu bergegas menghampiri pengendara yang berhenti. Mengenakan kostum kain, wig, dan topeng ia menghibur siapa saja yang melintas. Bergoyang ke kiri dan ke kanan, sambil melambaikan tangan. Berharap mendapatkan rupiah dari kedermawanan pengendara untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Di balik kostum badut yang sudah dibanjiri keringat itu, ada seorang remaja perempuan bernama Tika Meita Cantika dan adiknya Auliya. Keduanya berasal dari Prabumulih, Sumatera Selatan. Sengaja datang ke Bengkulu, sejak sebulan lalu. Reka menjadi badut dengan cara berpindah-pindah agar mendapatkan uang. Sebelumnya, pekerjaan ini ia lakoni di Palembang dan Jambi.

Tika tampak menyeka peluh yang mengucur di wajahnya. Maklum, di dalam kostum badut, menurutnya sangat panas. Gadis berusia 15 tahun ini mulai menghibur pengendara dari pukul 12.00 WIB sampai 17.00 WIB di Simpang Lima Ratu Samban. Ia tidak berpindah-pindah tempat agar tidak perlu berjalan jauh untuk pulang ke rumah. Penghasilan yang didapat tika menjadi badut jalanan sebesar Rp 50 ribu hingga Rp 70 ribu per hari. “Namun jika sedang bernasib baik, ia bisa mendapatkan Rp 150 ribu per hari,” ujarnya.
Tika bercerita telah menjadi badut jalanan sejak 3 tahun lalu, saat ayah dan ibunya berpisah. Tepatnya, ketika ia lulus dari bangku Sekolah Dasar. Saat itu, ia diajak pamannya yang berprofesi sebagai badut jalanan untuk bekerja sepertinya. Dengan banyaknya pertimbangan dan harapan dapat membiayai sekolah dan kebutuhan hidup sang adik, akhirnya memutuskan untuk menjadi badut jalanan.
Remaja yang mengenakan kostum badut batik besurek ini mengaku menjadi badut jalanan gampang-gampang susah. Suka dukanya banyak. Paling menyenangkan, apabila yang yang dihiburnya tertawa. Terkadang, ada yang menghampiri, kemudian meminta berfoto. Pengalaman pahit juga ada.


Suatu ketika, Tika sedang asyik bergoyang dan melambai-lambaikan tangan. Lalu seorang pengamen menghampiri. Tanpa rasa curiga, Tika membiarkannya mendekat. Ternyata, dia tertarik dengan celengannya. “Dia (pengamen), berlagak hendak memberikan uang. Tetapi malah mengambil uang di dalam celengan, kemudian melarikan diri,” tuturnya.
Meski telah menjalani profesi ini selama tiga tahun, Tika mengaku masih merasa malu. “Malu sebenarnya, tapi jika tidak bekerja maka auliya tidak bisa sekolah dan makan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.
Tika mengungkapkan tidak akan selamanya bekerja di Bengkulu. Ia kan kembali ke Palembang dan bekerja disana ketika adiknya mulai masuk sekolah. Untuk kedepannya Tika berharap adiknya bisa melajutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi agar tidak bernasib sepertinya.(Mg6).

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*