Dewan Tak Setuju Tukar Guling SPP

KEPAHIANG, BE – DPRD Kepahiang dinilai tidak bergeming terkait tukar guling Sekolah Pertanian dan Pembangunan (SPP) Kelobak. Pasalnya, kalangan dewan lebih setuju lahan SPP itu dibeli dibandingkan tukar guling.
Waka I DPRD Kepahiang H Zurdinata SIp dikonfirmasi menegaskan pihaknya pernah memberikan masukan kepada pihak Pemkab terkait pembebasan lahan SPP tersebut.

“Pembebasan yang pernah kita usulkan agar lahan itu dibeli. Saya rasa kita di DPRD ini siap menganggarkan, terlebih lagi hal itu demi pembangunan kabupaten kita ini sendiri. Apalagi sengon akan panen, jadi pasti sangguplah kita membelinya,” sindir Nata.
Dijelaskannya, menyangkut usulan itu, pihaknya berharap memang ada tim penilai sehingga baik Pemprov ataupun Pemkab tidak ada yang merasa dirugikan. Sayangnya usulan yang pernah disampaikan tersebut tidak ditanggapi oleh Pemkab itu sendiri. “Sebenarnya jika usulan kita itu ditanggapi ataupun direalisasikan kemungkinan akan menimbulkan permasalahan sangat kecil dibandingkan dengan tukar guling itu,” ujar Nata.

Karena, lanjut Nata, dengan tukar guling itu pasti masyarakat akan menjadi korban, terlebih lagi saat ini diketahui lahan yang dijadikan tukar guling itu sudah digarap masyarakat. Artinya walaupun langkah Pemkab terealisasi tidak menjamin kedepannya bakal tidak bermasalah.

“Usulan yang kita sampaikan itu sudah kita kaji terlebih dahulu, tapikan tidak ditanggapi. Jadi sekarang ini tidak etis jika kita dinilai tidak perduli dengan upaya yang dilakukan Pemkab dalam rencana pembangunan,” kata Nata.

Di sisi lain, Nata mengatakan, sejauh ini DPRD terus mendukung apa yang dilakukan Pemkab. Hanya saja terkait masalah ini jika awalnya Pemkab itu mengikuti mekanisme dan prosedur yang ada pasti tidak akan terjadi seperti ini. “Yang jelas langkah yang diambil Pemkab tetap kita dukung, dengan catatan di belakang hari tidak sampai menimbulkan permasalahan lagi. Jika diibaratkan, kita saat ini mendirikan rumah di tanah orang, sudah barang tentu akan bermasalah. Meskipun demikian kita berharap ini terselesaikan,” demikian Nata. (505)