Dewan Kecewa RSUD

lebong_RSUD
SIDAK : Menindak lanjuti keluhan masyarakat terhadap RSUD, anggota DPRD Lebong Dapil II melakukan sidak ke RSUD Lebong.

LEBONG SAKTI,BE – Keluhan masyarakat mengenai pelayanan dan fasilitas rumah sakit umum daerah Kabupaten Lebong langsung ditindaklanjuti DPRD Lebong. Anggota dewan dari daerah pemilihan (dapil) 1, kemarin (30/3) melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke RSUD Lebong. Dewan pun kecewa dengan manajemen RSUD, karena saat tiba di RSUD tidak ada satupun pejabat maupun PNS ada di rumah sakit tersebut.

“Kita sampai di RSUD ini tepat pukul 13.40 WIB dan tidak ada satu orang pun PNS Sekretariat RSUD berada di kantor kecuali petugas atau perawat yang saat ini piket. Padahal jam pulang kantor pukul 14.00 WIB,” ungkap Anggota DPRD Lebong M Evandri.

Keluhan mengenai rumah sakit itu diterima dewan saat kegiatan reses di Desa Danau Liang, Kecamatan Lebong Tengah Rabu (30/3). Usai reses Waka I DPRD Lebong Mahdi SSos, M Evandri, Apriantono SE dan Widuri Vivi Selviana langsung melakukan sidak ke RSUD Lebong.

Terkait kondisi RSUD itu, Waka I DPRD Lebong, Mahdi SSos meminta Pemerintah Daerah (Pemda) Lebong, Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Inspektorat bahkan Bupati Lebong mengevaluasi kinerja pegawai RSUD atas pelayanan kurang baik tersebut. Padahal seharusnya RSUD institusi pelayan masyarakat menunjukkan disiplin yang tidak baik.

“Keluhan masyarakat saat reses ternyata benar. Belum waktu pulang kantor, pegawainya sudah pulang. Bagaimana mau melayani masyarakat jika disiplin pegawainya saja kurang,” tegas Mahdi.
Empat anggota dewan yang sidak ke RSUD tersebut juga mengeluhkan kurangnya fasilitas di RSUD tersebut. Mulai dari kamar mandi yang tidak ada airnya hingga kasur pasien yang tidak layak lagi.

“Setiap tahun kita anggarkan untuk fasilitas RSUD, masa air di kamar mandi sampai tidak ada. Padahal untuk pembelian tedmon (penampungan air) sudah dianggarkan,” cetus Vivi.
Parahnya lagi, Wakil Ketua I DPRD Lebong Mahdi SSos dan Apriantono SE menemukan plastik ikan yang digunakan untuk menampung air dalam bak kamar mandi.

“Jadi biaya pemeliharaan selama ini kemana, setiap tahun itukan ada biaya pemeliharaan,” kata Apriantono.

Sayangnya, hingga berita ini diterbitkan tidak ada satu pun pihak RSUD yang bisa dikonfirmasi karena sebelum pukul 14.00 WIB pegawai sekretariat RSUD Lebong sudah tidak ada. Sedangkan Direktur RSUD yang dioba dihubungi melalui ponselnya dalam kondisi tidak aktif.

“Ibu Direktur sedang keluar kota kalau hari ini pak, kalau PNS di Sekretariat tadi pukul 13.30 WIB suadah pulang,” kata salah satu petugas perawat instalasi rawat inap RSUD Lebong kemarin.
Saat reses dewan, Warga Desa Semelako II Darmadi  menceritakan pengalamannya selama mengantarkan warganya berobat di RSUD Ujung Tanjung.

“Beberapa waktu lalu saya mengantarkan ada warga yang sedang sakit ke RSUD, namun oleh petugas RSUD belum diperiksa terlebih dahulu pasien tersebut langsung dirujuk ke luar. Ditambah lagi, fasilitas air bersih di ruang rawat inap sering kosong tidak ada airnya,” kata Darmadi.

Selain itu, Goju (28) salah satu keluarga pasien mengatakan,  dirinya harus mengangkut air dari sumur di luar untuk mengisi bak kamar mandi ruang rawat inap RSUD tersebut. Hal ini dilakukannya karena air di ruangan tersebut tidak tidak mengalir.

“Kalau air kami harus mengangkutnya dari sumur di luar, karena keran air di kamar mandi tidak mengalir. Kita kasihan kadang pasien mau ke kamar mandi tapi tidak ada air,” keluhnya.

Anggota Komisi I, Widuri Vivi Selviana yang mendengar hal itu pun geram. Ia yang juga anggota Banggar DPRD Lebong mengetahui persis dana yang dikucurkan untuk RSUD dari dana APBD setiap tahunnya yang tidak sedikit.

“Kebetulan yang menangani ini bidang saya dan saya juga kebetulan anggota banggar. Jadi setiap tahunnya dana yang dikucurkan ke RSUD tidak sedikit. Demi memberikan pelayanan kesehatan yang memadai untuk masyarakat Lebong,” tegas Vivi (777)