Dewan Awasi Perbaikan Balai Adat

BENGKULU, BE – Anggota DPRD Kota Bengkulu, khususnya komisi II akan terus memantau dan mengawasi pengerajaan dan perbaikan Balai Adat Kota Bengkulu oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU). Hal tersebut dilakukan mengingat pada inspeksi mendadak (Sidak) Rabu (17/10) lalu, ditemukannya pengerjaan yang kurang sempurna dan terkesan asal-asalan.

“Kami tidak mau lagi kecolongan dan terkecoh dengan pengerjaan bangunan tersebut yang kelihatanya asal jadi, maka kedepannya kami akan terus melakukan pengawasan secara intensif,” kata sekretaris komisi II, Sandy Bernando ST.

Ia mengungkapkan banyak kerugian yang ditimbulkan akibat pengerjaan yang kurang baik tersebut, seperti kembali menghabiskan anggaran untuk perbaikan jika telah dilakukan serah terima secara keseluruhannya kepada pemda kota. Padahal seyogyanya suatu bangunan baru dilakukan perbaikan minimal telah berumur 10 tahun.

“Kita kita sayangkan, kok bisa belum serah termia tapi sudah rusak. Kalau demikian halnya, maka dapat dipastikan bahwa bangunan itu akan terus menelan biaya perbaikan yang tidak sedikit akibat dari kurang bagusnya pengerjaan,” ungkapnya.

Beberapa kerusakan yang telah terlihat saat ini, yakni atap bocor sehingga air terus merembes ke palfon dan tergenang diatas lantai keramik, dinding pada bagian atas telah mulai retak yang harus segera di perbaiki dan beberapa kerusakan lainnya.

Untuk pembuatan gedung tersebut, Pemda kota telah mengucurkan dana sebesar Rp 12 milair lebih, sementara kualitas pengerjaan bangunan masih mengecewakan banyak pihak.

Senada juga disampaikan anggota komisi III, Rendra Ginting SP. Ia mengakui memang selama proses pengerjaan Balai Adat tersebut beralngsung, pihaknya hanya memantau dari jarah jauh karena merasa yakin kepada Dinas PU sebagai teknisnya. Namun kepercayaan tersebut ternodai setelah pihaknya menemukan pengerjaan yang kurang maksimal itu.

“Tidak hanya berbaikan itu yang akan kita awasi, akan tetapi juga termasuk pengerjaan jalan sekeliling, landscape dan pembuatan ornamen adatnya. Kita khawatir jika tidak diawasi, pengerjaannya ornamennya malah tidak sesusai dengan adat kota Bengkulu yang sebenarnya apalagi dana yang dihabiskan untuk itu mencapai Rp 800 juta,” sampai Rendra.

Dibagian lain, Kasi Tata Bangunan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota, M Ral membantah bahwa pengerjaan asal-asalan, karena menurutnya pihaknya telah melaksanakan pembuata gedung tersebut dengan sebaik-baiknya.

“Mengenai ada atap yang bocor, kemungkinan akibat musim kemarau beberapa waktu lalu sehingga banyak paku yang renggang dan ketika hujan air pun merembes. Sedangkan ditemukannya ada keretakan, kemungkinan disebabkan gempa yang sering melanda kota Bengkulu,” terangnya.

Kendati demikian, pihaknya siap untuk memperbaiki kerusakan tersebut sebelum dilakukan penyerahan seluruhnya kepada pemkot. Tidak hanya itu, ia juga menyanggupi akan mengawasi pekerja dalam hal membangun jalan sekeliling Balai dengan anggaran Rp 100 juta, pembuatan landscape Rp 400 juta dan ornamen Rp 300 juta.

“Kami siap mengikuti saran-saran yang disampaikan anggota dewan, agar Balai Adat ini betul-betul mencerminkan adat buday asli kota Bengkulu,” tutupnya. (400)