Derta “Membatik” Basurek, Dibeli Istri Paku Alam X

Ist/Bengkulu Ekspress MEMBATIK: Derta Wahyulin Rohidin Mersyah Membatik di "Batik To The Moon" di Jogja Expo Center (JEC).
Ist/Bengkulu Ekspress MEMBATIK: Derta Wahyulin Rohidin Mersyah Membatik di “Batik To The Moon” di Jogja Expo Center (JEC).

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Ketua Dekranasda Provinsi Bengkulu Derta Wahyulin Rohidin Mersyah, mendapat kesempatan istimewa “membatik” bersama istri Paku Alam X Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam di Festival Jogja Kota Batik Dunia 2017.

Acara yang diselenggarakan di Jogja Expo Center (JEC) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini, menampilkan berbagai hasil karya orisinal batik berkelas di berbagai daerah, terbasuk kain besurek dari Provinsi Bengkulu. Dalam festival dan pameran batik dengan tajuk “Batik To The Moon” ini, Ketua Dekranasda Provinsi Bengkulu Derta Wahyulin Rohidin Mersyah mengaku senang Bengkulu dilibatkan dalam event tersebut.

“Kami berterima kasih Bengkulu bisa terlibat dalam acara ini dan langkah ini sebagai ajang promosi untuk Bengkulu,” ujar Derta saat usai membatik di acara Jogja Expo Center (JEC), kemarin (25/10).

Dikatakanya, acara yang dihadiri lebih dari 150 Industri Kecil Menengah (IKM) se-DIY dan perwakilan Dinas Perindustrian dan Perdagangan provinsi serta kabupaten/kota se-Indonesia itu.

Stand Kain Besurek milik Dinas Perindag Provinsi Bengkulu ramai didatangi pengunjung, bahkan selepas pembukaan, stand Kain Besurek mendapat kunjungan istimewa dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY serta istri Paku Alam X. “Apresiasi dari pengusung terhadap kain besurek sangat bagus sekali,” paparnya.

Tak tanggung-tangung, pada kesempatan pembukaan stand itu, istri Paku Alam X pun membeli salah satu kain kebanggaan masyarakat Bengkulu. Sebab, tidak bisa dipungkiri,
kain Besurek dengan motif kaligrafi arab dan coraknya yang unik, menjadi daya tarik tersendiri dalam pameran bergengsi ini. “Kain besurek juga banyak yang membeli. Ini sebagai bentuk betapa kain asli Bengkulu banyak diminati,” tambah Derta.

Acara yang bertepatan dengan peringatan 50 tahun World Craft Council ini memberikan predikat Jogja Kota Batik Dunia pada tahun 2014 lalu. Event itu juga bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat termasuk Industri Kecil Menengah.

Menurut Gubernur DIY yang pada kesempatan ini diwakili oleh Asisten Bidang Pemerintahan dan Pembangunan Sekretariat Daerah Pemda DIY Sulistyo, “Batik To The Moon” bermakna bahwa penjelajahan batik tidak terbatas hingga ke bulan.

“Dengan pengandaian Batik To The Moon, tema ini bukan hanya menjadikan batik monumen mati atau teronggok menjadi tinggalan budaya bagi generasi baru, melainkan ajakan bagi masyarakat batik untuk lebih gumregah, mengembangkan batik melanglang dunia,” pungkas Sulistyo saat membacakan sambutan Gubernur DIY. (151)