Demi Rp 4 Juta, Habisi 2 Nyawa

TELUK SEGARA, BE – Nyawa manusia kini seakan tak berharga. Hj Mas Intan (50) dan anak tunggalnya H Wegi (18), 19 Desember 2011 lalu, tidak hanya dibunuh secara sadis dan brutal. Tapi nyawa ibu dan anak itu melayang hanya dipicu uang Rp 4 juta serta 5 gelang yang ternyata imitasi. Dari keterangan tersangka Juanda (30) terungkap dalang aksi pembunuhan sadis dengan modus perampokan itu Amin (31) yang juga telah diringkus dan Sahri, kini masih buron. Juanda mengaku tak bisa menghalangi kedua rekannya. Upaya tersebut terpaksa dilakukan lantaran Sahri dan Amin sempat berdebat soal ongkos pulang ke Sumsel. Muncul rencana untuk meminta ongkos pulang kepada korban pagi hari. Tapi rencana itu tiba-tiba berubah. Ternyata kedua rekannya mulai beraksi dengan cara masuk ke dalam kamar korban Hj Mas Intan. Namun aksi mengendap-endap keduanya diketahui Mas Intan, sehingga korban langsung dipukul dan kemudian ditikam secara membabi-buta. “Aku terbangun dan menyaksikan ibu haji yang diketahui merupakan bibi aku telah meregang nyawa. Saya tidak ikut serta sekalipun pak, bahkan saya berani sumpah,” terang Juanda Kemudian lanjut Juanda, anaknya Hj Mas Intan ikut terbangun dan langsung bereaksi berupaya untuk mencari tahu kejadian keributan di dalam kamar. Namun belum sampai di dalam kamar, korban Wegi kembali ditujah secara seketika oleh korban Sahri. Tujahan itu tak membuat roboh korban, sehingga Amin ikut ikut menujah dengan sebilah pisau. “Kami langsung mengambil uang Rp 4 juta serta 5 gelang imitasi dan meninggalkan kota. Uang itu kami bagi rata uang sebesar Rp 800,” aku Juanda. Dalam pelarian itu lanjut Juanda, dirinya yang membawa motor Honda Tiger milik korban. Soalnya kedua rekannya tak bisa mengendarai motor. Berdasarkan ide Sahri pula, motor berlumuran darah itu sengaja ditinggal di Kepahiang untuk hilangkan jejak. Sesampainya di Curup mereka menggunakan ojek. Selama di dalam persembunyian, dirinya telah beberapa kali ketemu dengan Sahri. Ia pun diancam Sahri agar aksi pembunuhan itu tidak diceritakan, sebab siapa yang membocorkannya atau menyerahkan diri akan dibunuh. Selama itu pula mereka memilih bertani di kebun. “Sejujurnya di desa kami dikucilkan oleh warga. Mereka tahu bahwa kami telah membunuh korban,” bebernya

Sementara itu Kapolres Bengkulu AKBP H Joko Suprayitno SST MK didampinggi Kasat Reskrim AKP Gunar Rahadyanto SIK mengungkapkan saat penggerebekan tersangka utama Sahri sempat memberondongnya dengan tembakan. Sebab, tersangka diketahui memiliki 2 pucuk senjata api laras pendek. “Kita mengkhawatirkan pelaku akan menembak kita setelah mendapatkan info jika pelaku memiliki dua pucuk senpi. Setelah diperiksa kembali tersangka telah kabur,” terang Kapolres Bengkulu AKBP H Joko Suprayitno SST MK didampinggi Kasat Reskrim AKP Gunar Rahadyanto SIK  Dari informasi di Desa Ngestiboga 2 Kecamatan Jaya Loka, Musi Rawas, Sumsel, warga mengucilkan para pelaku. Sebab mereka diketahui telah melakukan pembunuhan di Bengkulu.”Warga setempat tidak ada yang ingin memperkerjakan mereka sebagai buruh tani dan bekerja bersama mereka. Lantaran takut akan jadi korban pembunuhan kembali,” imbuh Kasat.(333)