Demi Mencari Nafkah

RIO/Bengkulu Ekspress
BERKUMPUL: Ratusan Driver Grab Bike dan Grab Car yang berkumpul di Pelataran Stadion Semarak Sawah Lebar mendapatkan arahan dari Kepolisian agar dapat menahan diri dan menjaga situasi keamanan pasca keributan dengan sopir angkot, Rabu (5/9).

Sopir Grab VS Angkot Bentrok

TONGKRONGAN sopir Grab di pangkalan ojek di Jalan Beringin Kelurahan Padang Jati Simpang Skip, mendadak diserang oleh puluhan sopir Angkutan Kota (Angkot), kemarin (5/9). Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 11.00WIB siang ini dipicu karena masih adanya sopir Grab beroperasi mengangkut penumpang, pada saat ratusan angkot tengah mogok dan melakukan hearing di Dishub Provinsi. Sehingga terjadi baku hantam dan menjadi pusat perhatian masyarakat.

“Tadi ada angkot putih dan kuning berenti disimpang itu, terus ada beberapa orang keluar dari angkot itu langsung ribut-ribut dipangkalan ojek, tapi gak lama dari itu ada polisi datang,” ujar Wati salah satu saksi mata saat berada di lokasi.

Belum lama keributan ini terjadi, pihak Polisi Lalu Lintas (Polantas) yang kebetulan melakukan patroli langsung melakukan pengamanan dan membawa perwakilan keduabelah pihak ke Polres Bengkulu. Atas kejadian itu, secara cepat seluruh sopir Grab berkumpul dan bersepakat untuk melaporkan perbuatan sopir angkot ini ke Polres Bengkulu, atas tindakan kekerasan.

Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres Bengkulu AKP Indramawan SIk membenarkan kejadian tersebut dan langsung melakukan interogasi terhadap sopir Grab dan Angkot. “Ada sekitar 10 orang yang kita mintai keterangan, kalau terkait ada pemukulan atau pengerusakan, kita masih klarifikasi ke mereka semua, sejauhmana kejadian yang terjadi,” terang Indramawan.

RIO/Bengkulu Ekspress
Ratusan sopir angkot yang melakukan aksi mendesak pemberhentian aktifitas angkutan online Grab di Kantor Dishub Provinsi sempat beberapa saat melakukan pemblokiran jalan, Rabu (5/9).

Disamping itu, sekitar pukul 15.00WIB seluruh sopir Grab baik motor maupun mobil se-Kota Bengkulu berkumpul di Stadion Sawah Lebar, yang di kawal langsung oleh Kapolsek Ratu Agung, Iptu Todo Rio beserta jajarannya. Dalam hal ini, untuk meredam agar tidak terjadi bentrok lagi, sehingga pihak kepolisian memberikan pemahaman dan meminta agar tidak ada satu orang Grab pun yang terpancing emosi atau melakukan serangan balasan dalam bentuk apapun, demi terciptanya kondisi yang aman dan kondusif.

“Kita berupaya menyampaikan aturan-aturan sekaligus imbauan dan kita berikan pemahaman, dan setelah ini mereka kembali ke rumah masing-masing,” sampainya.

Tidak Akan Melakukan Aksi Demo

Sementara itu, salah satu anggota Grab Car, Toni Fikri menjelaskan bahwa perkumpulan seluruh anggota Grab di Stadion tersebut sebagai bentuk solidaritas saja, karena ada anggota Grab yang diserang oleh angkot.

Pun demikian, ia memastikan tidak akan melakukan aksi demo apapun apalagi merencanakan serangan balasan ke sopir angkot. Dan secara internal pihaknya juga memberikan pemahaman kepada anggota Grab lainnya agar tidak melakukan aksi anarkis, agar keributan tidak terjadi kembali.

“Ini bukan aksi demo tapi solidaritas saja, bukan kita mau adu-adu kekuatan karena kita tidak mau menciptakan konflik sosial yang malah merugikan kita sendiri di daerah Kota Bengkulu,” kata Toni.

Sebelum terjadi bentrok, massa sopir angkot juga menggelar aksi demo di depan Kantor Gubernur Bengkulu. Pendemo yang mengetahui Plt Gubernur Bengkulu tidak di tempat, langsung berpindah menggelar aksi demonya di Dinas Perhubungan (Dishub) Provinsi Bengkulu. Massa yang berunjuk rasa itu juga sempat memblokir jalan Kapten Tendean selama sekitar 15 menit. Alhasil, pemblokiran jalan sempat membuat arus lalu lintas menjadi macet.

Kembali Menggelar Hearing

“Semenjak ada Grab di Bengkulu, kami sengsara. Kalau masih dibiarkan, habisi saja angkot,” ujar Ketua Aliansi Angkot Lima Warna, Yupiter Kenedi dalam orasinya di depan Kantor Dishub Provinsi Bengkulu, kemarin (5/9).

Dari aksi yang digelar itu, akhirnya perwakilan sopir angkot lima warna, termasuk sopir taksi bandara kembali menggelar hearing untuk sekian kalinya bersama Dishub Provinsi, Polda, pihak Grab, Jasa Raharja, Dishub Kota, akademisi dari berbagai universitas di Bengkulu.

Hearing cukup alot itu, Yupiter mengatakan, sudah sekian kalinya pihak Grab akan mengurus izin. Namun demikian, sampai saat ini izin itu belum juga dilakukan. Yupiter meminta untuk menutup aplikasi selamanya aplikasi Grab di Bengkulu. “Masuk sudah tidak assalammualaikum. Jadi kami minta tutupnya jangan sementara, tapi selama-lamanya,” ungkapnya.

Termasuk dari perwakilan sopir taksi bandara, Fredi mengatakan, pihaknya juga sangat keberatan atas adanya Grab. Sebab, dengan banyak Grab, saat ini dari 3 perusahaan taksi bandara, hanya menyisakan satu perusahaan taksi yang beroperasi. Padahal menurutnya, taksi bandara sudah menyumbang pendapatan kepada pemerintah Rp 10 juta sampai Rp 15 juta perbulannya.

“Sebelum ada Grab kami ini aman-aman saja. Kadang kita temukan, di aplikasi cewek mobil Avanza ternyata yang datang cowok mobil Vios. Ini juga sudah tidak benar,” kata Fredi.

Fredi meminta Grab mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. Jangan sampai semaunya, mengangkut penumpang tanpa mematuhi aturan.

“Aturan itu ikut saja lah, hancur Bengkulu ini kalau terus seperti ini. Konsumen sama atau tidak yang penting ikuti aturan. Konsumen yang taksi atau Grab juga silakan, itu pilihan konsumen,” paparnya.

Melakukan Kesepakatan

Dari desakaan itu, Kepala Dishub Provinsi Bengkulu, Ir Budi Djatmiko bersama President Grab Bagian Sumatera, Ronald Sipahutar akhirnya bersepakat untuk menuruti keinginan para sopir angkot. Ada dua dalam kesepakatannya, yaitu pihak Grab menonaktifkan atau offline-kan bagi kendaraan yang beropreasi sebelum ada izin tidak didalam trayek. Lalu pemprov dan pemkot akan melakukan kajian tentang trayek dalam meningkatkan pelayanan masyarakat.

“Kalau Grab membuat izin tidak akan dikeluarkan. Karena untuk mengeluarkan izin, dari Dishub Kota sudah sampaikan, harus ada kesempatan Grab dengan angkot 5 warna. Jadi kita pastikan sudah tidak aktif lagi aplikasi Grab di Bengkulu,” terang Koordinator Aksi Aliansi Angkot 5 Warna, Endang Hartoni.

Menanggapi hal itu, President Grab Bagian Sumatera, Ronald Sipahutar menegaskan, pihaknya akan tetap memaputuhi kesempatan yang telah dibuat secara bersama. Untuk menonaktifkan itu, pihaknya akan memberikan laporan ke Grab pusat. “Kesepatan sudah ada, kita akan ikuti,” ujar Ronald.

Untuk pembuatan izin dengan bergabung ke koperasi ataupun badan hukum sesuai dengan Permenhub Nomor 108 tahun 2017 tentang penyelenggaraan angkutan orang dengan kendaraan bermotor umum tidak dalam trayek, pihaknya juga membahas ulang bersama pemerintah. Tentu baginya, izin itu akan tetap diproses sesuai dengan aturan yang ada. “Kita akan penuhi izinnya. Karena kita hadirnya Grab di Bengkulu itu juga untuk membantu masyarakat dalam memperoleh transportasi,” tambahnya.

Untuk pembatasan di luar 38 angkutan Grab yang sedang diproses, Ronald menegaskan belum bisa memutuskan akan dibatas atau tidak. Sebab, untuk pembatasan itu juga membutuhkan regulasi, termasuk berkoordinasi dengan Grab pusat. “Saya belum bisa jawab yang itu. Kita sampaikan dulu ke pusat,” kata Ronald.

Sementara itu, Kepala Dishub Provinsi Bengkulu, Budi Djatmiko mengatakan, aplikasi Grab yang sudah disepakat untuk ditutup itu akan disampaikan ke Kementeriaan Kominfo. Sebab, kewenangan menutup itu ada di Kementeriaan Kominfo pusat. “Menutup aplikasi itu tidak mudah, tapi tetap akan kita akan sampaikan ke pusat,” ujar Budi.

Izin Harus Dilengkapi

Untuk izin sendiri menurut Budi, memang harus dilengkapi. Dalam proses itu, Dishub hanya memberikan rekomendasi kepada Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi untuk memproses perizinan itu. Namun dalam prosesnya, izin itu nanti akan langsung ke pusat, melalui sistem Terintegrasi Secara Elektronik (OSS). “Saya tau semua kerja di angkot. Tapi harus ingat ada usaha lain yang mau tidak mau harus diterima,” terangnya.

Menanggapi adanya informasi bahwa keputusan Pemerintah Provinsi untuk menonaktifkan Grab di Kota Bengkulu, rupanya tak akan berlaku bagi para anggota Grab itu sendiri. Karena, dalam hal ini, menurut Toni, Grab adalah aplikasi dan jika mau dihentikan artinya hanya pemerintah pusat yang bisa lakukan hal itu. Maka selagi berita resmi atau keputusan resmi dari pusat belum ada maka pihaknya akan tetap mengangkut penumpang melalui aplikasi grab tersebut.



“Kita akan tunggu juga dari pihak kantor Grab Pusat, artinya Grab tetap ada di Bengkulu. Pulang dari sini kami tetap beroperasi karena ini aplikasi, kita tunggu berita resmi dari pusat kalau memang benar-benar ditutup,” tegasnya.

Kalau hingga akhirnya aplikasi Grab di Kota Bengkulu benar-benar secara resmi ditutup maka pihaknya akan menerima dengan lapang dada. Tetapi juga akan meminta pertanggung jawaban dari Pemerintah Provinsi melalui Dinas Perhubungan (Dishub) atas nasib mereka untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Total anggota Grab di Bengkulu sekitar 2 ribuan orang, nah kalau Grab benar ditutup, tentu kami meminta pertanggungjawaban dari Dishub, kemana mereka bisa mencari nafkah,” pungkasnya. (151/805)