Debat, “Capres-Cawapres” Penutup

Oleh : Andriadi Achmad Dosen FISIP UPN Veteran Jakarta – Direktur Eksekutif Nusantara Institute

BENGKULU Bengkulu Ekspress – Sejak pendaftaran capres-cawapres 2019-2024 di Agustus 2018 lalu, hiruk pikuk perpolitikan Indonesia mulai menggeliat dan sedikit memanas. Presidential Threshold 20 % adalah penghambat lahirnya capres-cawapres alternatif, sehingga hanya memunculkan kandidat lama yang pernah bertarung di pilpres 2014 yaitu Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Tak lama setelah pendaftaran Capres-Cawapres 2019-2024, masing membentuk supporting team pemenangan. Dimana Capres-Cawapres 01 Joko Widodo-Ma’ruf Amin mendeklarasikan Tim Kampanye Nasional (TKN) dan Capres-Cawapres 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno mendirikan Badan Pemenangan Nasional (BPN).

Hampir setiap saat kita memperhatikan dan dipertontonkan sejak penetapan capres-cawapres 2019-2024, TKN dan BPN beradu argumen baik di media audiovisual (televisi), media cetak maupun media sosial dengan saling menyerang atau memuji capres-cawapres jagoannya. Menurut hemat penulis ada beberapa poin yang bisa kita lihat setelah kemunculan TKN dan BPN.  Pertama, semakin terbuka lebar dan jelas fragmentasi pemilih dan dukungan.

Pendukung TKN dengan tagline “Indonesia Maju” lebih populer di sebut “cebong”, sedangkan pendukung BPN mengangkat tema “Indonesia Menang” kerapkali di populerkan dengan julukan “Kampret.”

Kita dapat memahami gejala perpecahan ditengah-tengah rakyat antara pendukung pasangan 01 dan pasangan 02 merupakan gejala sosial dalam kajian politik disebut dengan Hard-Core yaitu ekstrem partisan, fanatis sejati yang mengekpresikan dukungan secara buta dan ketika menemukan pandangan berbeda darinya maka akan mengerahkan sentimen untuk menjatuhkan.

Kedua, memunculkan istilah baru jelang pilpres 2019 seperti “Perang Badar” digaungkan melalui puisi oleh Wakil Ketua Umum BPN Neno Warisman dalam sebuah acara dan “Perang Total” muncul dari Wakil Ketua Umum TKN Jenderal TNI (Purn) Moeldoko. Bahasa-bahasa hiperbola berseliwaran baik didunia maya ataupun nyata bisa membingungkan pemilih dalam menangkap tujuan dan makna yang jelas dari tagline-tagline yang dimunculkan antara BPN dan TKN tersebut.

Ketiga, melahirkan Presiden RI versi Survey. Berdasarkan hasil survey seperti Litbang Kompas (Pasangan 01 = 49,2% dan Pasangan 02 = 37,4% serta undicided voter = 13,4%); CSIS (Pasangan 01 = 51,4% dan Pasangan 02 = 33,3% serta undicided voter = 14,1%); LSI Deni JA (Pasangan 01 = 56,8%-63,2% dan Pasangan 02 = 36,8%-43,2%); SMRC (Pasangan 01 = 57,6% dan Pasangan 02 = 31,8% serta undicided voter = 10,6%); Charta Politika (Pasangan 01 = 53,2% dan Pasangan 02 = 34,1% serta undicided voter = 12,7%); Indikator Politik (Pasangan 01 = 55,4% dan Pasangan 02 = 37,4% serta undicided voter = 7,2%); Vox Populi (Pasangan 01 = 54,1% dan Pasangan 02 = 33,6% serta undicided voter = 12,3%); Polmark Indonesia (Pasangan 01 = 40,4% dan Pasangan 02 = 33,8% serta undicided voter = 14,6%); Indo Barometer (Pasangan 01 = 50,8% dan Pasangan 02 = 32% serta undicided voter = 17,2%); Roy Morgan (Pasangan 01 = 56,5% dan Pasangan 02 = 43,5% ); Voxpol Center (Pasangan 01 = 48,8% dan Pasangan 02 = 43,3% serta undicided voter = 7,9%); Puskaptis (Pasangan 01 = 45,37% dan Pasangan 02 = 47,59% serta undicided voter = 7,04%) dan lain sebagainya.

Dari hasil survey diatas menetapkan Jokowi sebagai Presiden RI versi Survey. Sementara Prabowo Soebianto hanya puskaptis lembaga konsultan politik yang memberikan nilai kemenangan dalam survey. Sedangkan hasil survey Litbang Kompas, Polmark Indonesia, dan Voxpol Center yang masih memberi peluang pasangan 02 untuk merebut kemenangan dengan adanya undicided voter yang masih bisa digarap menjelang 17 April 2019. Debat “Capres-Cawapres” Penutup Asidi Dipodjojo dalam buku Komunikasi Lisan (1982 : 59), menjelaskan bahwa debat adalah proses komunikasi lisan yang dinyatakan dengan bahasa untuk mempertahankan pendapat. Setiap pihak yang berpendapat akan menyatakan argumen dan memberikan alasan dengan cara tertentu agar pihak lawan berdebat atau pihak lain yang mendengarkan perdebatan itu yakin dan berpihak kepadanya.



Berkaca ketika pemilihan presiden di Amerika Serikat perdebatan antar kandidat cukup menegangkan dan menentukan kemenangan, misalnya bagaimana perdebatan antara Obama (Partai Demokrat) dan John Mc Cain (Partai Republik) atau Donald Trump dengan Hillary Clinton. Di Amerika Serikat telah terjadi konsolidasi demokrasi (Consolidated Democracy), dimana masyarakat lebih cenderung memilih calon-calon baik anggota House of Representatif (DPR) dan Senator atau memilih calon Presiden dari Partai Demokrat atau calon Presiden dari partai Republik karena program-program dan misi-visa yang ditawarkan.

Sebagai misal salah satunya yaitu masyarakat Amerika Serikat sudah paham bahwa ketika memilih capres Partai Demokrat maka pendekatannya terhadap dunia internasional lebih menggunakan Soft Diplomacy lebih menganggap negara lain layaknya sahabat Amerika Serikat, berbeda hal ketika masyarakat memilih calon Presiden dari partai Republik maka pendekatannya terhadap negara lain lebih Hard Diplomacy dan menganggap AS sebagai polisi dunia dan program lain-lainnya.

Dalam konteks Indonesia pilpres 2019, ada lima sesi debat antar kandidat menjelang 17 April 2019 dengan tema-tema krusial. Pertama, 17 Januari 2019 dilangsungkan debat perdana antara pasangan 01 dan pasangan 02 dengan mengupas terkait bidang hukum, hak asasi manusia (HAM), korupsi, dan terorisme. Kedua, 17 Februari 2019 hanya debat capres dengan membahas terkait bidang energi, pangan, infrastruktur, sumber daya alam, dan lingkungan hidup. Ketiga, 17 Maret 2019 debat antar cawapres dengan pembahasan dalam bidang pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial dan budaya. Keempat, 30 Maret 2019 debat dihadiri Capres membahas bidang ideologi, pemerintahan, keamanan, serta hubungan internasional.

Kelima, debat penutup 13 April 2019 dihadiri capres-cawapres yang akan dibahas bidang ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan, investasi, dan industri. Beberapa pesan bisa kita ambil disetiap perdebatan capres-cawapres. Pertama, debat merupakan ajang adu argumen antar kandidat dimana petahana (capres berkuasa) akan mensosialisasikan kinerja dan program kerja sudah terlaksana selama berkuasa dan akan melanjutkan jika terpilih kembali.

Sementara capres penantang atau oposisi cenderung mengoreksi dan mengkritisi program kerja belum terlaksana serta menawarkan program-program kerja dan kebijakan akan diterapkan jika terpilih.  Kedua, dalam debat secara tidak langsung masyarakat dapat melihat dan menilai pasangan kandidat yang mampu berargumen dengan baik dan mampu berperan sebagai juru bicara bangsa dan negara. Karena presiden adalah wajah dan simbol dari suatu negara. Sejatinya bahwa pertarungan dalam pilpres hanya untuk mencari pemimpin terbaik bagi kepentingan bangsa dan negara.(*)