Dari Workshop BI dan Genbi Bengkulu di Jakarta

Fintech, Solusi Akses Keuangan di Era Digital

BI
Analis Fintech Office Bank Indonesia (BI) Miftachul Choiri, Kepala Tim Advisory Pengembangan Ekonomi Daerah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu Christin R Sidabutar, Manager Fungsi Komunikasi Koordinasi dan Kebijakan (FK3) Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bengkulu Mahfud, Vice Precident of Investment PT Tani Fund Madani Indonesia Christian Wirawan, dan GenBi saat foto bersama pada acara workshop di Novotel Jakarta, kemarin (24/3). (Foto JOS/BE).

Perkembangan Teknologi dari masa ke masa semakin lebih maju, membuat banyak industri keuangan harus lebih memanfaatkan teknologi informasi, hal tersebut mendorong perusahaan untuk lebih eksis dan bekerja lebih efektif dan efisien. BI Perwakilan Bengkulu bersama Generasi Baru Bank Indonesia (GenBI) mengadakan workshop membahas tentang Fintech, mulai dari perkembangan fintech di Indonesia, sampai menghadirkan narasumber dari perusahaan Vice Precident of Investment PT Tani Fund yang sudah menerapkan Fintech di usaha yang dijalankannya.

REWA dan JOS – Jakarta

Fintech atau financial technology di Indonesia, kini menjadi kategori terbesar kedua dalam hal bisnis digital menyusul bisnis e-commerce. Fintech dikenal dengan fasilitas pembayaran padahal fintech memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekedar pembayaran namun menyangkut semua hal yang mempermudah akses keuangan.

Analis Fintech Office Bank Indonesia (BI) Miftachul Choiri mengatakan, fintech dalam artian luas adalah seluruh bisnis digital yang menyangkut uang. Pemain di industri fintech di Indonesia, bukan hanya perusahaan jasa keuangan, namun juga perusahaan non jasa keuangan.

“Pemain bisnis fintech bisa lembaga keuangan dan non keuangan. Salah satunya seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memiliki program Laku Pandai (Layanan Keuangan Tanpa Kantor dalam Rangka Keuangan Inklusif),” ujar Choiri saat workshop bersama BI perwakilan Bengkulu dan GenBI di Hotel Novotel Jakarta, kemarin (24/3).

Dijelaskannya, fintech di perbankan menghasilkan penambahan jumlah nasabah yang signifikan. Hal ini dikarenakan kebanyakan masyarakat tidak memiliki waktu yang cukup untuk datang ke bank karena kesibukan yang ada sehingga fintech hadir menjadi solusi semuanya.

“Salah satu keuntungan kehadiran fintech di bidang perbankan adalah memberikan kemudahan untuk melakukan pembukaan rekening dan memperoleh pinjaman,” jelasnya.

Diakui Choiri, kini bahkan ada layanan “high tech” dari bank yakni pembukaan rekening tanpa harus datang ke cabang. Cukup mengunduh aplikasi di Google Play Store ataupun Apps Store. Kemudian mengisi data-data pribadi, foto KTP, NPWP, contoh tanda tangan, dan berfoto sambil memegang KTP. Setelah semua data dan dokumen dilengkapi, rekening bank sudah selesai diproses .

“Proses penerimaan kartu ATM dikirimkan ke alamat yang diinginkan nasabah, hal ini sangat membantu untuk akses keuangan,” tambah Choiri.

Bank saat ini memiliki banyak produk baik dari produk tabungan, kartu kredit, kredit kepemilikan rumah (KPR), dan kredit tanpa agunan (KTA). Dengan banyaknya produk yang dimiliki bank, nasabah harus pintar memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan.

“Sentuhan fintech di bisnis perbankan menghasilkan pertambahan nasabah untuk produk-produk bank yang akan mendorong inklusi keuangan sesuai program OJK,” tutur Choiri.

Fintech tidak hanya dimanfaatkan oleh bank. Sudah banyak perusahaan yang menerapkan fintech dan salah satunya adalah Tani Fund dari PT. Tani Fund Madani Indonesia. Fintech lokal ini memiliki sektor yang dapat diinvestasikan, yakni di sektor pertanian.

“Disini kami mewadahi antara investor dan peminjam dalam hal ini petani. Investor dapat memilih sektor pertanian apa yang bagus untuk diinvetasikan,” ujar Vice Precident of Investment PT Tani Fund Madani Indonesia, Christian Wirawan.

Diakuinya, pihaknya dapat menerima investasi uang atau meminjamkan modal kepada investor, ia menegaskan Tanifund tidak mewajibkan investor untuk menginvestasikan uangnya dalam jumlah besar.

“Kami tidak menentukan jumlah uang yang harus diinvestasikan, kami hanya menyarankan untuk invetasi di berbagai sektor supaya peluang keuntungannya akan semakin terbuka,” ujar Christian.

Dijelaskannya, untuk yang sudah berinvetasi, akan ada notifikasi yang menginformasikan mengenai dana yang sudah diinvestasikan, begitupun bagi yang meminjamkan modal.

Sementara untuk peminjam diberikan waktu yang ditawarkan yakni tiga bulan, enam bulan dan satu tahun.

“Tentu ada fee yang diberikan bagi si peminjam, untuk lebih detailnya bisa dibuka di website Tanifund.com,” jelasnya.

Dari sekian banyak industri yang dibidik pihaknya memilih sektor pertanian karena menurutnya ladang untuk sektor ini cukup luas, namun kebanyakan masyarakat terkendala dana untuk mengembangkannya.

“Fintech ini hadir untuk menumbuhkan minat investor ataupun peminjam untuk mencoba mengembangkan sektor ini,” kata Christian.

Lebih lanjut ia mengatakan, untuk mengetahui lebih lanjut terkait tanifund, pengunjung bisa membuka website tanifund kemudian pilih sektor mana yang ingin dikembangkan lalu pilih salah satunya.

“Jika sudah memilih salah satu, pengunjung bisa klik ingin investasi atau peminjam, setelah memilih salah satunya maka akan ada proses selanjutnya,” imbuhnya.

Petani yang mendapatkan pinjaman adalah petani yang memiliki track record yang baik sehingga mampu mendapatkan pinjaman yang maksimal dari para investor. Syaratnya adalah petani tersebut adalah petani yang berpengalaman diatas 5 Tahun.

“Petani tersebut bisa mendapatkan modal dan hasil pertaniannya juga akan dipasarkan melalui website tanihub.com,” tukasnya.

Sementara itu Kepala Tim Advisory Pengembangan Ekonomi Daerah Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Christin R Sidabutar mengatakan dengan diadakannya kegiatan ini diharapkan GenBi yang merupakan mahasiswa binaan penerima beasiswa BI dapat berpikir lebih kreatif mengingat fintech ini begitu penting dan sudah menjadi trend yang sangat baik.

“Kami menginginkan para GenBI ini menjadi lebih kreatif dan mengikuti perkembangan khususnya dalam bidang ekonomi dan teknologi,” ujar Christin.

Terakhir ia mengatakan, pihaknya berharapa para mahasiswa ini nantinya dapat memberikan informasi yang bermanfaat kepada mahasiswa yang lain terkait informasi penting ini sehingga mampu menjadi lebih kreatif dan inovatif.

“Kalau sudah lulus mereka bisa berpikir untuk menjadi start up dalam membangun sebuah platform yang bermanfaat ke banyak orang dan tentunya bisa menghasilkan pendapatan sendiri sehingga tidak berpikir untuk selalu menjadi karyawan,” tutupnya.(**)