Danau Mas Harum Bastari

Obyek Wisata yang Berawal dari Uang Rp 75 Ribu

Setidaknya lebih dari 10 ribuan warga mengunjungi Danau Mas Harun Bastari (DMHB) setiap tahun.  Tetapi siapa sangka, awalnya DMHB hanya hamparan rawa.  Bagaimana itu bisa terjadi?  Simak laporannya;

OKTA FIRDAWAN, Curup

OBYEK wisata DMHB menjadi salah satu aset wisata penyumbang  pendapatan asli daerah di Kabupaten Rejang Lebong.  Terletak di daerah yang
sejuk, serta panorama alam yang menawan, menjadikan DMHB menjadi salah
satu tujuan wisata populer masyarakat, pengunjungnya tidak hanya di Provinsi Bengkulu, bahkan menjadi salah satu tujuan wisata warga Lubuklinggau Sumsel, dan Jambi disaat musim liburan.

Percaya atau tidak, dulunya DMHB hanya hamparan rawa yang tidak
terawat. Kemudikan untuk pertama kalinya tahun 1956 hamparan rawa
tersebut dibangun berupa dam kecil dengan menelan dana Rp 75 ribu, kemudikan dilanjutkan kembali pembangunannya pada tahun 1962. Ide pembangunan muncul dari Korem Garuda Emas, yang ditujukan untuk lokasi kegiatan orang-orang G 30 S PKI golongan ringan agar mudah terkontrol.

Dana pembangunan berasal dari Panglima Garuda Emas Harun Sohar dan Gubenur Sumatera Selatan Ahmad Bastari, yang saat itu wilayah Rejang Lebong itu wilayah Sumatera Selatan.

“Karena itu danau tersebut diberi nama Danau Mas Harun Bastari, yag artinya danau yang dibangun oleh Korem Garuda Emas atas peran Harun Sohar dan Gubernur Sumsel saat itu Ahmad Bastari,” kata pengelola DMHB Budi Prayitno.

Kemudikan, aset wisata alam DMHB secara resmi diserahkan ke pengelolaannya kepada Pemkab Rejang Lebong secara resmi pada tahun
1982 sebagai salah satu aset pemerintah daerah. “Luas arel DMHB ini sekitar
1 kilometer persegi, dulunya milik TNI AD,” terang Budi Prayitno. (**)