Covid-19, Lapas Bengkulu Inovasi Tika Sakti

RIZKY/BE
Lapas Kelas IIA Bengkulu meniadakan besuk secara tatap muka, sebagai gantinya Lapas Bengkulu menggunakan fasilitas tikasakti dan vikaleri

Selama masa pandemi covid-19, Lapas Kelas IIA Bengkulu meniadakan besuk tahanan secara tatap muka. Aturan tersebut diberlakukan sejak Mei 2020. Sebagai gantinya, Lapas menyediakan fasilitas videocall lepas rindu (Vikaleri). Hanya saja fasilitas tersebut dirasa kurang maksimal oleh keluarga warga binaan. Akhirinya Lapas Bengkulu, menciptakan inovasi tika sakti atau titipan kasih sayang keluarga cinta napi. Seperti apa inovasi tiga sakti Lapas Bengkulu ini, berikut laporannya.

Rizky Surya Tama-Kota Bengkulu

Titipan kasih sayang keluarga cinta napi (tika sakti) Lapas Kelas IIA Bengkulu dibuat untuk menjawab keluhan keluarga warga binaan yang tidak bisa bertemu dengan keluarganya selama pandemi covid-19. Dengan fasilitas tigasakti, keluarga warga binaan bisa menyaksikan langsung keluarganya yang ada di dalam Lapas menerima barang titipan.

“Inovasi tigasakti kita ciptakan untuk menjawab keluhan warga binaan. Dengan adanya inovasi ini tidak ada cerita lagi barangnya lama sampai, barangnya tidak sampai, barangnya hilang, tidak sesuai dengan yang dibawa, berkurang atau tertukar,” jelas Kalapas Kelas IIA Bengkulu Sumarwoto Hendra Budiman AMd Ip SH MSi Senin (26/10).

Adanya inovasi tersebut menghindari barang milik keluarga yang tidak sampai kepada penerima, barang bawaan berkurang, barang bawaan hilang, tidak sesuai dengan isinya.

”Yang terpenting mencegah barang bawaan dilarang masuk kedalam lapas seperti narkoba, senjata tajam, alat komunikasi dan barang lain yang dilarang masuk kedalam Lapas,” katanya.

Caranya mudah, keluarga warga binaan yang ingin menitipkan barang untuk keluarganya di dalam Lapas hanya tinggal melakukan pendaftaran, mengisi blanko yang disediakan pihak Lapas, melampirkan fotocopy KTP dan KK kemudian, dipanggil mengambil nomor antrian, setelah itu barang bawaan akan diperiksa oleh petugas.

Dalam program ini warga binaan dan keluarganya hanya sebatas menyaksikan. Mereka bisa melihat apa saja aktifitas warga binaan dalam Lapas. Hal itu cukup untuk mengobati kerinduan napi dan keluarganya. Keluarga warga binaan bisa melihat langsung kondisi napi yang sehat, meski tanpa bertatap muka.

Program ini lebih disukai napi dan keluarganya. Terbukti tidak ada keluhan diterima petugas Lapas selama inovasi tersebut berlangsung. Malah banyak mendapat respon positif dari keluarga warga binaan. Hal tersebut sangat wajar, karena selama masa pandemi keluarga warga binaan tidak sekalipun pernah bertemu langsung dengan keluarganya yang berada di dalam Lapas.

“Kami juga memikirkan hati nurani, pasti tahu seperti apa rasanya tidak bertemu dengan keluarga dalam waktu lama. Tetapi bagaimana lagi, kita harus tetap mentaati aturan protokol kesehatan yang dibuat pemerintah,” jelas Hendra.

Inovasi tersebut dibuat untuk menambah opsi selain videocall lepas rindu (Vikaleri), karena tidak semua keluarga warga binaan bisa menggunakan fasilitas Vikaleri. Terlebih lagi keluarga warga binaan yang tidak memiliki handphone Android atau smartphone.

“Vikaleri kan hanya sebatas tatap muka virtual dan cerita, tidak melihat langsung. Terlebih lagi tidak semua keluarga warga binaan bisa menggunakan fasilitas itu. Alhamdulilah, sejauh ini tidak ada yang protes,” imbuhnya.
Untuk memastikan tidak terjadi cluster lapas, setiap keluarga warga binaan wajib menggunakan masker, mencuci tangan sebelum masuk kedalam Lapas. Petugas Lapas Bengkulu memberlakukan jaga jarak setiap antrian barang bawaan, menyediakan tempat cuci tangan dan handsanitizer. Jam besuk tidak ada pengurangan, sesuai aturan Senin sampai Kamis, Jumat dan Sabtu sampai pukul 11.00 WIB. (**)

 

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*