Hari ini, CJH BU Tiba di Jeddah

ARGA MAKMUR, BE – CJH asal Bengkulu Utara yang tergabung dalam kloter 10 embarkasi Padang, kemarin siang sudah bertolak ke Jedah Arab Saudi untuk melaksanakan ibadah haji.  Pemberangkatan sebagian CJH asal Bengkulu Utara tersebut dibarengkan dengan sejumlah CJH lainnya dari Provinsi Bengkulu yang tergabung dalam kloter yang sama.  Sedangkan untuk CJH yang tergabung dalam kloter 11 akan diberangkatan ke tanah suci pada Rabu besok sekitar pukul 13.00 WIB. Setibanya di Jedah Arab Suadi, para CJH asal Bengkulu Utara akan berkumpul dengan CJH asal Indonesia di pemondokan yang sudah disediakan.  “Kemarin sebagian CJH  sudah diberangkat ke tanah suci, dan pagi ini sudah tiba di Jeddah. Sedang sebagian lagi, baru berangkat menuju tanah suci hari ini,” ucap Kepala Kemenag BU, Drs H Mukhlisudin SH MA.

Setibanya di tanah suci, para CJH asal Bengkulu Utara akan melaksanakan sejumlah ibadah sunah untuk pelaksanaan ibadah haji. Sedangkan untuk pelaksanakan rukun dan wajib haji, para CJH tersebut harus menunggu kedatangan seluruh CJH seluruh dunia untuk melaksanakan ibadah haji secara bersamaan. Sedangkan mengenai kondisi kesehatan jemaah haji, sejauh ini masih dalam kondisi baik-baik saja. Para CJH sebelum diberangkatkan ke tanah suci, diperiksa oleh tim medisdi asrama haji Padang, Sumatera Barat.

“Tidak ada yang mengalami gangguan kesehatan saat ini, baik yang sudah berangkat maupun yang menunggu waktu pemberangkatan ke tanah suci,” ucapnya.
Sementara itu, bagi CJH yang mengidap penyakit risiko tinggi, pemerintah menandai para CJH tersebut dengan pakaian khusus yang mengindentifikasikan bahwa CJH memiliki ataupun mengidap penyakit yang cukup berbahaya. Dalam hal ini, tujuan diberikannya pakaian khusus tersebut untuk memudahkan dalam melakukan pengawasan dan penanganan jika penyakit yang diderita oleh CJH kambuh saat melaksanakan ibadah haji.

“Kebijakan pakaian khusus untuk penderita penyakit risiko tinggi tidak hanya untuk CJH asal Bengkulu Utara saja, melainkan juga untuk CJH seluruh Indonesia,” tukas Mukhlisudin. (212)