CHAIZURANI ANWAR

Profil
Nama : Hj Chaizurani Anwar
TTL : Bengkulu, 1960
Suami : H Anwar Rifa’i

Anak :
1. Betti SE
2. Harry Agustian S Ip MM
3. Hesty
4. dr Heru Kurniawan
5. Melyana Rumsar SPsi

Pendidikan :
SD Palembang
SMPN 6 Palembang
SMAN 2 Puncak Sekuring Palembang
D3 Universitas Sriwijaya

Terus Berbuat dan Mengabdi

Di usianya yang senja tak menjadi halangan baginya untuk tetap memberikan pengabdiannya untuk masyarakat. Hingga saat ini, ia tetap eksis didunia politik. Bahkan Ani Anwarbegitu panggilanya itu mengaku sudah empat periode duduk di kursi legislatif. Sehingga wanita asli Kota Bengkulu itu sangat familiar di partai Golkar maupun di tengah-tengah masyarakat Kota Bengkulu. Sosok yang ramah, bersahaja, energik dan cerdas, memberikan kesan pertama kali jika kita melihat sosok politikus yang satu ini saat rubrik hanya wanita menyambangi kediamanya di Jl. Sutoyo Tanah Patah no 136 kota Bengkulu. Saat itu wanita berjilbab langsung menyambagi BE dikediamanya. Chaizurani Anwar dikenal piawai sebagai politikus dari Partai Golkar, kemampuanya dalam merangkul masyarakat serta mengakomodir partai Golkar hingga menjadikan dirinya sebagai anggota empat periode berturut-turut. Meski memasuki usia senja, ia tetap mampu berkiprah dalam memperjuangkan dan memperhatikan urusan masyarakat. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Kota Bengkulu.

Ibu dari 5 orang anaknya itu, kini duduk di Komisi II DPRD Provinsi. Sebagai wakil rakyat, ia selalu mengemban aspirasi rakyat. Dia kosen memperjuangkan aspirasi masyarakat, karena jabatannya merupakan amanah dari rakyat. Mami Ani atau Ani Anwar, begitu ia dikenal masyarakat mengalami karir sebagai Pegawai Negeri Sipil di Pemerintah Provinsi Bengkulu. Menjadi PNS dilakoninya selama 7 tahun sejak tahun 1973 – 1977.
Meski sangat singkat menjadi abdi negara, banyak pengalaman yang ia dapatkan. Ani pernah menjabat sebagai Kepala Subbagian Biro Pegawai, Biro Perlengkapan, Kepala Bidang Dinsos, dan Kasi BKPMD, dan terakhir jabatanya eselon tiga di Dinas Perindustrian. Saat menjabat Kabag Biro Dinsos, ia telah dipanggil menjadi calon legislatif, saat itu tengah spada di Bukti tinggi, dengan nomor 60, namun tak diapiknya, dan pada tahun 1997 masa orde baru itu, ia yang tergabung dan keluarga ABRI itu kembali dicalonkan menjadi legislatif dengan nomor urut ke 16. Orang pertama dari 16 orang perempuan yang dicalegkan, ia menduduki nomor urut pertama saat itu. Ia kemudian konsultasi kelurga, dalam keluarga diputuskan untuk memilih partai atau PNS, setelah mantap mengambil keputusan, putri dari pasangan H Muhammad Taib Karim dan Hj Amna Kamarudin itu mengambil sikap. “Saat itu saya juga harus mundur dari PNS, dan harus kampanye saya harus mundur dari daftar haji, karena harus ikut kampanye. Saya sempat dimarahi asisten III (Saliman Gimin) saat itu, karena mengundurkan diri,” ujarnya. Tapi, kemudian memilih terjun kedua politik. “Alasan saya melihat prospek politik dari pada PNS, dan saya mengundurkan diri dari PNS, ” katanya. Dengan bergabung di partai Golkar, dan pada tahun 1997- 1999 ia maju menjadi calon legislatif periode pertama, alhasil ia mampu mengantongi suara terbanyak hingga ia dilantik menjadi anggota DPRD. Kemudian pada zaman reformasi semua legislatif berubah, pemilihan saat itu menjadi per daerah pemilihan, dan ia mencalonkan di daerah pemilihan Kota .

Sebagai Wakil Bendahara di DPD Golkar Provinsi, Ani kembali beruntung mempertahankan posisinya menjadi wakil rakyat pada periode 1998-2004. Kemudian pada tahun 2004-2014 ia tetap dipilih rakyat menjadi wakil rakyat dari daerah pemilihan kota Bengkulu, dan jabatan yang diembankan bertambah menjadi Ketua persatuan perempuan partai Golkar. Dalam organisasi, lanjutnya kuncinya harus loyal pada organisasi tersebut. Ia memang dekat dengan Partai Golkar. Sejak kecil, Ani dibesarkan dari partai Golkar, karena orang tuanya merupakan Pegawai negeri Sipil (PNS) dan merupakan PNS pertama di Bengkulu. “Dari sinilah kenapa saya tak memilih partai lain. Selain itu juga mengalir darah bulog, makanya Golkar merupakan harga mati,” katanya.

Keterlibatanya dalam anggota DPRD tak ain ingin menyalurkan aspirasinya yaitu ikut mencerdaskan masyarakat, terutama masyarakat Kota Bengkulu. Ketika resmi menjadi Anggota DPRD, Chaizurani sudah duduk diberbagai komisi. Dan sudah banyak yang telah dilakukan selama menjadi wakil rakyat. Misalnya saja peraturan daerah tentang Kekerasan Dalam Rumah tangga, Traficking, kekerasan anak, dan saat ini duduk dibidang ekonomi, ia ingin mengajak masyarakat untuk maju dan sejahtera dengan memberikan berbagai bantuan home industri. Keberhasilanya menjadi wakil rakyat secara empat periode berturut-turut, tak lain dari kedekatan dirinya pada masyarakat, dan tidak mudah melupakan jasa masyarakat, “Selama kita sukses, kita tidak boleh lupa akarnya mereka inilah yang membuat kita sukses, ” ujarnya. Selama ini banyak janji-janji politik saja, namun ketika mereka duduk, mereka lupa yang berada diakar.

Sebagai ibu rumah tangga, ternyata tak hanya tinggal dirumah mengandalkan penghasilan dari suami. Ia diminta sejumlah universitas untuk mengajar. Selain juga sering terjun dalam organisasi perempuan. Sebagai perempuan, ia terus aktif memperjuangkan aspirasi perempuan. Perjuangannya terhadap perempuan telah dilakoninya sejak menjadi aktifis saat kuliah di Universitas Sriwijaya. Ia aktif sebagai Ketua KOHATI HMI. Sehingga ia terus terpanggil untuk memperjuangkan masalah-masalah perempuan. Perjalanan politiknya sangat cemerlang, ia menjalani karirnya seperti air mengalir. Terlebih dukungan dari keluarga sangat besar. Namun, dunia politik tidak dicontoh oleh lima orang anaknya, yang bergelut pada karir PNS dan swastanya.

Perempuan Harus Amanah

Sosok perempuan di mata Hj Chaizurani Anwar, perempuan saat ini sudah banyak yang maju. Diantaranya sudah ada yang berani berebut menjadi pimpinan, apa saja kedudukan itu, hanya saja mereka perempuan ini terkadang saat sudah duduk dan mendapatkan jabatan, mereka lupa dengan masyarakat. Padahal sikap sombong itu menjadi kendala dalam pengembangan karir kedepannya, “mungkin orang heran kenapa sudah menjadi anggota dewan, saya tetap rutin pengajian, itu menunjukkan bahwa kita aktif dimasyarakat, kita jangan melupakan jasa mereka ini” terangnya.

Perempuan kelahiran Bengkulu enam puluh tahun silam itu menuturkan, saat ini perempuan sudah maju, dan mereka sudah mulai berebut untuk menjadi pimpinan, namun ada beberapa hal yang harus dibenahi untuk bisa menjadi pimpinan, sikap loyal serta, dekat dengan masyarakat sehingga benar-benar dikenal dan namanya telah mengakar di masyarakat. Misalnya saja kalau sudah duduk di legislatif, mereka masih mendatangi kegiatan rumah tangga, sehingga sering membaur sehingga benar-benar merakyat. “Kalau sudah diatas, jangan sapai lupa dengan yang dibawah, jangan hanya bisa koordinasi lewat pimpinan saja, tapi diasyarakat tak diindahkan padahal dalam politis itulah lumbung suara, ” katanya.

Jalani Kodrat Wanita

Sebagai ibu rumah tangga, Hj Charizurani Anwar dikenal wanita sibuk, ia juga tak lepas dari kodrat wanita sekaligus ibu dari ke-lima putranya. Selain karirnya yang terus menanjak, ia ditutut untuk memberikan pendidikan yang baik untuk anak-anaknya. “Alhamdulillah berkat kerjasama dengan suaminya (H Anwar Rafe’i) yang juga disibukkan karirnya di perbankan,” katanya. Walau kesibukan yang mendera keluarga ini mampu menyekolahkan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi, dan saat ini ke lima putranya telah bekerja sebagai pengusaha maupun PNS. “Anak-anak dituntut berjiwa mandiri, ” tegas wanita berjilbab itu. Selama anak-anak masih kecil, banyak pengalaman yang dipetiknya, ia pernah meninggalkan anak-anaknya demi tugas luar, saat itu anaknya tengah berusia 7 bulan, selama tugas luar ia harus membuang asinya. Setibanya di Bengkulu ia dijemput keluarga sekaligus balitanya, yang terjadi saat itu anak ke-3 itu justru ngambek, dan tak mau mengkonsumsi asi. Ia mencari cara dan merayu anaknya hingga satu hari satu malam, dan akhirnya bayinyapun mau mengkonsumsi asinya kembali. Kejadian bukan hanya sekali, bahkan saat ia melahirkan anaknya, sempat tak ditunggui ayahnya. Sehari melahirkan ia sudah ditinggalkan tugas suaminya anwar, suaminya saat itu menjalani pemeriksaan audit keuangan. Tapi saya sekarang bersyukur, seluruh anak-anak sudah pintar dan telah sukses, bahkan setiap ada masalah saya selalu konsultasikan dengan suami, hal itu tak lain peran suami dan keluarga sehingga, kami bisa sukses seperti ini . “Suport dan pengertian suami dan keluarga sangat besar pengaruhnya untuk mendukung kariernya, dan saya pesan pada wanita lain jangan pernah meremehkan peran suami,” tuturnya mengakhiri. (endang)