Cerita Leluhur Warga Desa Renah Semanek “Situs Pungguk Batu Beso”

Pungguk Batu Beso (3)Terletak dikawasan semak belukar, dan terdapat kuburan kramat, tiga batu raksasa menyimpan cerita leluhur bagi masyarakat Desa Renah Semanek Kecamatan Karang Tinggi. Batu-batu raksasa hampir setinggi pohon kayu usia tua, memiliki kisah para pepuyangan (Leluhur) sebagai peternak hewan mulai ayam hingga rusa. Berikut laporannya!!!

Doni Parianata – Bengkulu Tengah

Warga menyebutnya Pungguk Batu Beso, dalam bahasa nasional diartikan Batu Besar Diatas Bukit. Karena pungguk merupakan sebutan untuk dataran tinggi (Perbukitan) bagi masyarkat desa. Didalam kawasan semak belukar yang ditumbuhi pepohonan rindang dan lebat, terdapat tiga batu raksasa dikenal dengan sebutan Batu Beso (Besar, red), Buta Pedan (Jendela, red) dan Batu Bujang.

Ketiga batu memiliki cerita legenda bagi masyarakat Desa Renah Semanek, bahwa dibalik batu-batu raksasa terdapat cerita legenda Pepuyangan (Leluhur, red). Dimana dalam bayangan masa lalu, kawasan Pungguk Batu Beso merupakan Desa Pepuyangan, dimana Puyang Raden sebagai penguasanya, masyarakat menyakini bahwa dikawasan tiga batu besar sebagai tempat para puyang berkumpul serta memberikan makan hewan piliharaan (Ternak, red). Sebab, dalam kisah yang didapat warga secara turun termurun, bawah ada hewan piliharan seperti ayam ragi tiga (Tiga warna, red) serta hewan rusa sebagai peliharaan. “Kalau untuk Batu Penda itu peliharaannya ayam ragi tiga, jika kita lepaskan ayam dikawasan sanak terkadang ada ayam ragi tiga yang bercampur dengan ayam-ayam kita untuk cari makan. Namun ayam itu sangat susah untuk ditangkap, ayamnya juga menghilang dengan sendirinya,” cerita Sumiati (47) warga setempat pemilik lahan Pungguk Batu Beso.

Diceritakan Sumiati alias Dumi bahwa dikala cuaca dalam keadan ujan panas, ayam ragi tiga akan menyatu dengan ayam peliharaan masyarakat, tetapi dengan sendirinya ayam tersebut akan menghilang tanpa jejak. Sehingga, diyakini masyarkat ayam ragi tiga merupakan hewan peliharannya pepuyanangan yang sewaktu-waktu dapat muncul secara tiba-tiba. “Jika ditangkap ayamnya sangat sulit, meskipun banyak warga yang pernah melihat ayam itu muncul. Tetapi tidak dapat ditangkap sama sekali,” ujar Dumi.

Menurut keyakinan masyarakat tidak semua orang dapat menjumpai lokasi Batu Beso, Batu Pedan dan Batu Bujang. Untuk mendapatkan lokasi bebatu-batu raksasa harus ditemani oleh warga asli Desa Renah Semanek, jika tidak maka pengunjung akan kesulitan mendapatkan lokasi batu. Ntah itu adanya hubunganya atau tidak dengan keyakinan masyarakat setempat atau tidak, kenyataan jurnalis Bengkulu Ekspress yang berusaha menggali kisah dalam “Situs Pungguk Batu Beso”. Sempat kesulitan untuk mencapai lokasi, kerena memerlukan waktu hingga 3 jam lebih untuk mencapai lokasi ketiga batu tersebut.

Meskipun sekeliling kawasan Pungguk Batu Beso sudah dibuka warga untuk membuat kebun, kenyataan tidak memudahkan BE bersama penunjuk jalan Anhar (42) dengan muda bisa menemukan ketiga batu besar tersebut. “Biasanya kalau kita punya niat baik akan bertemu dengan batu itu, karena terkadang jika bukan mengajak warga asli desa sini, banyak yang tidak berjumpa walaupun sudah berjam-jam bahkan seharias mengelilingi kawasan perbukitan ini,” ungkap Anhar.

Anhar menceritakan bahwak kawasan tersebut, sekarang digunakan masyarakat untuk membayar nazar (Niat, red) dengan memotong hewan kurban seperti Kambing ataupun hewan lainya seperti buru dara. “Kalau diceritakan dikawasan ini memang ada penunggunya, sehingga tidak sembarangan orang akan ditunjukan lokasi-lakasi kramat ini,” tuturnya. (**)