Cegah Stunting, Pemerintah Kampanye Lintas Sektor

BACALEG
Foto : Ist

Jakarta, bengkuluekspress.com – Pemerintah menyiapkan rencana bersama pelaksanaan kampanye perubahan perilaku untuk mendukung  percepatan pencegahan stunting. Langkah Ini ditempuh agar mengefektifkan penyelenggaraan kampanye, sehingga bisa mendongkrak  kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang stunting dan mendorong perubahan perilaku masyarakat.

“Rencana bersama ini disusun dengan menyelaraskan kegiatan yang dikelola Kemenkes dan Kominfo, sehingga kampanye bisa maksimal,  mendukung percepatan pencegahan stunting. Dua lembaga ini adalah koordinator penyelenggaraan Kampanye Nasional dan Komunikasi  Perubahan Perilaku dalam Program Percepatan Pencegahan Stunting,” ungkap Deputi Bidang Pembangunan Manusia dan Pemerataan  Pembangunan, Kantor Wakil Presiden RI, Bambang Widianto di sela kegiatan Workshop Kampanye Nasional dan Komunikasi Perubahan  Perilaku di Hotel Morrisey, Jakarta, Kamis (1/8).

Penyelarasan yang dilakukan menjadi dasar pelaksanaan aksi komunikasi yang konvergen hingga tingkat desa, dan ada konsistensi pesan,  saluran, materi kampanye, bahkan indikator pemantuan kegiatan dan evaluasi. Konsistensi ini akan membuat penyebaran pesan jadi lebih  efektif, sehingga diharapkan mempercepat penciptaan pemahaman tentang stunting dan mendukung perubahan perilaku masyarakat.

Bambang mengatakan, stunting atau kerdil pada anak sebagai akibat kekurangan gizi kronis tidak hanya dialami keluarga miskin, namun juga  mereka yang berstatus keluarga mampu atau berada. Stunting, kata dia, tidak hanya menganggu pertumbuhan fisik, namun juga terganggunya  perkembangan otak.

Berdasarkan Global Nutrition Report 2018, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami beban gizi ganda.  Namun demikian, dalam kurun waktu lima tahun terakhir telah terjadi penurunan prevalensi stunting dari 37,2 persen di 2013 menjadi 30,8  persen di 2018.

Salah satu penyebab masih tingginya angka stunting di Indonesia, lanjut Bambang, kurangnya informasi pada masyarakat tentang pentingnya  memperhatikan asupan gizi dan kebersihan diri pada ibu hamil dan anak dibawah usia dua tahun.

“Masyarakat kerap memandang sepele soal pemberian makan untuk anak, juga kebersihan diri, termasuk cuci tangan pakai sabun (CTPS), atau efek dari buang air besar (BAB) sembarangan karena enggan menggunakan jamban. Padahal faktor tersebut, sangat berkaitan erat dengan  stunting,” tuturnya.

Kasubdit Komunikasi Informasi dan Edukasi, Kementerian Kesehatan, Herawati Hana mengatakan Komunikasi Antar Pribadi (KAP) menjadi  kunci dalam upaya perubahan perilaku untuk pencegahan stunting di Indonesia. Kementerian Kesehatan akan memaksimalkan peran tenaga  kesehatan dan kader posyandu untuk mengkomunikasikan pesan mendukung perubahan perilaku di seluruh pelosok Indonesia.

“Ada 6 perilaku utama pencegah stunting yang menjadi fokus pesan kampanye, yaitu ibu hamil mengkonsumsi tablet tambah darah (TTD),  termasuk rutin mengikuti kelas ibu hamil; Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA); mengunjungi posyandu sebulan sekali untuk  memantau tumbuh kembang anak, penggunaan jamban sehat, dan cuci tangan pakai sabun (CTPS),” paparnya.

Direktur Informasi dan Komunikasi PMK, Kementerian Komunikasi dan Informatika Wiryanta mengatakan sebagai koordinator kampanye  nasional, Kementerian Komunikasi dan Informatika telah melakukan kampanye menggunakan berbagai media, TV, Radio, media cetak,  online, medsos sampai pertunjukan rakyat dan forum. Berbagai aksi komunikasi tersebut mayoritas menyasar perempuan usia remaja, ibu  hamin dan ibu dengan anak usia di bawah dua tahun. (Rls/**)




    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*