Ini Cara Pengusaha Kopi Bengkulu Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

RIO/BE
INDUSTRI KOPI: Para pelaku industri kopi menyaksikan pengolahan minuman kopi dalam kegiatan Penguatan Kekayaan Intelektual Industri Kopi yang diselenggarakan Direktorat Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kemenparekraf, Selasa (3/11).

Bisnis kopi Bengkulu sedang diterpa badai, akibat dampak pandemi covid-19. Pelaku usaha berpikir keras, agar usaha kopinya tetap bertahan.
============
EKO PUTRA MEMBARA –
Kota Bengkulu
=================
PANDEMI covid-19 telah berdampak kepada semua sektor. Tidak hanya kesehatan, sektor ekonomi masyarakat juga terdampak akibat virus korona. Usaha kopi Bengkulu di Bengkulu sempat menggeliat. Namun saat pandemi berlangsung sejak awal tahun, pelaku usaha mikro kecil menengah atau UMKM ini mulai terdampak. Berbagai cara dilakukan agar tetap bertahan.

Seperti dilakukan Owner Kedai Kopi Gading Cempaka (KGC) Bengkulu, Abdul Khafi, sejak awal pendemi lalu, bisnis kopinya mulai lesu, lantaran pembeli kopi khas Bengkulu menurun drastis. Setiap malam, kedainya yang berada di Jalan Batang Hari Nusa Indah Kota Bengkulu sepi penikmat kopi. Berbagai upaya dilakukan, untuk tetap bertahan. Seperti mengurangi jumlah karyawan. Dulunya 4 orang karyawan, harus bekurang sebanyak 2 orang. Upaya itu dilakukan, agar bisa menekan angka pengeluaran atau gaji yang tidak sebanding dengan pemasukan.
“Saat itu tidak ada pilihan, selain mengurangi karyawan. Karena kita kaget betul, dampaknya besar sekali akibat virus korona. Pemasukan jauh berkurang, dibanding biaya pengeluaran,” ungkap Khafi.

Saat itu, menurut Khafi, banyak masyarakat yang takut mau keluar rumah. Ditambah lagi, masyarakat dari luar Provinsi Bengkulu tidak ada yang berkunjung ke Bengkulu, akibat pembatasan dibeberapa daerah. Kondisi ini, semakin memperburuk bisnis kopinya yang sudah dirintis beberapa tahun lalu. “Pendemi bukan hanya orang takut keluar rumah, tapi banyak orang berhemat untuk pengeluaran. Karena semua kondisinya sama, bisnis maupun tempat kerjanya sudah mulai efisiensi,” tuturnya.
Akibat bebarapa dampak tersebut, Khafi pun harus memutuskan kedai kopi khas Bengkulu itu, untuk tutup sementara waktu. Karena bisnis kopinya setiap hari, sepi pembeli. Walapun telah menyiapan menu kopi dengan berbagai varian rasa.
“Sempat tutup beberapa minggu. Karena memang sepi yang datang beli kopi, termasuk yang datang hanya nongkrong di kedai kopi saja,” ungkapnya.
Meski tutup beberapa minggu, Khafi berupaya untuk kembali membuka kedainya itu dengan optimis. Managemennya usahanya mulai dirubah, tidak hanya sekedar berbisnis kopi. Namun dengan menerapakan protokol kesehatan (Prokes) covid-19, juga menambah menu makanan baru di kedainya, di luar kopi.
Lalu kopinya, mulai dijual secara online. Bahkan pembeli juga bisa memesan, berapapun jumlah kebutuhan kopi yang siap untuk dikirimkan. “Ya nekat kita buka lagi. Kita tambah menu baru dan kopi kita jual online secara masif. Walapun sebelumnya sudah kita jual secara online,” tuturnya.
Cara tersebut, menurut Khafi ampuh untuk menyiapkan kebutuhan kopi untuk pencinta kopi Bengkulu. Bahkan dirinya berusaha untuk membuka distributor, seperti di Medan dan Jakarta. Upaya itu, juga untuk mengurangi ongkos kirim (ongkir) pelanggan kopi di luar Bengkulu. “Jadi pencinta kopi juga tidak was-was barangnya tidak dikirim. Karena lokasinya bisa lebih dekat, tidak dari Bengkulu saja,” ujar Khafi.
Dirinya menyakini, pada tahun 2021 mendatang, UMKM termasuk bisnis kopi bisa kembali bergairah. Walapun pendemi covid-19 itu belum tuntas. Karena pemerintah juga sudah mulai menyiapkan anggaran untuk bantuan langsung kepada masyarakat. Sehingga daya beli masyarakat akan kembali meningkat. “Kita berharap saja begitu. Jadi ekonomi juga bisa bangkit lagi. Terpenting, kita tetap menerapakan prokes. Usaha harus tetap jalan seperti biasa,” tambahnya.
Manager Bencoolen Coffee Bengkulu, Hery Supandi juga merasakan hal yang sama, usahanya juga sempat mengalami penurunan omzet. Termasuk mengurangi karyawan, juga menjadi pilihan waktu itu. “Memang awalnya semua usaha kopi sedikit menurun. Termasuk kita mengalaminya,” ungkap Hery.
Namun dirinya terus mencari upaya, agar usaha kopi itu bisa berangsur normal. Stategis yang dilakukan, dengan cara membarikan diskon kepada pembeli. Baik pembeli secara online, maupun yang datang langsung ke kedai untuk menikmati kopi khas Bengkulu. Tentunya dengan menerapkan prokes covid-19. “Selain kita berikan diskon, kita juga harus berikan sajian istimewa ditempat kita,” tambahnya.
Pemerintah menurut Hery, juga berupaya untuk membuat pelaku usaha kopi bangkit. Salah satunya, dengan menyiapkan bantuan modal UMKM.  Lalu membuka peluang usaha kopi baru, dengan cari melatih mensedu kopi dengan baik dan benar. Termasuk menyasar kepada petani kopi, agar tetap bisa menjaga kualitas kopi saat pemanenan hingga penjemuran. “Pemerintah melakukan ini. Maka peluang itu harus kita ambil, agar usaha kita tetap bisa bertahan,” tuturnya.
Termasuk yang dilakukan bersama Direktorat Fasilitasi Kekayaan Intelektual Kemenparekraf, merangkul pelaku usaha kopi di Bengkulu untuk dalam kegiatan penguatan kekayaan intelektual industri kopi yang digelar di Hotel Mercure Bengkulu, Selasa (3/11) lalu.
Menurut Hery, melalui program tersebut, pelaku usaha bisa mengatahui cara mendaftarkan merek usaha kopi yang dimilikinya. Sehingga nama atau merek kopi itu tidak diambil atau diklaim pihak lainnya. “Kalau usaha kita sudah terdaftar, secara hukum kita lebih aman,” tegas Hery.
Edi Panggabeyan, sebagai narasumber seminar penguatan kekayaan intelektual industri kopi, mengatakan, kuliner kopi ini diminati oleh semua kalangan. Artinya, untuk membuat punah usaha kopi sulit terjadi. Namun, harus tetap menggunakan cara-cara tepat dalam setiap kondisi. Termasuk dalam kondisi pendemi seperti saat ini.
“Banyak cara yang bisa dilakukan. Jadi tidak harus menjual kopi di kedai kopi. Mulailah menjualnya dari rumah atau keluarga kita. Kalau ini dilakukan dengan baik, maka akan ada keuntungan yang akan kita dapatkan,” terang Edi.
Begitupun terkait pengelolaan kopi juga harus dipertahankan kualitasnya. Sehingga cita rasa kopi tetap dapat dinikmati oleh pencitan kopi. “Menyajikan kopi itu tidak harus dengan cara yang sulit. Tapi bagaimana dengan cara sederhana, tapi rasa kopi itu tetap berkualitas. Karena banyak cara yang bisa dilakukan,” tutupnya. (**)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*