”Capung” Angkut Sembako

 

Belum adanya akses jalan yang memadai untuk menuju Desa Sungai Lisai, membuat distribusi kebutuhan pokok di desa tersebut masih menggunakan jasa Capung (kuli angkut,red). Hal inilah salah satu penyebab tingginya harga kebutuhan bahan pokok terutama yang menggunakan satuan berat Kilogram (Kg). Berikut liputannya :

Dwi Nopiyanto, Kabupaten Lebong

Waktu baru menunjukkan pukul 08.00 WIB, namun satu-satunya warung yang berada di Desa Sungai Lisai sudah didatangi oleh bebrapa warga. Namun, warga itu bukannya mau membeli kebutuhan pokok atau lainnya. Mereka ini menawarkan jasa ”Capung” (kuli angkut barang) untuk dibawa ke desa terdekat yaitu Desa Sebelat yang berjarak sekitar 10 Km dari Desa Sungai Lisai. Namun sayangnya saat itu tidak ada barang yang harus mereka bawa hingga akhirnya mereka pun satu per satu mulai kembali kerumah masing-masing.
Salah satu Capung, Mardi mengungkapkan, ia sudah beberapa tahun terakhir menjadi Capung. Dari pekerjaannya tersebut ia mendapatkan bayaran Rp 2.000 dari setiap Kilogram barang yang ia bawa. Biasanya ia sanggup membawa barang hingga 40-50 Kg sekali angkut. Dengan berat beban bawaan tersebut ia mampu menempuh jarak 10 Km dari desa Sungai LIsai Hingga Desa Sebelat selama 2,5 jam.
“Kalau bolak balik ada barang yang dibawa, ya bisa membawa pulang Rp 80-100 ribu. Pokoknya tergantung dari bahan yang dibawa ada atau tidak,” ungkapnya.
Pejabat sementara (Pjs) Kepala Desa Sungai Lisai, Hajron Hadi (34) mengungkapkan, hal inilah yang membuat bahan pokok terutama yang menggunakan satuan berat kilogram lebih tinggi. Karena pemilik warung juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengupah Capung.
“Ya palingan selisih Rp 5 ribu, kalau dipasar gula pasir Rp 12.000/kg disini Rp 18.000/kg, sementara kalau minyak manis kalau dipasar Rp 10.000/kg disini Rp 15.000. Tapi kalau untuk bahan pkok lainnya seperti mie, rokok yang tidak menggunakan satuan kilogram ya harganya sama saja,” singkat Hajron.(***)