Cagub Saling Tuding Berbohong

BENGKULU, BE – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Bengkulu, tadi malam (27/11) kembali menggelar debat publik calon gubernur dan calon wakil gubernur Bengkulu untuk tahap kedua. Debat publik kali ini lebih kondusif dibandingkan tahap pertama yang terlibat saling serang dan saling menyudutkan.

RIO-DEBAT PUBLIK PILGUB-KE 2 (1)

Dalam debat publik kedua ini, kedua paslon menjanjikan melakukan reformasi birokrasi secar besar-besaran yang diawali dengan penerimaaan atau perekrutan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang bersih tanpa sogok menyogok.

Selanjutnya penempatkan pejabat sesuai dengan keahliannya yang juga bebas dari juali beli jabatan, serta menjanjikan pelayanan perizin yang cepat dan murah. Tidak tanggung-tanggung, kedua paslon, Ridwan Mukti-Rohidin Mersyah dan Sultan B Najamudin-Mujiono proses penerbitan bisa selesai dalam hitungan jam dan bebas dan pungutan-pungutan.

Namun situasi debat agan sedikit memanas pada segmen ke 3, yakni sesi saling bertanya antara kedua paslon.
Dalam kesempatan itu, Cawagub nomor urut 1, Mujiono langsung menuding Ridwan Mukti telah melakukan kebohongan besar, dengan mengatakan Provinsi Bengkulu tertinggal dan Kabupaten Musirawas yang dipimpinnya selama 10 tahun terakhir ini sudah keluar dari ketertinggalan.

“Setiap kampanye paslon nomor satu selalu ngomong Bengkulu tertinggal dan terbelakang. Itu jelas bohong besar dan
ngenyek kerja kepala daerah yang pemimpin Bengkulu sebelumnya. Selain itu, Pak RM juga selalu ngomong sudah membangun Musirawas dari desa, padahal masih masuk daerah tertinggal. Kebohongan apalagi yang saudara sampaikan kepada masyarakat?,” tanya Mujiono yang setengah berbahasa Jawa.

Mendapati pertanyaan itu, RM pun langsung menjelaskan bahwa Provinsi Bengkulu tertinggal berdasarkan pernyataan Plt Sekdaprov dan diperkuat data dari Bappenas bahwa 670 desa di Bengkulu masih tertinggal. Bahkan Provinsi Bengkulu saat ini berada di posisi ke 31 dari 34 provinsi yang ada di Indonesia.

“Ketertinggalan Bengkulu tidak bisa diukur dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM)-nya, bahkan saya sudah membuktikannya masuk keluar desa. Sedikitnya 800 desa yang sudah saya kunjung dalam waktu 3 bulan terakhir ini, saya lihat langsung, jalannya rusak parah, listrik balum ada, sekolah-sekolah untuk mewujudkan wajib belajar 12 tahun belum terpenuhi. Jadi saya mengatakan Bengkulu tertinggal, itu bukan bohong, tapi fakta,” terangnya.
Terkait Musirawas yang sebutkan Paslon nomor 2 tertinggal dan RM berbohong dengan mengatkan sudah keluar dari kemiskinan.

“Saya ingin mengklarifikasi dulu mengenai Musirawas, bahwa 2008 di Palangkaraya saya mendapatkan penghargaan dari Presiden SBY bahwa Musirawas sudah terbebas dari kemiskinan. Kadang-kadang tidak mengerti juga dikatakan berbohong,” jelasnya.
Pada sesi berikutnya, giliran RM menyerang Sultan dengan menanyakan bagaimana etika seorang wakil gubernur yang menampakkan ketidakakurannya dengan gubernur. Misalnya Sultan pernah mengancam Gubernur Junaidi karena lambat melantik caretaker bupati.
Pertanyaan itu dijawab oleh Sultan, ia menyampaikan ancaman itu sebagai bentuk kepeduliannya terhadap Bengkulu. Sebab, besar dampak yang akan timbul bila caretaker bupati tidak segera dilantik, misalnya molornya pengesahan APBD Perubahan dan terganggungnya pembangunan.

“Kalau saya biarkan, berarti saya ikut salah. Mungkin ada yang menilai itu diluar kewajaran, tapi itu saya lakukan demi masyarakat Bengkulu,” sanggahnya.

Pada sesi kedua di segemen keempat ini, Cawagub nomor 2 Mujiono kembali menyerang Ridwan Mukti dengan memperlihatkan Perpres nomor 131 tahun 2015 bahwa Musirawas dan Musirawas Utara masuk ke dalam daerah tertinggal . Selain itu, Mujiono juga mempertanyakan kemana APBD Musirawas yang mencapai Rp 1,1 triliun tahun 2011 namun tidak mampu keluar dari kemiskinan, bahkan IPM-nya lebin rendah dibandingkan dengan Mukomuko yang APBD nya hanya Rp 800 miliar.
Mendapati pertaanyaan itu, RM pun tampak panas. Ia menegaskan bahwa data tersebut bodong alias bohong. Tidak hanya itu, ia bahkan menuding paslon nomor 2 telah melakukan pembohongan publik.

“Data itu bodong, kalau tidak percaya silahkan lihat langsung ke Musirawas dan tanyakan kepada masyarakatnya,” kata RM dengan dana sedikit tinggi. (400)