Buruh dan Tuna Netra Tak Dapat Bedah Rumah

Jefry/BE- Rumah warga tidak layak huni tidak mendapat program bantuan bedah rumah.

AIR PERIUKAN,BE – Kesenjangan penerima bantuan pemerintah pusat maupun daerah khususnya bedah rumah patut menjadi perhatian khusus. Mirisnya, toke sapi dan warga pemilik ruko justru mendapatkan bantuan di desa Kungkai Baru, kecamatan Air Periukan. Namun, tidak bagi keluarga Selamet Jumakir (40), yang keseharian bekerja serabutan merumput harian dan Miswan (56) penyandang Tunanetra. Dua Warga yang rumahnya berdindingkan papan lapukini justru tak mendapatkan bantuan bedah rumah.

“Ya kami tinggal di rumah kayu ukuran 5 x 7 meter. Dengan kondisi yang bisa dilihat sendiri,” sampai Selamet Jumakir (40) kepada BE.

Padahal sebelumnya rumah Selamer dan Miswan sudah diusulkan untuk menerima bantuan bedah rumah, namun tidak diterima. Padahal persyaratan sudah kita lengkapi, termasuk sertifikat tanah rumah tersebut. Slamet juga juga tidak mendapatkan konfirmasi yang jelas, apa penyebab dirinya tidak mendapatkan bantuan tersebut. Padahal dirinya sangat berharap istana kecil bagi keluarganya tersebut dapat direhab sehingga membuat anak dan istrinya bahkan ibunya nyaman. Tambahnya, terhitung tinggal di Desa Kungkai Baru sejak 1983 rumahnya tersebut belum pernah di rehab.

“Maunya kami dibangun Pak, tetapi kan kami belum ada biaya. Kami juga tidak tahu kenapa kami tidak jadi dapat bantuan,” tambahnya.

Tak jauh berbeda, Miswan (56) merupakan penyandang Tunanetra. Juga mengalami hal sama. Rumahnya berdindingkan papan lapuk sangat memprihatinkan juga tidak mendapat program bedah rumah. Miswan yang berprofesi sebagai tukang urut tradisional, penghasilannya juga tidak menetap. Tergantung ada atau tidak yang meminta urut kepada dirinya. Dia tinggal bersama istri Siti Hasanah (55) yang bekerja sebagai pembersih Masjid, dan empat orang anaknya, dirinya juga tinggal di rumah yang berdinding papan. Miswan dan istrinya tak bisa memperbaiki rumah mereka sendiri. Karenanya, dirinya juga mengusulkan untuk mendapatkan bantuan bedah rumah.

“Sudah lengkap semua persyaratan, sudah kita serahkan kepada Kepala Desa. Tapi inilah kenyataannya, padahal kami sudah siapkan pondasi,” ujar Miswan.

Ironisnya, tak jauh dari kawasan tersebut terdapat warga desa yang bekerja sebagai toke sapi mendapatkan bantuan bedah rumah. Begitu juga pada warga yang memiliki ruko dua tingkat justru mendapatkan bantuan bedah rumah.
“Ya kalau bisa tepat sasaran lah pak. Masa yang kaya dapat bantuan kami tidak,” lirihnya.
Anggota DPRD Seluma Tenno Heika SSos dari penulusuran di lapangan, dan menurut beberapa informasi ada beberapa penerima bantuan bedah rumah tersebut, diketahui memiliki bangunan ruko dan sebagai toke sapi dengan memiliki Mobil.

“Ini harus menjadi perhatian bagi dinas terkait, jangan sampai bantuan yang diberikan tersebut menyalahi aturan, sehingga yang pantas mendapat tidak terealisasi dan sebaliknya yang tidak pantas malah mendapatkan bantuan,” sampainya. (333)