Bupati Kepahiang Wacanakan Buat Rumah Singgah

Kepahiang
Doni/Bengkulu Ekspress Bupati dan rombongan mengunjungi sepasang tunawisma di los pabrik batu Bando Amin C Kader di kawasan Peraduan Binjau Desa Taba Air Pau.

TEBAT KARAI, Bengkulu Ekspress – Prihatin melihat kondisi Reskan dan Nurbaiti sepasang tunawisma yang tinggal satu atap tanpa ikatan pernikahan membuat Bupati Dr Ir Hidayatullah Sjahid MM memiliki gagasan mendirikan rumah singgah. Wacana tersebut terucap oleh bupati saat melihat sepasang tunawismas dilos bangunan pabrik batu milik mantan Bupati Kepahiang Bando Amin C Kader MM Rabu (8/3).

Bupati mengatakan kondisi kedua orang warga yang lanjut usia tersebut sangat memprihatikan, seharusnya keduanya berada dipanti jompo atau rumah singgah supaya dapat menjalani kehidupan lebih layak. Keberadaan dua tunawisma tinggal satu atap tanpa memiliki ikatan pernikahan sangat miris. “Nanti dibuat rumah singgah, numan harus diperhitungkan terlebih dahulu bagaimana konsepnya. Inikan tunawisma harusnya berada dirumah singgah,” tutur Bupati.

Dayatpun mengatakan banyak hal harus menjadi pertimbangan sebelum adanya pembentukkan rumah singgah, mulai dari penganggaran. Hingga nantinya pengelolaan rumah singgah, karena jika tidak dibautkan ketentuan yang bagus akan dapat dijadikan celah bagi daerah lainnya untuk mengimpor tunawisma atau gelandangan ke Kabupaten Kepahiang nantinya. “Tidak boleh itu, nantinya rumah singgah untuk tunawisma khusus orang di Kabupaten Kepahiang,” ujarnya.

Sebelumnya Bupati bersama istri Efie M Hidayatullah mengunjungi bangunan los pabrik batu di Peraduan Binjai Desa Taba Air Pau Kecamatan Tebat Karai. Bupati meninjau kondisi sepasang tunawisma yangtinggal satu atap meskipun tidak memiliki ikatan pernikahan. Keduanya tinggal dibangunan los pabrik pengolahan batu milik mantan Bupati Bando Amin C Kader MM dikawasan Peraduan Air Desa Taba Air Pauh sejak 3 tiga tahun lalu, saat ditanya warga sang pria bersanam Reskan mengaku bila Nurbaiti anak perempuannya hingga tinggal bersamanya.

Reskan dengan perawakan kurus rambut berantakkan dan sudah mulai memutih itu, mengaku baru berumur 30 tahun. Dan terpaksa tinggal dibangunan los pabrik penglohan batu karena tidak memiliki pekerjaan sehingga sehari-harinya hanya makan dari pemberian warga yang lewat. “Kadang beli pak kalau ada uang, ada juga dikasih,” ucapnya.

Ia sendiri diduga mengalami gangguan jiwa, sebab saat ditanya tak memberikan respon secara baik dan benar. Terutama saat ditanya umurnya sendiri pria yang tanpa menggunakan baju dalam posisi duduk dilantai yang beralasan plastik dan koran bekas itu menjawab bila umurnya masih tiga puluhan, padahal bila dilihat dari perawakannya pria itu berkisaran umur 70 an tahun. (320)