Bupati dan MUI Pantau Suluk

IMG_0530CURUP UTARA, BE – Bupati Rejang Lebong (RL) H Suherman SE MM sekitar pukul 10.30 WIB, Sabtu (20/07) mengunjungi gedung yang menjadi lokasi
suluk jemaah pengajian ilmu tasawwuf Thoreqat Naqsyabandiyah di Desa
Suka Datang Kecamatan Curup Utara.
Didampingi Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten RL H.
Damanhuri Anuwar, serta sejumlah tim medis dari Dinas Kesehatan, orang
nomor satu di RL itu melakukan peninjauan kelambu yang digunakan para
jemaah suluk untuk berzikir, aula gedung serta ruang kesehatan yang
disiapkan penyelenggara suluk. “Mungkin gedung ini memang perlu
fentilasi udara yang baik, agar jemaah tidak sumpek dan sesak nafas.
Selain itu ketersediaan air harus cukup, karena jemaah yang meninggal
umumnya karena dehidrasi atau kekuranga cairan,” tutur Bupati kepada
wakil ketua Thoreqat Naqsyabandiyah M. Edi yang ikut mendampingi
kunjungan tersebut.
Bupati juga mengingatkan penyelenggara agar lebih selektif dalam
menerima KIR dokter para calon jemaah, sebelum diizinkan untuk ikut
dalam kegiatan suluk. “Zikir itu harus dilakukan dengan kondisi tubuh
yang baik dan sehat, kalau sakit nanti akan bahaya, ada yang meninggal
atau sebagainya. Saya harapkan betul ini untuk tidak terjadi kembali,”
pinta Bupati.
Menanggapi ajaran pengajian ilmu tasawwuf Thoreqat Naqsyabandiyah,
Bupati menegaskan, kegiatan tersebut merupakan kegiatan ibadah dan
keyakinan. “Selagi tidak bertentangan dengan ajaran dan syariat Islam
pemerintah akan dukung, namun kalau sudah menyimpang jelas harus
diingatkan,” kata Bupati.
Tahun sebelumnya pemerintah pernah mewacanakan lokasi suluk pengajian
tasawwuf Thoreqat Naqsyabandiyah dijadikan salah satu lokasi kunjungan
wisata rohani. Karena pusat kegiatan yang berlangsung di Desa Suka
Datang tersebut diikuti sejumlah perserta dari berbagai daerah di
Indonesia. “Kita pernah bahas ini dengan muspida agar dijadikan lokasi
wisata rohani dengan pelayanan yang baik sehingga nyaman diikuti, dan
tidak ada yang meninggal lagi. Kita bisa membebaskan lahan untuk itu,
namun lagi-lagi semuanya tergantung anggaran, dan kita harapkan ada
dukungan dari DPRD,” tegas Bupati.
Sementara itu, Ketua MUI menambahkan pihaknya terus mengawasi kegiatan
Thoreqat Naqsyabandiyah yang berlangsung di Desa Suka Datang. Termasuk
soal pengaduan mantan jemaah suluk yang melaporkan tida ada kegiatan
taraweh di gedung Thoreqat Naqsyabandiyah. “Sebenarnya taraweh itu
sunnah, namun sangat dianjurkan bagi umat Islam untuk mengerjakan di
bulan Ramadhan. Kami hal ini akan kami pelajari lagi, termasuk untuk
terus menekankan dilakukan sholat taraweh, dan sholat Jum’at,” tegas
Damanhuri.
Dibagian lain, Wakil Ketua Thoreqat Naqsyabandiyah M Edi sebelumnya
menegaskan telah melaksanakan taraweh bagi para jemaah suluk. “Mereka
ada yang ikut taraweh di Masjid masyarakat, ada yang di dalam gedung,
hanya saja memang sebagian dilakukan dalam kondisi berbeda,” tutup
Edi. (999)