Bunga Rafflesia Mekar di Kedurang

MEKAR: Bunga Rafflesia raksasa sedang mekar di taman wisata alam, Batu Ampar, Kedurang.

KEDURANG, bengkuluekspress.com – Bunga Rafflesia Arnoldi saat ini sedang mekar di kawasan obyek wisata alam Kedurang tepatnya di Desa Batu Ampar, Kedurang. Saat ini kawasan obyek wisata bunga Rafflesia tersebut dikelola oleh pemuda desa setempat yang tergabung dalam organisasi pemuda Penjelajah Goa Gunung Hutan Desa (PENGGUNDE). Mereka ini yang siap mengantar pengunjung ke lokasi

“Saat ini hampir setiap hari selalu ramai yang melihatnya,” kata Ronal dan Kiki pengurus PENGGUNDE.

Dikatakan Ronal, untuk menjaga kelestarian bunga Rafflesia tersebut, dirinya berharap para pengunjung dapat menjaganya dengan tidak merusaknya baik yang sudah mekar maupun yang masih bongkolnya. Sebab jika ada tangan jahil, maka bunga kebanggaan warga Bengkulu ini akan musnah. Untuk itu, ketika di lokasi agar berhati- hati saat melintas agar tidak terpijak bongkol-bongkol yang masih kecil.

“Areal taman wisata alam bunga Rafflesia ini lebih dua hektar dan bongkol Rafflesia mungkin lebih 100 bongkol yang tersebar di lokasi, jika terpijak pasti akan rusak,” ujarnya.

Ditambahkan Kiki, saat ini ada satu bunga Rafflesia yang sedang mekar. Dirinya mengklaim bunga tersebut terbesar di dunia. Sebab memiliki deameter 116 cm. Tidak hanya itu, di dekatnya ada yang mulai mekar dan bahkan ada satu bongkol lagi yang diperkirakan akan mekar 6 hari ke depan. Dengan banyaknya bongkol-bongkol raflesia, dirinya memperkirakan sepanjang tahun 2021 ini, bunga Rafflesia akan selalu ada yang mekar di taman wisata alam tersebut.

“Saat ini ada yang sedang mekar, yang mulai mekar ada dan yang akan mekar 6 hari lagi ada juga, sepanjang tahun 2021 ini selalu ada bunga raflesia yang mekar di sini,” imbuhnya.

Bagi warga yang mau ke lokasi, lokasinya tidak terlalu jauh, dapat ditempuh dengan berjalan kaki satu jam dari pinggir jalan ke lokasi. Para pengunjung pun tidak akan tersesat. Sebab PENGGUNDE akan selalu menemani untuk mengantar pengunjung ke lokasi. Setiap pengunjung hanya dibebankan membayar uang Rp 25 ribu. Uang tersebut untuk biaya pelestarian dan juga untuk kebutuhan pengunjung sendiri, seperti air minum dan lainnya.

“Bagi yang ingin ke lokasi, kami siap mengantar dan tidak akan tersesat,” tutup Kiki. (369)

    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*