Bulog Stop Impor Beras

Kepala Bulog Divre Bengkulu, Dedi Sabetra saat sedang memberikan pemaparan.
Kepala Bulog Divre Bengkulu, Dedi Sabetra saat sedang memberikan pemaparan.

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Badan Urusan Logistik (Bulog) Divre Bengkulu memberikan kejutan besar. Ditengah mencuatnya impor beras, Bulog Divre Bengkulu memastikan tidak akan melakukan impor beras dari luar negeri.

Kepala Bulog Divre Bengkulu, Dedi Sabetra mengatakan, beras impor itu akan diganti dengan melakukan pembelian beras lokal Bengkulu. Hal ini untuk meningkatkan produktifitas beras lokal dalam memenuhi kebutuhaan beras di Provinsi Bengkulu.

“Kalau ada rencana datang beras impor, kita akan coba konsultasikan bagaimana ini tidak masuk,” terang Dedi kepada Bengkulu Ekspress, kemarin (25/1).

Dikatakanya, penolakan beras impor itu dilakukan, lantara beras impor cadangan Bulog saat ini masih terlalu banyak.

Di gudang Bulog, saja saat ini stok beras impor itu mencapai 700 ton beras. Kalaupun akan dikeluarkan, beras impor yang ada ini hanya sebagai cadangan, jika Bengkulu mengalami peningkatan beras ditingkat pasar Bengkulu.

“Yang ada ini untuk stok saja, kalau memang sudah emergensi utuk dikeluarkan,” tambahnya.

Penolakan beras impor itu sebagai wujud Bulog Bengkulu komitmen untuk melakukan penyerapan beras lokal. Kalau selama ini, Bulog hanya bisa menyerap 2 ribu ton pertahan. Tahun ini, Bulog Bengkulu menargetkan akan melakukan pembelian beras dari petani mencapai 22 ribu ton pertahunnya.

“Jadi memang lebih tinggi terget kita dari tahun lalu,” papar Dedi.

Pembelian itu akan dilakukan disetiap kabupaten kota. Komitmen itu juga atas dorongan dari Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Bengkulu, Dr. H. Rohidin Mersyah, MMA, untuk membeli beras lokal. Sebab potensi beras lokal sendiri memiliki kualitas lebih tinggi dibanding beras-beras dari daerah lain, termasuk beras impor sekalipun.

Produktifitas hasil panen selama ini tidak dimaksimalkan oleh Bulog untuk melakukan penyerapan. Meski demikian, untuk mensukseskan penyerapan itu, harus didukung oleh semua kabupaten/kota.

“Kami akan rapat bertama dengan Gubernur dan Sekda, untuk melakukan pemetakan, daerah mana saja bisa kita serap hasil panen masyarakat,” tegasnya.

Untuk harga pembelian nanti akan lebih disesuaikan dengan kondisi beras petani Bengkulu. Untuk gabah beras yang kualitas standar dihargai sekitar Rp. 5.200/kilo. Untuk gabah jenis medium dengan harga Rp. 8.000/kilonya.

Sementara untuk gabah dengan kualitas premium maka bakal akan dihargai sekitar Rp. 9.000 perkilonya. Harga tersebut masih akan disesuaikan, bisa saja, jika kuliatasnya lebih baik dengan memiliki broker 10, maka akan dihargai lebih mahal.

“Harga kita sesuai dengan kondisi gabang, jika bagus tentu akan lebih mahal,” tutur Dedi.

Tidak hanya melakukan rapat bersama Gubernur saja, para bupati dan wakilota nantinya juga akan digelar rapat bersama. Masing-masing wilayah nantinya akan diteget, sekitar 15 ribu ton pertahunnya. Jika semua kabupaten, sanggub menyediakan teget tersebut, maka dipastikan Bulog Bengkulu juga akan siap melakukan pembelian.

“Kita ada uangnya untuk beli. Jika Perlu, nanti sudah kita giling langsung kita distribusikan,” imbuhnya,

Beras yang didapat dari petani Bengkulu nantinya akan digunakan untuk keperluaan distribusi beras Bulog. Baik itu untuk bansos rastra, op beras dan kebutuhaan stok beras Bulog dimasing-masing gudang.

Untuk itu, Bulog menekanakan kepada masyarakat untuk bisa menjual beras tersebut kepada Bulog Bengkulu, dimasing-masing gudang.

“Berapapun kita akan beli. Jadi silahkan untuk berkoordinasi dengan Bulog nantinya,” tutup Dedi. (151/krn)