Bulog Kesulitan Beli Gabah Petani

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Perum Bulog Divre Bengkulu kesulitan menyerap gabah dari petani. Penyebabnya, para petani lebih memilih menjual hasil panen mereka yang sudah dikonversi menjadi beras karena harga jualnya lebih tinggi.

“Kalau gabah, sampai saat ini kami memang belum menyerap begitu banyak. Sampai sekarang kurang lebih masih sekitar ribuan ton. Ini karena rata-rata para petani tidak mau jual gabah. Mereka beralasan sengaja mendiamkan dulu gabah mereka dan akan dijual ketika ada keperluan mendesak,” kata Kepala Subdivre Bulog Bengkulu, Defrizal, kemarin (15/1).

Untuk menggenjot penyerapan gabah, Bulog sudah melakukan program jemput bola dengan mendatangi langsung petani di beberapa daerah seperti di Kabupaten Bengkulu Utara, Rejang Lebong, dan Bengkulu Selatan. Ini dilakukan agar penyerapan gabah di Bengkulu bisa terserap maksimal. Akan tetapi banyak petani enggan menjual gabahnya dengan alasan harga beli yang diberikan Bulog sangat murah hanya Rp 5.115 per kilogram (kg).

“Petani lebih memilih menjual berasnya dari pada gabah, karena kalau jual gabah untungnya sedikit,” ujar Defrizal.

Meski begitu, Bulog tidak serta merta patah arang, beras dari para petani siap ditampung jika mereka tidak ingin menjual gabah. Bahkan, berdasarkan catatan Bulog di 2019 lalu, beras yang berhasil dibeli oleh Bulog dari para petani mencapai 1.500 ton dengan harga Rp 8.030 per kg. “Tapi walaupun dibeli dengan harga segitu, tetap saja ada petani yang tidak ingin menjual beras ke Bulog dengan alasan harga belinya terlalu murah,” tuturnya.

Ia mengaku, petani menginginkan harga beli beras minimal Rp 10 ribu per kg. Hal ini mengingat beras yang dijual adalah kualitas premium. Hal inilah yang membuat Bulog kesulitan untuk menyerap beras dari petani.”Petani kita itu cerdas, mereka tidak mau menjual beras bagus dengan harga murah, makanya banyak yang menjual ke luar daerah,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Bengkulu, Ir Ricky Gunarwan mengatakan, petani di Bengkulu banyak menjual beras kepada para tengkulak dari luar Provinsi Bengkulu. Mereka membeli beras di Bengkulu kemudian dikemas ulang dan menjualnya kembali ke Bengkulu.

Hal inilah yang membuat harga beras di daerah cukup tinggi. Padahal idealnya harga beras kualitas premium itu harganya hanya Rp 10 ribu per kg. Akan tetapi setelah dikemas ulang dijual dengan harga Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu per kg.”Petani harusnya bisa menjaga harga beras di daerah, kalau kita jual ke daerah lain, maka nanti akan di jual kembali ke Bengkulu dengan harga yang lebih mahal,” tuturnya.

Oleh karena itu, ia berharap kepada para petani di Bengkulu untuk tidak menjual gabah ataupun beras kepada para tengkulak dari luar daerah. Usahakan beras lokal asal Bengkulu dijual langsung ke Bulog. Sehingga ketersediaan beras di daerah terjamin dan harganya tidak terlalu mahal.”Kita sangat berharap para petani di Bengkulu bisa menjual berasnya di Bulog, kalau kita ingin daerah kita sejahtera, maka stop jual beras ke daerah lain,” tutupnya.(999)



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*