Buku “Pacaran Sehat” Dibahas Dalam Rakor

buku
BENGKULU, BE-  Kontroversi  tema pacaran sehat  yang ditemukan di buku pendidikan jasmani dan kesehatan untuk kelas XI jenjang SMA. Serta ilustrasi yang menggambarkan ikhwan dan akhwat, tak hanya diperbincangkan di daerah. Polemik inipun telah dibahas dalam rapat koordinasi (rakor) bersama Kemdikbud, di Jakarta baru-baru ini. Hal itu ditegaskan Kabid Dikmen Dikbud kota Bengkulu, Hj Rosmayetti MM, kemarin. Dalam rapat koordinasi (Rakor) tersebut, polemik buku Penjaskes hanya terjadi dibeberapa daerah saja. Dalam pembahasanyapun dinilai tidak janggal dan menyalahi aturan, ” Apa yang dituliskan  tidak ada yang janggal. Terlebih  pembelajaran seksual itu harus diajarkan sejak dini, ” ungkap mantan Kepsek SMKN 3 Kota Bengkulu itu.
Iamengaku belum membaca dan mengetahui  buku yang diperdebatkan tersebut. Namun sejauh ini belum ada instruksi penarikan buku itu.”Untuk penarikan buku belum ada informasinya sejauh ini,” jelasnya.
Disisi lain, Kadispendik Provinsi Bengkulu, Atisar Sulaiman SAg saat dikonfirmasi mengaku belum menerima laporan dari kabupaten/kota, terkait kontroversi buku Penjas yang temanya  berisikan “ajakan” pacaran itu. “Sampai sekarang belum ada laporan dari daerah, karena bukunya sendiri belum seluruhnya terdistribusi ke sekolah, ” ujar Atisar.
Jikapun dalam pelaksananya nanti ditemukan kejanggalan, serta adanya imbauan dari pusat untuk melakukan langkah-langkah penarikan. Dispendik Provinsi akan mengambil langkah secepatnya, untuk penarikan. ” Ya sekarang kita tunggu saja intruksi dari pusat, jika memang harus ditarik ya kita tarik dan sebaliknya, ” katanya.
Hal senada diungkapkan Kabid Dikmen Dispendik, Ismilianto MPd. Menurutnya buku  mata pelajaran Penjaskes yang membuat “Ajakan” pacaran itu se-Indonesia sama. Paslanya ebook yang dicetak oleh percetakanpun sama. “Sejauh ini Dispendikpun tak ingin gegabah dalam mengambil sikap, saat ini Sekolah diminta untuk mengecek terlebih dahulu. Apakah  tema pacaran sehat itu  berdampak negatif kepada siswa,  jika berdampak pada hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya  pendistribusianyadi stop terlebih dahulu,” tukasnya. (247)