Bukit Kandis Ditumbuhi Pohon Kandis Alami

1.Gunung Bungkuk Dihuni Anak DalamMasyarakat di Bengkulu Tengah tentu sudah tahu dengan Bukit Kandis. Lokasi yang belakangan ini menjadi tempat off road tingkat nasional. Namun, mungkin ada warga belum mengetahui asal -usul dari objek wisata yang terletak di Desa Durian Demang Kecamatan Karang Tinggi, Kabupaten Bengkulu Tengah (Benteng) ini. Ada cerita dibalik nama Bukit Kandis yang sering  disebut oleh warga sebagai adiknya Gunung Bungkuk ini.
Simak laporan berikut ini.

===========================================================

Novriyanto,

Karang Tinggi
============================================================
Dahulunya, bukit ini ditumbuhi banyak Pohon Asam Kandis atau pohon kandis. Pohon Kandis ini tumbuh secara alami, mulai dari sudut kaki bukit hingga sampai ke pinggiran puncaknya. Oleh sebab itulah, warga Benteng menamai bukit ini dengan sebutan bukit atau gunung kandis. Namun, sekarang  batang asam kandis disekitar bukit yang penuh dengan bebatuan itu sudah punah. Aktifitas masyarakat yang mencari batu digunung itu, membuat pohon kandis di sekitar bukit ini mati dan berkurang. Ditambah lagi kawasan Bukit Kandis kini sudah beralih fungsi menjadi lahan perkebunan kelapa sawit dan karet disekitarnya.
“Kalau sekitar tahun 1980 – an memang daerah ini dipenuhi dengan batang asam kandis yang tumbuh secara alami, namun saat ini sudah hampir punah,” ungkap tokoh masyarakat setempat, Suhartono.
Untuk menjangkau Bukit Kandis, hanya butuh waktu sekitar 20 menit saja. Bukit ini jaraknya sekitar 650 meter dari simpang Desa Durian Demang. Oleh orang tetuah dulu, bukit kandis ini menjadi tempat rekreasi. Banyak warga mendaki sampai ke puncak bukit, untuk melihat pemandangan yang indah disana.  Bukan hanya warga Benteng saja, tapi warga luar juga banyak mengunjungi BUkit Kandis tersebut. “Kalau dahulu banyak warga luar yang berkemah disini,” terangnya.
Hanya saja, sambung Suhartono, banyak pengunjung yang jatuh dan tewas saat mendaki Bukit Kandis tersebut. Peristiwa tragis ini lambat laun membuat Bukit Kandis yang bentuknya seperti badan singa duduk ini jarang dikunjungi lagi. Beberapa pendaki gunung dari luar daerah yang dulu sering latihan fisik mendaki gunung dengan tali untuk mencapai puncak Bukit Kandis, kini tak ada lagi.
“Dari sejarah itu, saya minta Pemda melestarikan kembali Bukit Kandis, sehingga menjadi tujuan wisata baik lokal, nasional bahkan internasional,” jelasnya.
Tokoh masyarakat lainnya, Amidah (70) menuturkan, saat ini kondisi Bukit Kandis ini sudah menjadi lahan galian C. Banyak warga mengumpulkan batu gunung, lalu menjualnya ke penampung. Bahkan lokasi bukit kandis ini juga sudah diolah oleh perusahaan milik daerah di Bengkulu, untuk mengambil batu dan dijual kembali ke masyarakat. “Bukit itu kini jadi lahan warga mencari batu,” katanya.
Jika pemerintah daerah tidak mengambil langkah cepat untuk melestarikannya, Bukit Kandis ini terancam hancur dan hilang daya tariknya. Bahkan, jika bebatuan dari puncak Bukit Kandis ini longsor maka bisa menimbulkan bencana. Bebatatuannya bisa menghantam warga di beberapa desa disekelilingnya. Hal inilah yang perlu dicegah, sehingga kedepannya tidak menimbulkan bencana bagi warga disekitarnya. (**)