BPS: Miskin dan Sangat Miskin Beda Tipis

KEPAHIANG, BE – Badan Pusat Statistik (BPS) mengklaim telah melakukan pendataan (survey) keluarga miskin (gakin) secara profesional serta bermitra dengan pihak pemerintah desa dan kelurahan. Namun, data survey itu bisa dengan cepat berubah setelah survey dilakukan. Belum lagi pihak Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) yang terpusat di Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI) Jakarta memiliki kriteria miskin sendiri. “Disinilah masyarakat belum memahami, dimana perbedaan antara miskin dan sangat miskin ini tipis sekali.

Sebagai contoh, si A rumahnya bagus, tapi penghasilannya rendah, kemudian si B memiliki rumah sederhana, tapi penghasilannya jauh lebih baik dari A. Lalu, tidak jarang yang sangat miskin tiba-tiba dalam beberapa bulan atau tahun penghasilannya jauh membaik, begitu pula sebaliknya yang sudah membaik bisa menurun drastis,” kata Kepala BPS Kepahiang, Novrizal SE melalui Kasi Statistik Sosial, Eko Fajariyanto SST.

Menurutnya, survey yang dilakukan BPS ini telah sesuai standard operasional prosedur (SOP) dimana pelaksanaan survey ini sudah dilakukan dengan sangat profesional.

“Kami juga bekerjasama dengan pemerintah desa dan Kelurahan juga selalu inten sebelum petugas diterjunkan ke masyarakat. Selain itu juga ada pendidikan dan pelatihan selama tiga hari dengan bekal yang komplit. Terjun di masyarakat ini juga sudah harus sesuai SOP dan tidak main-main,” jelasnya.

Dikatakannya, sesuai agenda BPS survey atau yang disebut Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) memang dilakukan 3 tahun sekali untuk diupdate kembali. Dimana hasil survey yang telah dilakukan BPS ini juga kemudian dikirimkan ke TNP2K dan tim tersebutlah yang menentukan penerima berbagai bantuan untuk warga miskin.

“Bisa itu bantuan BLT atau raskin atau bantuan lainnya. Jadi, dalam hal ini BPS lepas, karena setelah jadi data diserahkan ke TNP2K dan di sanalah (TNP2K) yang menentukannya,” terang Eko.

Adapun di Kepahiang sendiri pendataan PPLS pertama kali dilakukan pada tahun 2005, kemudian tahun 2008 dan terakhir tahun 2011 dimana dari tiga kali pendataan tersebut memang cenderung naik turun (fluktuatif).

“Pada 2005 ada 11.559 warga miskin, kemudian pada pendataan tahun 2008 turun menjadi 7.999 dan pendataan tahun 2011 meningkat kembali menjadi 9.007,” jelasnya.(505)