Booming Bisnis Dream For Freedom (D4F)

TEDI - Kasubbag Pengawasan OJK Pronvinsi Bengkulu Bismi MaulanaEkonomi Sulit, Tingkat Literasi Rendah

Beberapa bulan terakhir, masyarakat Bengkulu sering mendengar bisnis online bernama Dream For Freedom (D4F) atau yang lebih sering dilafalkan dengan DAF. Tak kurang dari 15.000 orang di Bengkulu yang sudah bergabung dalam bisnis yang didirikan oleh Fili Muttaqien ini. Padahal bisnis ini belum genap setahun masuk ke Bengkulu.

Lalu apa penyebab masyarakat tergiur masuk?
Berikut laporannya.

Tedi Cahyono, Bengkulu

DILANSIR di situs dream4freedom.co, untuk menjadi member komunitas D4F, seseorang harus membeli tiket seharga Rp200 ribu. Kemudian, calon member harus memilih paket apa yang akan dipilih untuk bergabung. Ada tiga paket yang ditawarkan diantaranya paket yakni paket Rp 1juta, Rp5 juta dan Rp10 juta.

Paket tersebut dibayaran secara bertahap. Dimana, member wajib menstransfer secara acak sesuai permintaan sistem sebesar 20% dari nominal paket. Misal paket yang dipilih Rp 10 juta maka yang wajib dijadikan down payment adalah sebesar Rp2 juta. 80% sisanya harus dibayarkan dari hari ke 7-10. Nanti akan ada instruksi dari sistem tersebut.

Salah seorang yang sudah menjadi Manager Rubby tapi ingin namanya disamarkan menyampaikan jika sudah menjadi member dan melengkapi semua pembayaran tersebut. Member akan berhak mendapatkan bonus pasif (duduk diam dapat duit). Angkanya sebesar 1% per hari dan dibayarkan per 15 hari. Jika pasang Rp10 juta maka bonus pasif per 15 hari adalah 1,5 juta.

Tapi jika menjadi member yang aktif, bonus yang dihasilkan akan lebih besar lagi. Dari setiap rekrutan (downline) seorang member akan mendapatkan 10% dari paket yang dipilih oleh si downline. Bonus tersebut diperoleh sebanyak 14 kali atau selama 7 bulan. Artinya semakin banyak yang direkrut akan semakin banyak pula bonus yang dihasilkan.

Tak hanya itu sebenarnya, ada berbagai macam bonus lainnya yang ditawarkan D4F. Diantaranya: bonus riferral, bonus matching dan bonus manager. Di D4F sendiri ada 5 jenis manager. Pertama manager rubby, yakni manager yang punya downline kiri dan kanan masing-masing senilai Rp100 juta. Bonus untuk tingkatan ini Rp5 juta per bulan.

Kedua, manager sapphire yakni punya kiri-kanan Rp1 miliar. Bonus prestasinya Rp 15 juta per bulan. Ketiga, manager numeral yakni punya downline kiri-kanan Rp10 miliar dengan bonus prestasi Rp30 juta per bulan. Keempat, manager diamond yakni punya downline kiri-kanan Rp100 miliar dengan bonus prestasi mencapai Rp100 juta per bulan. Terakhir, manager crown dengan downline kiri dan kanan masing-masing sebesar Rp1 triliun. Bonusnya mencapai Rp500 juta per bulan.

Cukup menggiurkan bukan? Sebenarnya masih banyak lagi keuntungan yang ditawarkan oleh komunitas yang diluncurkan pada awal 2015 ini. Pasalnya, D4F ini adalah anak perusahaan dari PT Promonesia Indonesia yang punya banyak sekali bisnis seperti RBT, portal iklan, jual tiket pesawat, token listrik, PDAM, layanan umroh, dan lain sebagainya.

“Karena itu wajar jika OJK bilang D4F tidak punya izin karena izinnya kan ada di Promonesia, D4F ini hanya bagian kecil,” jelas sumber BE.

Sumber BE ini sendiri awalnya sempat tidak percaya dengan bonus-bonus tersebut. Bahkan ia masuk dengan modal pinjamandari teman senilai Rp.5 juta. Uang tersebut ditanam di D4F. Saat ini, ia telah mempunyai setidaknya 60 downline.

“Keuntungannya cukup besar. Yang jelas modal sudah balik. Sudah ada puluhan juta untung. Kalau Rp5 juta sebulan itu pasti,” ujarnya.

Disampaikan oleh Kasubbag Pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bengkulu Bismi Maulana Nugraha nilai bonus dan keuntungan yang terbilang besar inilah yang menjadi salah satu alasan masyarakat kepincut masuk D4F. Di sisi lain, kondisi perekomonian memang sedang sulit membuat banyak masyarakat gelap mata. Hal ini bisa dilihat dari banyaknya pengangguran.

Tak hanya itu, lanjutnya, tingkat literasi masyarakat akan produk dan jasa keuangan juga masih minim. Misalnya dalam teori investasi high risk akan berbanding lurus dengan high return atau keuntungan yang besar akan berbanding lurus dengan resiko yang besar pula.

“Tidak ada high return tapi resikonya kecil,” jelas Bismi ditemui di kantonya, kemarin (2/12).

Terkait dengan D4F ini, Bismi mengatakan OJK akan melakukan 2 upaya, yakni preventif dan represif. Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan Satgas waspada investasi untuk melakukan penyelidikan. Dari kepolisian juga sudah melakukan tindakan. Tujuannya untuk menelisik beberapa kejanggalan pada bisnis tersebut.

Lebih lanjut Bismi menyampaikan, dari sisi legalitas, D4F tidak memiliki izin dari OJK. Alasannya, pertama karena pihak D4F tidak mengajukan izin tersebut. Yang kedua, karena karakteristik investasi yang dijalankan tidak sesuai karakteristiknya dengan lembaga investasi yang dinaungi oleh OJK.

“Misalnya Bank, dia punya kredit, punya produk dan lainnya. Sementara D4F ini tidak ada alurnya dan hanya melakukan penghimpunan dana saja,” jelasnya.

Lalu bagaimana dengan beberapa kerja yang dilakukan oleh komunitas D4F? Bismi mengakui di dalam web komunitas yang berdiri sejak 2013 ini, ada jalinan kerjasama dengan promonesia. Namun, ia menyangsikan kerjasama tersebut.

“Kami belum punya bukti, apakah semua dana yang terhimpun tersebut dicurahkan kesana (promonesia-red) atau bentuk kerjasamanya bagaimana,” imbuhnya.

Bismi juga menyampaikan beberapa alasan lain dari OJK tidak menelurkan izin lantaran tidak dilaporkannya atau tidak dipublishnya pengelolaan keuangan komunitas tersebut. Selain itu, tidak ada audit atas keuangan D4F oleh lembaga yang berwenang.

“Karakteristiknya persis money game,” ujarnya.

Lebin lanjut, ia merinci ada beberapa karakteristik jenis investasi yang harus diwaspadai oleh masyarakat. Diantaranya: menjanjikan manfaat investasi (keuntungan) besar/tidak wajar; tidak ditawarkan melalui lembaga penyiaran (TV dan Radio) namun melalui internet, tidak jelas domisili usaha dan tidak dapat berinteraksi secara fisik; bersifat berantai ‘member get member; dana masyarakat yang dikelola kembali pada proyek di luar negeri.
Selanjutnya, menggunakan public figure; menjanjikan bonus barang mewah dan perjalanan ke luar negeri; mengkaitkan antara investasi dengan ibadah; memberi kesan seolah bebas risiko; memberi kesan seolah-olah dijami atau berafiliasi dengan perusahaan besar; dan tidak memiliki iizin usaha atau memiliki izin usaha tetapi tidak sesuai dengan kegiatan usaha yang dilakukan.

“Berdasarkan pengalaman sebelumnya kegiatan penawaran investasi yang memiliki karakter seperti itu banyak berakhir dengan kerugian,” jeals Bismi.

Dalam kesempatan itu, karena D4F ini tidak memiliki izin, Bismi mengimbau agar masyarakat yang mengalami kerugian atau permasalahan bisa melaporkan pada aparat penegak hukum (polisi). Dia pun meminta partisipasi aktif masyarakat dan regulator lain untuk meminimalisir kerugian masyarakat.

“Salah satu langkah efektif untuk melakukan pencegahan tersebut adalah dengan melakukan pemblokiran atas alamat situs internet yang digunakan untuk menawarkan produk yang diduga dapat menimbulkan kerugian kepada masyarakat secara masif,” pungkasnya. (**)