Bongkar Muat di Pulau Tikus Dibuka Lagi?

BENGKULU, BE – Transhipment bongkar muat batu bara di sekitar Pulau Tikus akan dibuka lagi.   Jika dalam penelitia yang dilakukan LIPI, kerusakan Pulau Tikus bukan akibat dari aktivitas bongkar muat batu bara tersebut.  Sebab, hasil penelian LIPI untuk tahap pertama menyatakan jika kerusakan terumbu karang Pulau Tikus bukan semata akibat bongkar muat batu bara saja, melainkan juga dipengaruhi oleh faktor alam.

“Kita akan melanjutkan penelitian, untuk melihat dampak bongkar muat kapal batu bara di sekitar Pulau Tikus,” ujar Asisten II Setda Pemprov Ir Nahsyah MT MM, kemarin.

Nahsyah mengatakan, LIPI menyebutkan terdapat  beragam penyebab kerusakan ekosistem Pulau Tikus. Hasil penelitian tahap pertama, kerusakan ekosistem tidak semata akibat transit atau bongkar muat batu bara. “Tapi faktor alam menurutnya juga berperan seperti akibat hempasan gelombang dan arus laut, sehingga terjadi abrasi,” katanya.

Sebelumnya, enam orang peneliti LIPI melakukan pengamatan terhadap perairan Pulau Tikus sejak November 2012. Pengamatan terhadap terumbu karang dan pengambilan sampel pasir, air dan karang dilakukan dengan menyelam ke dasar perairan itu.  Para pakar kelautan dan kimia dari LIPI menetapkan 10 titik pengamatan dan pengambilan sampel untuk mengetahui kondisi ekosistem Pulau Tikus.

“Tujuan utamanya (penelitian) untuk mengetahui kondisi ekosistem terutama terumbu karang perairan Pulau Tikus akibat berbagai aktivitas, terutama bongkar muat batu bara,” ujarnya.

Sebelumnya, transhipment bongkar muat batu bara di Pulau Tikus ditutup akibat desakan masyarakat yang karena dinilai mengancam terumbu karang Pulau Tikus. Padahal kapal-kapal dengan bobot diatas 60.000 ton mengaku tidak bisa masuk ke dermaga pelabuhan Pulau Baai, karena kedalaman sekitar 11 meter LWS. (100)