Bocah Kepala Mengecil Butuh Bantuan

Melihat Dhea Lorena Penderita Microcephalus

BOKS (2)DHEA Lorena (7), putri pasangan Bambang Irawan (30) dan Meri Sukarni (27) warga Desa Padang Pelawi Kecamatan Sukaraja, Seluma menderita penyakit kepala mengecil. Ia terserang komplikasi ‘microcephalus’ dan sederet infeksi lainnya. Bocah ini hanya bisa merintih kesakitan dan Sulit mengkonsumsi makanan dan air putih. Bagaimana penderitaannya? Berikut laporan wartawan Bengkulu Ekspress.
====================================================================
JEPRIANTO,

Seluma
====================================================================
SELAIN ‘microcephalus’, Dhea juga menderita infeksi paru-paru, infeksi organ pencernaan  dan radang tenggorokan. Parahnya lagi, saat ini cairan yang keluar dari tenggorkan  menyumbat kerongkongan dan paru-parunya sehingga susah untuk menghirup oksigen untuk bernafas. Untuk mengobati penyakitnya, kedua orang tuanya tak memiliki uang yang cukup, karena hanya bekerja sebagai buruh harian.
Dhea menderita penyakit tersebut sejak berusia 3 tahun. Ketika itu ia telah divonis mengidap penyakit komplikasi. Sehingga hari demi hari yang dilaluinya hanya bisa merintih kesakitan ketika bernafas. Nafas demi nafasnya pun terlihat sangat menyiksanya, karena ia terlihat sesak. Bahkan ia harus mendongakkan kepala agar dapat bernafas. Sebenarnya, kini sudah ada penanganan medis yang mengobati penyakitnya, tapi ia perlu dirawat di rumah sakit.
Sejak 4 tahun berlalu, selain kepala, tubuh anak perempuan ini terus mengecil, sehingga tinggal kulit yang membalut tulang. Tapi di sisi lain, perutnya terus membesar. Selain itu lagi, pertumbuhan tulang tubuhnya tidak lurus seperti anak biasa, melainkan membengkok. “Apapun kami akan lakukan, namun kondisi kehidupan kami yang morat-marit membuat kami tidak punya biaya pengobatan. Kami harus meminjam uang dengan kerabat dan tetangga. Sekarang ini tidak terhitung lagi sudah berapa hutang kami,” keluh Meri Sukarni dennga meneteskan air mata, ketika dikunjungi BE di rumahnya, kemarin.
Diceritakannya, Dinas Sosial Seluma pernah memberi bantuan kepada anaknya. Namun bantuan tersebut beluml cukup, mengingat biaya pengobatan sangat mahal. Meski sudah mengantongi Jamkesda, dirinya dan suami tidak dapat berbuat banyak, mengingat beberapa jenis obat tidak dijamin Jamkesda.
“Sebebarnya kami malu mengharapkan belaskasihan orang. Tapi kami membutuhkan bantuan dan uluran tanggan, tidak terkecuali pembaca koran Bengkulu Ekspress,” tutur ibu kandung Dhea itu berharap. (**)