Bocah Biayai Sekolah Sendiri

CURUP, BE- Jika saat ini kita hidup serba berkecukupan, maka bersyukurlan dengan menyebut nama Allah SWT dengan penuh kerendahan hati. Karena di sekitar kita, ternyata masih ada orang yang hidup dengan kondisi yang serba kekurangan. Seperti yang dialami dua siswa Madrasah Ibtidaiyah GUPPI Talang Rimbo Baru Curup Tengah, Medo (12) dan Lian (9) warga Gang Belimbing Talang Rimbo Baru Curup Tengah. Masih menggunakan pakaian sekolah, Sabtu (11/2) lalu mereka berkeliling dari kantor ke kantor untuk menawarkan jasa semir sepatu yang sudah dua tahun digelutinya. Dua sekawan yang masih memiliki hubungan keluarga itu, terlihat mengeluarkan peralatan semir sepatu berupa sikat gigi bekas, kain bekas serta semir sepatu dari kotak semir yang terbuat dari triplek.
Dengan pelan ia mulai menggosok sepasang sepatu kulit dari pelanggan yang meminta jasanya. Tidak banyak bicara, mereka mulai bekerja. Kepala Lian tampak bergerak ke kiri dan kekanan untuk melihat dengan teliti setiap sudut sepatu kulit, agarbenar-benar bersih dan memuaskan pelanggan. Usai bekerja, mereka menyerahkan hasil karyanya kepada pelanggan. Hasil karya menyemir sepasang sepatu itu dihargai Rp 2 ribu rupiah. “Dalam sehari, kami bisa mengumpulkan uang Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu, habis itu kami pulang.” terangnya.┬áKedua anak itu memiliki langsung pergi menyemir sepatu sepulang sekolah. Karena aktifitas kantor masih ramai, terutama pada jam-jam istirahat PNS. Uang sebesar Rp 2 ribu bagi sebagian orang mungkin tidak ada artinya, namun bagi anak-anak ini uang itulah yang menjadi biaya untuk memenuhi kebutuhan sekolahnya. Hasil upah semir tersebut itulah ternyata bukan hanya untuk membiayai sekolahnya, sebagian hasil menyemir sepatu ditabung dan sebagian diberikan pada orang tua untuk kebutuhan makan. Dan jika ada tambahan uang makan akan dimanfaatkan untuk uang jajan di sekolah. Kedua sahabt itu mengaku tidak malu menekuni profesi tersebut, meski cukup banyak anak-anak seusianya hidup dengan serba kecukupan. Bagi mereka penghasilan tersebut merupakan penghasilan halal dan berkah. “Ya saya bekerja ini untuk membantu orang tua saya, Bapak saya kuli bangunan dan ibu tukang cuci baju yang gajinya tidak seberapa,”kata Medo. Anak-anak itu berharap, dengan pekerjaan tersebut, dirinya bisa melanjutkan sekolah untuk mengejar cita-citanya. “Pengen saya tetap terus sekolah yang tinggi, biar nanti biasa menyenangkan orang tua,” harapnya. (999)

  • septa priambodo 24 April 2012 at 07:51

    gerakan untuk menyumbangan buku baru atau buku bekas mungkin bisa meringankan beban mereka untuk bersekolah.