BNPB Ingatkan Bencana Geologi Masih Mengancam

JAKARTA – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan untuk tidak lengah dengan ancaman bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami dan erupsi gunung api. Sebab, bencana itu bisa terjadi kapan dan dimana saja.

“Bencana geologi, khususnya gempa dan tsunami  bersifat mendadak. Bisa kapan saja terjadi di daerah rawan,” imbau Juru Bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Kamis (1/1).

Dijelaskan Sutopo, ada 386 kabupaten kota dengan jumlah penduduk 157 juta jiwa yang terpapar sedang-tinggi dari bahaya gempa di Indonesia. Untuk tsunami ada 233 kabupaten kota dengan penduduk lima juta jiwa yang terpapar sedang-tinggi dari bahaya tsunami. “Untuk itu jangan lengah, ancaman bisa terjadi kapan saja,” tegasnya.

Dia menjelaskan lagi, memang selama 2014, kejadian bencana geologi yaitu gempabumi, tsunami dan erupsi gunung api hanya 1 persen atau 18 kejadian dari total 1.525 kejadian bencana. Sedangkan 99 persen adalah bencana hirometeorologi seperti puting beliung, banjir, longsor, karhutla, dan kekeringan.

Erupsi gunung api tercatat ada lima kejadian yaitu erupsi Gungung Sinabung (13/9/2013)  hingga sekarang), Gunung Kelud (13/2/2014), Gunung Sangeangapi (30/5/2014), Gunung Slamet (13/9/2014), dan Gunung Gamalama (18/12/2014).

“Total 24 orang tewas, 128.167 jiwa mengungsi, dan 17.833 rumah rusak,” katanya.

Bahkan erupsi Gunung Sinabung, saat ini masih menyebabkan 2.443 jiwa atau 795 kepala keluarga mengungsi di tujuh titik.

Sebanyak 1.212 jiwa atau 370 KK harus direlokasi dalam waktu dekat ini. Erupsi Gunung Kelud adalah yang fenomenal. Material dilontarkan ke angkasa hingga 17 kilometer. Tujuh korban tewas, sekitar 90 ribu orang mengungsi dan 17 ribu lebih rumah rusak.

“Mengingat masyarakat sekitar Gunung Kelud sudah tangguh menghadapi bencana, dan memaknai erupsi sebagai warisan masa depan, maka pemulihan berjalan dengan cepat,” paparnya.

Kejadian gempa merusak ada 11 kejadian yang menyebabkan 248 orang mengungsi dan 662 rumah rusak. Gempa bumi terjadi antara lain di Jateng (25/1/2014) berakibat di Banyumas, Cilacap, Kebumen dan Purworejo.

Tsunami ada dua yaitu tsunami dari gempa di Chile (2/4/2014) dan gempa 7,3 SR di Halmahera Utara pada (15/11/2014).

“Meskipun tsunami kecil, namun ancaman ini juga menjadi pelajaran bagi kita bahwa tingkat kesiapsiagaan masyarakat dan pemda dalam menghadapi tsunami masih rendah,” pungkasnya. (boy/jpnn)