BNI Perkuat Layanan Currency Swap Dengan Garuda Indonesia

Logo BNI.2

JAKARTA, BE – Ini untuk kedua kalinya, BNI dengan Garuda Indonesia menandatangani kesepakatan kerja sama layanan lindung nilai (hedging) dalam bentuk Crooss Currency Swap (CCS). Dengan ini BNI telah membangun infrastruktur dan tim yang siap untuk melakukan transaksi lindung nilai dengan BUMN, dan menjadi layanan untuk menghindari ataupun mengurangi resiko melonjaknya biaya operasional akibat fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap mata uang asing. Kesepakatan kerjasama ini diresmikan melalui penandatanganan kerjasama lindung nilai antara BNI dengan Garuda bersama dua Bank lainnya di Jakarta, senin (02/02/2015).

Direktur utama BNI Gatot M Suwondo mengatakan,” BNI saat ini menjadi satu-satunya Bank pemerintah yang dapat memberikan solusi keuangan yang konfherenshif untuk nasabahnya, terutama untuk solusi Lindung nilai. Dalam kesepakatan kali ini, PT Garuda Indonesia (persero) Tbk bertransaksi lindung nilai (hedging) dengan menggunakan instrument cross currency swap (CCS) senilai Rp. 250 miliar dalam jangka waktu 3,5 tahun, dan akan berakhir pada tanggal 5 juli 2018 sesuai dengan berakhirnya obligasi rupiah Garuda Indonesia.

Kerja sama ini juga merupakan bentuk komitmen BNI mendukung program atau ketentuan yang diterbitkan oleh pemerintah dalam mensinergikan BUMN, seperti yang tertuang dalam peraturan Menteri BUMN No.PER-09/MBU /2013 tentang kebijakan umum Trasnsaksi lindung nilai yang dilakukan melalui BUMN,” Ujar Gatot”.

Dalam mengantisipasi resiko munculnya krisis utang korporasi non Bank karena ketidakpastian pasar, Bank Indonesia telah menerbitkan peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 16/21/PBI/2014 dan SEBI 16/24/DKEM tentang penerapan prinsip kehati-hatian dalam mengelola utang luar negri Korporasi Non Bank dengan harus memenuhi tiga pokok pengaturan, yaitu Rasio Lindung Nilai, Rasio likuiditas, dan Peringkat utang.

Layanan lindung nilai ini akan menjadi sangat menarik bagi pelaku usaha saat ini karena mata uang Rupiah merupakan salah satu mata uang dengan fluktuasi (volatile) paling tinggi di asia sepanjang tahun 2014. Dan diperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah ini masih akan cendrung berfluktasi karena terimbas pengaruh dolar AS yang masih mendominasi Rupiah diawal tahun 2015. Direktur Tresuri dan fI BNI, Suwoko Singoastro mengatakan,” dalam rangka mendukung langkah BI dan pemerintah, BNI telah membangun infrastruktur dan tim yang siap untuk melakukan transaksi lindung nilai dengan BUMN, melalui upaya BNI tersebut diharapkan dapat mengurangi resiko melonjaknya biaya operasional karena fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. (Rls/Andri)